Mas Yusuf, bisa diterangkan sedikit kenapa anda memilih istilah
'hantu blau'? Saya sepakat bagaimanapun juga parpol harus selalu
diingatkan kalau perlu 'ditekan' agar selalu memperhatikan
kepentingan & aspirasi publik..

Tentunya aspirasi & kepentingan yang sejalan dengan norma" yang
berkembang di masyarakat maupun agama.. Bukan sekedar aspirasi
yang semata" berlindung di balik kebebasan berekpresi & HAM,
misalnya..

CMIIW..

-- 
Wassalam,

Irwan.K
"Better team works could lead us to better results"
http://irwank.blogspot.com/

-----
2008/7/28 yusuf riyanto <[EMAIL PROTECTED]>:

> Apa ada mekanisme Kaderisasi di tubuh Partai Politik ?
> Atau Hanya sebagai Tempat Menciptakan "Hantu Blau"
>
> Partai Politik yang seharusnya melakukan apa yang idealnya dikerjakan
> sebuah partai yang sehat, yaitu pendidikan politik bagi para kadernya untuk
> menyiapkan dan mencetak calon pemimpin partai serta bermanfaat bagi
> masyarakat. Mungkin saja proses tersebut dilaksanakan , namun demikian yang
> riil terjadi adalah jangankan kaderisasi, untuk solid dalam pengambilan
> keputusan bagi kepentingan bangsa saja susah. Lihat Partai Golkar Di Sultra.
> Saat waktu terus bergulir dan kepentingan masyarakat yang menjadi tujuan ,
> malah Partai tersebut disibukan oleh Musdalub dan berbagai kepentingan
> individu di dalam Parpol tersebut.
>
> Apa yang bisa dilakukan untuk pendidikan politik kader partai juga
> masyarakat dalam kondisi seperti ini ??? Ini salah satu contoh yang terjadi
> di tubuh Partai Besar Nasional.  Tidak menutup kemungkinan Partai Politik
> lainnya. Lalu bagaimana dengan Kaderisasi di tubuh Parpol ???
>
> Apabila hal ini terus terjadi politisi yang dihasilkan parpol adalah mereka
> yang tidak memberikan empati kepada masyarakat, kita akui bahwa itulah buah
> dari proses kehidupan politik tanpa pendidikan politik dalam parpol. Mungkin
> tidak semua demikian.
> Kader yang bagaimana yang akan dilahirkan Parpol ? karena memang tidak ada
> pendidikan politik, baik itu formal dalam bentuk kaderisasi maupun dalam
> bentuk berorganisasi secara wajar, termasuk belajar,berkeinginan
> menyelesaikan konflik di antara kader, ini pendidikan politik paling riil.
> Mungkin kah hal tersebut terjadi ? karena yang terjadi adalah belajar
> menghindari bahkan sebagian hingga terjadi perkelahian, yang artinya belajar
> menggunakan otot dan kekerasan.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke