W.S. Rendra
Renungan Ronggowarsito W.S. Rendra

Diminta menilai kondisi Indonesia pada saat ini, penyair W.S. Rendra tak 
jauh-jauh memberi perbandingan. Rendra mengacu pada karya penyair abad ke-19, 
Ronggowarsito, yang terkenal, yakni Serat Kalatida. Sejak kecil, Rendra sudah 
mendengar kehebatan nama Ronggowarsito. Ia sering mendengar orang-orang keraton 
menembangkan karya Ronggowarsito. Maklum, rumahnya berdempetan dengan tembok 
keraton.

Kalatida adalah zaman ketika akal sehat diremehkan. Perbedaan antara benar dan 
salah, baik dan buruk, adil dan tak adil tidak digubris. Krisis moral adalah 
buah krisis akal sehat. Kekuasaan korupsi merata dan merajalela, karena erosi 
tata nilai terjadi di lapisan atas dan bawah. Ronggowarsito melengkapi Kalatida 
dengan Kalabendu.

Menurut Rendra, Kalabendu adalah zaman yang mantap stabilitasnya. Tapi 
alat-alat stabilitas itu adalah penindasan. Ketidakadilan malah didewakan, 
ulama mengkhianati kitab suci, penguasa lalim tak bisa ditegur, korupsi 
dilindungi, dan kemewahan dipamerkan di samping jeritan kaum miskin dan 
tertindas. Tapi, sesudah itu, menurut Ronggowarsito, akan muncul zaman Kalasuba 
asalkan semua orang sadar dan waspada, berani prihatin, dan tawakal.

Setelah Indonesia merdeka hingga saat ini, cara Hindia Belanda masih 
dilestarikan sebagian elite politik. "Kita sangat bergantung pada modal asing. 
Pembentukan SDM terbatas melahirkan tukang-tukang, mandor, dan operator. Alam 
dan lingkungan rusak, karena kita tak berdaya menghadapi kedahsyatan kekuatan 
modal asing," katanya dalam sebuah seminar bertema "Kebangsaan dalam 
Pluralisme", yang digelar Universitas Sebelas Maret, Solo, pekan lalu.

Soal Kalasuba, Rendra mengaku berbeda dari konsep Ronggowarsito. "Harus ada 
usaha kita yang lain, tidak sekadar sabar dan tawakal. Kita menghendaki 
Kalasuba yang tidak dikuasai oleh diktator. Tidak tergantung hadirnya Ratu 
Adil, tetapi bergantung pada hukum yang adil, mandiri, dan terkawal," ujarnya.

Rendra menyebut kontemplasi atas buah pikiran Ronggowarsito itu sebagai, 
"Sembah sungkem saya yang khidmat kepada penyair besar Ronggowarsito," tuturnya 
kepada Kastoyo Ramelan dari Gatra.

[Apa & Siapa, Gatra Nomor 35 Beredar Kamis, 10 Juli 2008] 
http://gatra.com/artikel


      

Kirim email ke