http://www.kompas.com/read/xml/2008/07/27/17173520/paprika.bikin.sperma.agresif

*Paprika Bikin Sperma Agresif*

SELAIN sebagai bahan sayuran atau bumbu masak, paprika ternyata kaya vitamin
C, bahkan kandungannya lebih tinggi dari jeruk. Paparika juga banyak
mengandung zat gizi dan dapat mencegah kanker, penyakit jantung koroner
(PJK), stroke, diabetes melitus, dan mampu meningkatkan kualitas sperma.

Mendengar kata cabai, semua orang pasti langsung membayangkan sensasi rasa
pedas di mulut. Namun, pernahkah Anda membayangkan cabai yang rasanya manis?
Anda tidak perlu terheran-heran karena jenis cabai tersebut ada di sekitar
Anda. Cabai yang dimaksud adalah paprika, si manis pedas.

Paprika (Capsicum annuum) adalah sejenis cabai yang berasa manis dan sedikit
pedas. Paprika berasal dari famili Solanaceae. Bentuknya unik, yaitu besar
dan gendut seperti buah kesemek. Cabai ini sering digunakan sebagai bumbu
masakan atau bahan sayuran. Berbeda dengan cabai biasa, biji paprika
biasanya tidak dimakan.

Tanaman paprika cocok tumbuh di berbagai iklim dan dapat tumbuh di berbagai
belahan dunia. Paprika berasal dari Amerika Selatan dan banyak dikembangkan
di Hungaria. Di Indonesia, paprika cukup dikenal. Paprika banyak
dikembangkan secara hidroponik di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat.
Berdasarkan warnanya, paprika dibedakan atas paprika hijau, paprika merah,
dan paprika kuning. Berdasarkan rasanya, paprika dibedakan atas dua jenis,
yaitu paprika manis yang bentuknya besar dan paprika pedas yang bentuknya
lebih kecil.

Tinggi Vitamin C
Dibandingkan dengan cabai lain, paprika termasuk istimewa karena mengandung
gizi yang sangat tinggi, terutama vitamin C. Kandungan vitamin C pada
paprika jauh lebih tinggi daripada jeruk yang selama ini dikenal sebagai
sumber vitamin C.

Setiap 100 gram paprika merah mengandung 190 mg vitamin C, tertinggi di
antara jenis paprika lainnya. Sebaliknya, 100 gram jeruk hanya mengandung
30-50 mg vitamin C. Vitamin C dikenal sebagai senyawa yang dibutuhkan tubuh
dalam berbagai proses penting, mulai dari pembuatan kolagen (protein
berserat yang membentuk jaringan ikat pada tulang), pengangkut lemak,
pengangkut elekton dari berbagai reaksi enzimatik, pemacu gusi yang sehat,
pengatur tingkat kolesterol, serta pemacu imunitas.

Selain itu, vitamin C sangat diperlukan tubuh untuk penyembuhan luka dan
meningkatkan fungsi otak agar dapat bekerja maksimal. Kebutuhan tubuh akan
vitamin C adalah 75 mg per hari untuk wanita dewasa dan 90 mg per hari untuk
pria dewasa. Batas maksimum konsumsi vitamin C adalah 1.000 mg per hari.
Paprika juga kaya akan vitamin A dan betakaroten. Pada paprika merah
mengandung 3.131 IU vitamin A, tertinggi dibandingakan jenis paprika
lainnya. Vitamin A sangat diperlukan tubuh untuk mencegah penyakit mata,
pertumbuhan sel, sistem kekebalan tubuh, reproduksi, serta menjaga kesehatan
kulit.

Betakaroten adalah jenis antioksidan yang dapat berperan penting dalam
mengurangi konsentrasi radikal peroksil. Kemampuan betakaroten bekerja
sebagai antioksidan berasal dari kesanggupannya menstabilkan radikal berinti
karbon. Karena betakaroten efektif pada konsentrasi rendah oksigen,
betakaroten dapat melengkapi sifat antioksidan vitamin E yang efektif pada
konsentrasi tinggi oksigen.

Betakaroten juga dikenal sebagai unsur pencegah kanker, khususnya kanker
kulit dan paru. Beta karoten dapat menjangkau lebih banyak bagian-bagian
tubuh dalam waktu relatif lebih lama dibandingkan vitamin A, sehingga
memberikan perlindungan lebih optimal terhadap munculnya kanker.

The George Mateljan Foundation (2006) menyatakan bahwa kandungan vitamin B6
pada paprika termasuk kategori excellent. Hal itu disebabkan paprika
mengandung vitamin B6 dengan tingkat densitas tinggi.

Vitamin B6 penting bagi otak untuk berfungsi normal, membantu membentuk
protein, hormon, dan sel darah merah. Sebagian besar kandungan betakaroten
paprika terkonsentrasi pada bagian di dekat kulit. Sama seperti sayuran
lainnya, semakin tua warna paprika, betakaroten di dalamnya semakin banyak.

Antikanker
Kandungan vitamin B6 dan asam folat pada paprika sangat baik untuk mencegah
aterosklerosis dan penyakit diabetes. Kedua vitamin tersebut sangat
diperlukan tubuh untuk mereduksi kadar homosistein. Homosistein dihasilkan
dari siklus metilasi di dalam tubuh.

Homosistein sangat berbahaya bagi tubuh karena dapat mengganggu sirkulasi
darah dan memicu penyakit mematikan seperti jantung dan stroke. Paprika juga
kaya akan serat (dietary fiber) yang akan membantu menekan angka kolesterol
di dalam tubuh dan mencegah terjadinya kanker kolon.

