http://www.kompas.com/read/xml/2008/07/27/14212334/skizofrenia.penanganan.dini.menentukan

*Skizofrenia, Penanganan Dini Menentukan*

GANGGUAN jiwa dapat terjadi kapan saja, terhadap siapa saja, dari yang
paling ringan sampai yang sangat parah. Dr Gerald Mario Semen SpKj dari
Rumah Sakit Jiwa Dr Soeharto Heerjan di Jakarta mengatakan, tak seorang pun
dapat mengatakan dirinya tak pernah mengalami gangguan kejiwaan.

"Kalau banyak pekerjaan lalu enggak bisa tidur atau deg-degan kalau suami
pulang terlambat, itu sudah merupakan gangguan kejiwaan ringan," ujar dr
Mario.

Gangguan kejiwaan merupakan masalah besar dan sangat kompleks penyebabnya.
"Gangguan jiwa seperti skizofrenia hanya bagian kecil dari gangguan jiwa,
hanya satu per mil. Sementara gangguan jiwa seperti depresi sampai 15
persen," kata dia.

Gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia, bersifat kronis, jangka panjang,
sebagian besar diderita seumur hidup dan kambuhan.

"Seperti diabetes. Sekali orang divonis kena diabetes, seumur hidup ia harus
hidup dengan penyakit itu, harus terus menjaga supaya kadar gula dalam darah
tidak naik. Skizofrenia juga demikian. Bedanya, diabetes biasanya diderita
oleh yang berusia di atas 50 tahun, sedangkan skizofrenia bisa diderita
bahkan pada akil balik, oleh berbagai sebab," kata dia.

Sayangnya, lanjut dr Mario, psikiater berada di urutan ke-10 dalam upaya
penyembuhan. Di urutan awal termasuk dukun. "Biasanya baru dibawa ke dokter
setelah satu-dua tahun dibawa berobat ke mana-mana, jadi sudah parah,"
sambung dia.

Mendidik masyarakat

Menurut dr Mario, yang didampingi Ketua Komite Medik dr Evalina Asnawi SpKJ
dan Direktur RSJ Dr Soeharto Heerjan dr Ratna Mardiati SpKJ, penanganan dini
sangat menentukan. Kalau ditangani sejak dini, bisa sampai 10 tahun tak
kambuh meski memang harus rajin minum obat. Keluarga harus sadar, penderita
skizofrenia harus terus minum obat.

"Memang tak bisa dimungkiri, ada gangguan jiwa yang cenderung memburuk,
seperti hebefrenik, jenis tertentu dari skizofrenia," tambah dr Ratna.

Masyarakat seharusnya dididik agar mengetahui gejala gangguan jiwa. "Gejala
paling sederhana adalah yang bersangkutan tak mau bersosialisasi, tak
berproduksi. Kalau anak umur 17 tahun tiba-tiba maunya mengurung diri di
kamar terus atau di depan TV terus, ini tanda-tanda yang tak boleh
diabaikan," lanjutnya.

Pendekatan terhadap penderita skizofrenia tak hanya pengobatan, tetapi juga
edukasi menyeluruh; tak hanya pada pasien, tetapi seluruh anggota keluarga
dan lingkungan. "Akhir dari pengobatan adalah membangun kesadaran bahwa ia
sakit dan butuh pengobatan," ujar dr Mario. "Itulah penerimaan diri,
menerima cacat kita, seperti dalam film Beautiful Mind." (MH/IND)


Sumber : Kompas Cetak


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke