Rakyat Mengeluh
(Abdul Muiz Syaerozie)
Di Indoensia, Para elite ramai-ramai meributkan kaum muda atau kaum tua yang
layak jadi pemimpin pada 2009 nanti. gagasan kaum muda dilontarakan Partai
Keadilan Sejahtera (PKS). sedangkan usulan tak perlu kaum muda, kaum tua pun
tak masalah digulirkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Debat wacana pemimpin muda atau pemimpin tua, mulai merangkak ke publik ketika
Tifatul Sembiring, salah satu pucuk pimpinan tua PKS, melontarkan nya di depan
kader-kader partai. penyataan itu sontak ditanggapi Megawati, seorang calon
pemimpin tua dari partai PDIP. calon pemimpin tua dari PDIP dan pemimpin
berusia tua dari PKS berdebat melalui media dengan berbagai sudut pandang.
cukup menarik sekedar menambah wacana.
Mereka boleh-boleh saja berdebat soal roti empuk kursi kekuasaan. tetapi yang
pasti, rakyat lagi kelaparan, kesulitan untuk membayar biaya sekolah, kurang
gizi, dan buta huruf. disisi yang lain, para elit digedung dewan yang terhormat
juga satu persatu ternyata telah menikamati uang haram hasil korupsi.
ironi, debat soal kursi kekuasaan oleh mereka justru disampaikan seolah-olah
rakyat memang sudah memepercayai aksi-aksi politikus tua dan muda dipartai.
2009 nanti seakan-akan rakyat memilih. padahal belum tentu. karena rakyat sudah
tidak percaya pada orang-orang yang ada dipartai politik. jika kemudian muncul
isu "golput" pun mesti itu perbuatannya para elit politik. terang saja
tujuannya, untuk pemenangan pemilu dan memperoleh kursi empuk presiden.
pasalnya, kader-kader muda dari partainya, baik dari garis jaringan mahasiswa
dan pengurus-pengurus mesjid yang militan, tidak mungkin melakukan golput.
sebab sistemnya intruksi dari atas. Akhirnya bisa menang dalam kancah pemilu.
atau muncul menggembar-gemborkan "jangan golput" pasti ulah elit politik juga.
tujuannya, biar masyarakat yang tidak mengerti secara nyata bisa menambah
suaranya. habis rakyat memilih, lalu merekapun akhirnya ditinggalkan.
BBM tetap dinaikkan, harga bahan-bahan pokok juga ikut dianaikkan, aset-aset
negara tetap dijual, impor segala-galanya juga terus terus digerakkan. tinggal
merumuskan argumentasi rasional dari kacamata penguasa maslah bisa selasai. tak
perlu berpikir macam-macam. misalanya rakyat kesulitan, rakyat kelaparan. toh
elit politik tidak merasakannya.
Lalu rakyat harus bagaimana? golput salah, tidak golputpun salah. tidak
memilih, takut yang menang orang yang tak peduli terhadap rakyat, jika memilih,
yang menang juga orang yang tak peduli terhadap rakyat. dalam situasi ini ada
dua sikap rakyat: pertama, tak ada daya kecuali berdoa pada sang
pencipta.kedua, revolusi kecil-kecilan. maksudnya setiap kebijakan yang
merugikan terus didemo. walaupun mereka (para penguasa) sudah tuli. toh nanti
juga muncul seorang atau sekelompok politikus yang ber akting pembela rakyat
mendukung isu demonstrasi yang diusung rakyat secara murni.
sekarang, kalo jadi oposisi jangan separuh-separuh. sebab di Indonesia cukup
unik. elit-elit partai meminta mahsiswa misalnya untuk berdemo soal ini dan
itu. tetapi elit yang menyuruh tadi, entah sepengetahuan mahasiswa ataupun
tidak, melakukan negosiasi ditingkat atas. dil-dilan kekuasaan atau uang..
oleh karena itu, Sadarlah wahai para politikus. takutlah kepada Tuhanmu jika
kalian memempunyai hobi merugikan rakyat. dan bersabarlah wahai rakyat.
sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. (Innallaha Ma'ashabiriin)
Wallahu'alam
[Non-text portions of this message have been removed]