Selasa, 29 Juli 2008 | BP
Warga Karangasem Krisis Air
Jalan 4 Km, Antre Mulai Tengah Malam
Ketut Merta membangunkan istrinya tengah malam. Demikian juga kedua
anaknya harus bangun dari tidur lelapnya. Walaupun rasa kantuk masih berat dan
mata belum terbuka lebar, mereka bergegas mengambil ember. Tak ada keluhan.
Ibarat jarum jam mereka terus berjalan, tanpa pernah berhenti berjuang
menyambung hidup; mendapat seember air.
DEMIKIAN keseharian warga Mekar Sari Banjar Kangin, Seraya Timur,
Karangasem ketika musim kemarau tiba. Tidak hanya Merta, juga ada keluarga I
Wayan Salin. Nasibnya sama, harus bangun tengah malam lalu berjalan 4 km pulang
pergi (pp) untuk mendapat seember air.
Merta saat ditemui antre air di Tukad Item, Senin (28/7) kemarin
mengatakan, dirinya, istri dan dua anaknya yang sudah cukup besar dikerahkan
untuk mencari air. Dia mesti rela bangun pukul 24.00 malam berjalan sekitar 2
km ke Tukad Item, guna mencari seember air. Di sungai kering itu, dia dan
sejumlah warga lainnya yang senasib berebut membuat lubang di dasar sungai. Dia
mesti antre menunggu rembesan air sekitar 15 menit. Hasilnya hanya satu ember
air. 'Airnya memang keruh, tetapi sampai di rumah kita tunggu agar kotorannya
mengendap di bawah. Air ini sekadar untuk memasak dan minum ternak, anggota
keluarga kami jarang mandi. Kalau pergi jauh seperti kondangan atau sembahyang,
cukup cuci muka atau membasuh badan sedikit dengan kucuran air dari bekas botol
air mineral yang dilubangi,' papar Merta tanpa malu menceritakan penderitaannya.
Tetangganya, Wayan Salin, menyampaikan hal yang sama. Dia mengaku mesti
pergi ke sungai sekitar pukul 02.00 malam dan antre air di sungai setelah
berjalan sekitar 2 km. Salin juga mengaku jarang mandi. 'Pada musim kemarau
warga di sini jarang bisa mandi. Tiga hari sekali belum tentu mandi. Yang
penting mendapatkan air untuk minum, memasak dan minum ternak agar sapi atau
babi tak mati,' ujar Salin.
Warga di Desa Tengah dan Seraya Barat yang bermukim di pegunungan juga
mengalami krisis air bersih. Selain air hujan di cubang sudah kering, proyek
pipanisasi dari mata air Tirta Ujung mangkrak sejak tahun lalu. Masalahnya,
mesin terbakar dan kabelnya meleleh sebagai akibat terlalu panas terus
beroperasi memompa air ke Desa Seraya. Sementara sebuah truk tangki bantuan
pemerintah yang dikelola secara swadaya tengah diperbaiki, setelah tak bisa
dipakai karena tak ada ban.
Kondisi masyarakat Karangasem di desa pegunungan lainnya, tak jauh
berbeda. Warga di Desa Besakih juga mesti menunggu aliran air PDAM secara
bergiliran, karena kapasitas pompa enam tingkat sangat kecil sekitar 5 liter
per detik. Sementara proyek sumur bor di dekat Pura Batu Madeg, Besakih sudah
dua kali gagal dengan anggaran masing-masing sekitar Rp 300 juta. 'Setelah
dibor sedalam sekitar 110 meter, ternyata airnya tak juga keluar karena
terhalang batu yang besar,' ujar Wakil Ketua DPRD Karangasem IGB Karyawan asal
Desa Besakih.
Klian Banjar Tigaron Timur, Kubu, Karangasem, Ketut Rukiana, mengaku
prihatin dengan warganya di pegunungan yang krisis air bersih rutin tiap musim
kemarau tiba. Sebagai klian pihaknya mengaku tak mampu memberikan banyak
penjelasan, saat warganya menuntut diperjuangkan air bersih. Soalnya, sudah
berulang kali disampaikan kepada pemerintah namun jalan keluarnya tak kunjung
tiba. Warga yang mampu kalau ada upacara, terpaksa membeli air bersih kepada
pemasok menggunakan mobil tangki. Bagi warga yang di pelosok dan bisa dijangkau
dengan sepeda motor, membeli air dengan jeriken volume 30 liter. Harga air
tergantung jaraknya, namun satu tangki antara Rp 60 ribu sampai Rp 150 ribu di
pegunungan.
Warga Bukit Mangun, Kubu, Made Mangku Surata, mengatakan memang ada truk
tangki yang dikelola di kecamatan. Namun untuk sopir dan BBM serta pemeliharaan
truk tangki itu tentu pihak pemohon bantuan air bersih juga mesti membayar
biaya operasional. 'Tak ada bantuan air gratis.'
Menurut Mangku Surata, justru biaya air dari mobil tangki bantuan
pemerintah lebih mahal dibandingkan membeli kepada penjual air. Soalnya,
konvensasi bantuan air dari truk tangki Rp 70 ribu per tangki, sama dengan
membeli air di penjual umum.
Warga Seraya berharap Bupati Karangasem segera mencarikan jalan keluar
agar masyarakat pegunungan lebih mudah mendapatkan air bersih. Soalnya, untuk
membeli air warga miskin tak mampu karena sampai di Seraya Timur harga air satu
truk tangki mencapai Rp 200 ribu sampai Rp 400 ribu.
Anggota DPRD asal Kubu, Nyoman Oka Antara, mengatakan keluarganya di
Tianyar Barat tiap minggu membeli air rata-rata satu truk tangki dengan harga
berkisar Rp 70 ribu. Sementara warga yang lebih di pegunungn seperti di Peradi
mesti membeli air dengan harga Rp 80 ribu per satu truk tangki. 'Jika
memelihara beberapa sapi dan babi, satu truk tangki cukup hanya untuk satu
minggu,' katanya. (bud)
http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberita&kid=2&id=2801
[Non-text portions of this message have been removed]