Pada paprika merah, terdapat likopen yang cukup tinggi. Likopen merupakan
pigmen karotenoid yang membawa warna merah. Pigmen ini termasuk ke dalam
golongan senyawa fitokimia yang mudah ditemui pada buah-buahan yang berwarna
merah seperti paprika. Likopen dikenal dengan berbagai manfaat seperti
antikanker.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Universitas Yale pada 473 orang pria
menemukan fakta bahwa pria yang bebas kanker prostat memiliki lebih banyak
likopen dalam darahnya dibanding mereka yang sakit. Penelitian yang sama
juga pernah dilakukan oleh Universitas Harvard pada tahun 2002, membuktikan
bahwa laki-laki yang mengonsumsi likopen dalam jumlah banyak memiliki risiko
penyakit kanker lebih rendah, khususnya kanker prostat.

Selain kanker prostat, konsumsi likopen juga dapat mereduksi berbagai jenis
kanker lain. Sebuah studi di Iran seperti yang dilaporkan oleh Cook et al
(1979) menunjukkan bahwa konsumsi likopen dapat mereduksi 39 persen kanker
esofagal pada laki-laki.

De Vet HC et al (1991) melaporkan bahwa wanita yang mengonsumsi tomat
minimal tiga buah dalam seminggu memiliki risiko terkena kanker tulang
tengkuk 40 persen lebih rendah daripada mereka yang tidak mengonsumsinya.
Helzlsouer et al (1996) melaporkan bahwa konsumsi likopen dapat mereduksi
7,4 persen risiko kanker rahim.

Likopen juga dilaporkan dapat mengatasi kanker lambung yang disebabkan
infeksi Helicobacter pylori. Kehadiran likopen sangat bermanfaat untuk
menghmbat oksidasi yang disebabkan oleh bakteri tersebut. Menurut Atanasova
(1997), likopen juga dapat menghambat pembentukan N-nitrosamins yang dapat
menyebabkan kanker perut.

Paprika juga merupakan antioksidan yang baik. Giovannucci (1999) melaporkan
struktur likopen sangat berpotensial sebagai antioksidan. Tidak adanya
struktur ring betaione menyebabkan likopen mempunyai aktivitas antoksidan
yang sangat baik.

Struktur stereokimia pada likopen berbeda dengan jenis karoteniod lainnya.
Struktur likopen tidak dapat dikonversi menjadi vitamin A dan diketahui
lebih efisien dalam menangkap radikal bebas dibandingkan karotenoid lain.

Likopen juga diketahui mempunyai aktivitas antioksidan dua kali lebih kuat
daripada betakaroten dan sepuluh kali lipat lebih kuat daripada vitamin E.
Jadi, reaksi likopen sebagai antioksidan di dalam tubuh lebih baik daripada
vitamin A, C, E, maupun mineral lain.

Tingkatkan Sperma
Konsumsi likopen pada paprika merah diyakini dapat meningkatkan kualitas
seksual. Likopen diyakini dapat meningkatkan jumlah sperma, memperbaiki
struktur sperma, dan meningkatkan agresivitasnya.

Sebuah penelitian yang dilakukan di India terhadap 30 pasangan tidak subur
membuktikan bahwa konsumsi likopen sebanyak 20 mg selama 3 bulan
terus-menerus dapat meningkatkan jumlah sperma sebanyak 67 persen,
memperbaiki struktur sperma sebanyak 63 persen, dan menaikkan kecepatan
sperma sebanyak 73 persen.

Menurut All India Institute of Science New Delhi (2002), likopen merupakan
salah satu dari 650 jenis karotenoid yang secara normal terdapat dalam
konsentrasi tinggi pada testis. Jika konsentrasi likopen rendah, pria akan
mudah mengalami ketidaksuburan.

Likopen pada paprika merah dapat mempertahankan fungsi mental dan fisik para
lansia. Setelah masuk ke dalam aliran darah, likopen akan menangkap radikal
bebas pada sel-sel tua dan memperbaiki sel-sel yang telah mengalami
kerusakan.

Cara Mengolah, Memilih, dan Menyimpan yang Baik
Pengolahan paprika hendaknya dilakukan dengan benar agar tidak mengurangi
nilai gizinya. Agar kadar vitamin C tak cepat menguap, sebaiknya paprika
dimasukkan ke dalam masakan pada akhir proses memasak atau dicampur dengan
salad.

Penyimpanan paprika hendaknya dilakukan secara tepat. Kandungan vitamin C
bisa berkurang, bahkan hilang, jika paprika yang telah terbelah dibiarkan
lama terkena udara. Menurut Irna (2005), kiat memilih dan menyimpan paprika
yang baik adalah sebagai berikut:

Pilih paprika yang kulitnya masih licin, berkilat, dan tidak kusam.

Pilih paprika yang keras untuk memastikan bahwa kualitasnya masih bagus dan
baru.

Jika dibeli dalam keadaan terbungkus plastik, segera buka kemasannya agar
tidak lembab.

Simpan paprika dalam kantong plastik yang telah dilubangi sebelum dimasukkan
ke dalam kulkas, sehingga tahan untuk jangka waktu lama.

Paprika jangan dibiarkan dalam keadaan terbelah jika tidak akan langsung
dimakan karena vitamin C yang terkandung di dalamnya bisa berkurang/hilang.@



Prof. DR. Made Astawan


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke