http://www.antara.co.id/arc/2008/7/21/manusia-jawa-purba-pernah-mendiami-eropa/


*Manusia Jawa Purba Pernah Mendiami Eropa*


Hanover, Jerman (ANTARA News/dpa) - Pecahan tulang tengkorak yang ditemukan
di sebuah tambang Jerman ternyata berasal dari Manusia Jawa, manusia purba
yang sebelumnya diyakini merupakan penduduk asli Asia, sehingga memicu
spekulasi bahwa manusia purba Asia pernah menjajah Eropa.

Alfred Czarnetzki, seorang profesor di Universitas Tuebingen, mengumumkan
Kamis lalu bahwa kerangka tersebut, yang ditemukan pada 2002, "usianya
paling tidak 700.00 tahun" dan begitu mirip Manusia Jawa "sehingga boleh
jadi merupakan kembarannya".

Tulang tengkorak itu berasal dari spesies Homo erectus, di mana manusia
modern dikenal sebagai Homo sapiens, yakni manusia yang sudah berbudaya.

Manusia Jawa adalah nama yang diberikan kepada fosil yang ditemukan pada
1891 di Trinil, tepian Bengawan Solo. Fosil ini merupakan salah satu
spesimen Homo erectus atau manusia purba berjalan tegak yang paling pertama
dikenal.

Penemunya, Eugene Dubois, memberikan nama ilmiah Pithecanthropus erectus,
sebuah nama yang berasal dari akar Yunani dan Latin yang berarti manusia
kera berjalan tegak.

Karl-Werner Frangenberg, seorang pemburu fosil, menemukan bagian atas
tengkorak pada 2002 di sebuah lubang batu di Leinetal dekat Hanover.
Istrinya, yang memiliki hobi sama, menemukan bagian pelipis dua tahun
kemudian.


Sama dengan fosil Trinil

Tulang belulang itu, yang kini diyakini merupakan kerangka manusia tertua
yang pernah ditemukan di Jerman, saat ini dipamerkan di Museum Hanover.

Kerangka tertua Jerman sebelumnya adalah spesies lain, yakni Homo
heidelbergensis, yang ditemukan pada 1907 dan berusia sekitar 600.000 tahun.

Czarnetzki mengakui kesulitan mengukur usia fosil secara tepat, namun
dirinya merasa yakin dengan kesamaan pada penemuan fosil manusia purba di
Jawa pada 1891.

"Penemuan ini mengindikasikan bahwa manusia purba Asia pernah menyebar ke
Eropa," katanya, seraya menambahkan artikelnya mengenai penemuan tersebut
telah diakui Journal of Human Evolution dan akan segera diterbitkan.

Ia mengemukakan tak ditemukan DNA dalam pecahan tulang itu, namun ada jejak
protein. (*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke