http://www.tniad.mil.id/news.php?id=3437

*BATALYON INFANTERI 725/WOROAGI SIAP MENGAMANKAN PERBATASAN NKRI-PAPUA
NUGINI*


Daerah yang paling rawan konflik antar negara berada pada wilayah
perbatasan. Acapkali permasalahan muncul dari sebuah aksi saling klaim
kekuasaan dalam menentukan batas negara. Bahkan, wilayah perbatasan sangat
potensial menciptakan gerakan separatis politis yang bisa merongrong NKRI.
Untuk itu, Batalyon Infanteri 725/Woroagi, Sultra menyiapkan 650 pasukan
yang tergabung dalam satuan tugas (Satgas) pengamanan perbatasan (Pamtas)
NKRI-Papua Nugini. Batalyon Infanteri 725/Woroagi telah menuntaskan latihan
pratugas dan kini menunggu instruksi pemberangkatan dari Mabes TNI. Komandan
Yonif (Dan Yon) 725/Woroagi, Letkol Inf Emir Z Mokodompis mengungkapkan,
pemberangkatan Satgas Yonif 725/Woroagi dijadwalkan Minggu ke-3 Agustus
2008.

Operasi Pamtas NKRI-Papua Nugini (PNG) digelar dalam mengantisipasi adanya
Gerakan Separatis Politik (GSP) di daerah Arso, Kota Papua Nugini. "Daerah
perbatasan negara cukup rawan dengan gerakan separatis politik. Dalam
operasi Pamtas Agustus mendatang, 650 personel Yonif 725/Woroagi sudah siap
tempur. Kami tinggal menunggu jadwal Mabes TNI untuk kepastian
pemberangkatan. Pengiriman personel Batalyon Infanteri 725/Woroagi
dijadwalkan sampai 6 bulan, bahkan bisa mencapai sekitar satu tahun baru
kembali ke Kendari," ujar Letkol Inf Emir Z Mokodompis, saat ditemui di
sela-sela penutupan latihan pratugas Pamtas NKRI-PNG di Markas Yonif
725/Woroagi, Rabu (24/7).

Untuk mempermantap persiapan, pasukan yang akan dikirim melakukan latihan
dalam 3 tahapan. Tahapan pertama merupakan latihan teknis yang dilaksanakan
selama satu bulan. Materi latihan meliputi intel (teknik mendeteksi lawan),
tempur (strategi menyerang) dan pembinaan teritorial (membangun hubungan
kerja sama dengan masyarakat). "Pada tahapan kedua mempunyai materi yang
sama tapi latihannya lebih diintensifkan. Tahapan lanjutan itu dilaksanakan
selama 2 minggu dengan mengambil lokasi di sekitar Markas Yonif
725/Woroagi," jelasnya. Tahap terakhir pratugas Pamtas NKRI-PNG dilaksanakan
di Desa Lameuru, Desa Opoasih, dan Desa Lakuidona Kecamatan Ranomeeto,
Konsel selama sepekan (tanggal 16-22 Juli 2008). Mereka melakukan drill
tempur (uji coba dan aplikasi hasil latihan) dengan melakukan pengepungan
dan penggeladahan rumah warga.

Dantonkom Yonif 725 Woroagi, Letda Chb Albert Lengkoan menambahkan,
pematangan persiapan pratugas dilakukan untuk mempermantap patroli keamanan
(Patkam), patroli penghadangan (Patdang), perlawanan penghadangan kendaraan
(Wandangran), serta pengepungan dan penggeledahan rumah (Pungdahmah).
"Simulasi Pungdahmah dilakukan dengan mengambil objek rumah warga. Operasi
dilakukan secara serius, seakan betul-betul ada pelaku GSP bersembunyi dalam
rumah itu," paparnya.

Penutupan latihan pratugas Satgas Pamtas NKRI-PNG Yonif 725/Woroagi dipimpin
Danrindam VII/Wirabuana, Kolonel Inf Robert L. Pemberangkatan Satgas Yonif
725/Woroagi akan dikomando langsung oleh Dan Yon 725/Woroagi, Letkol Inf
Emir Z Mokodompis bersama Wakil Dan Yon, Kapten Inf Salim, Pasi Intel, Lettu
Inf Salimin, Dantonkes, Letda Ckm Edy S, Dokter Batalyon, Lettu Ckm Ibrahim
serta Dankestaf. Mandat pimpinan tertinggi di Yonif 725/Woroagi nantinya
akan diserahkan kepada Kepala Komando Rumah (Kakorum), Kapten Inf Dikson. (
www.kendaripos.co.id)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke