http://www.presidensby.info/index.php/fokus/2008/07/30/3330.html

*Presiden Membuka Konferensi ICIS III*


*Presiden SBY* membuka International Conference of Islamic *Scholars* (ICIS)
III di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (30/7) pagi. (foto: haryanto/
presidensby.info)Jakarta: Bertepatan dengan perayaan Isra Mi'raj, Rabu
(30/7) pagi, *Presiden Susilo Bambang Yudhoyono* membuka International
Conference of Islamic Scholars (ICIS) III di Hotel Borobudur, Jakarta.
Konferensi yang diselenggarakan hingga tanggal 1 Agustus 2008 ini,
mengangkat tema "Uphold Islam as Rahmatan Lil Alamin: Peace and Conflict
Prevention in the World".

Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan oleh
Djunaidin Idris, dilanjutkan sambutan Sekretaris Jenderal ICIS Hasyim
Musyadi dan Keynote Lecture yang disampaikan oleh Presiden SBY.

Dalam sambutannya, Hasyim Muzadi, mengemukakan bahwa ICIS III merupakan
tindak lanjut ICIS II di Jakarta pada 20-22 Juni 2006, dan ICIS I yang
diselenggarakan di Jakarta pula pada 23-25 Februari 2004. ICIS II
menghasilkan 37 rencana aksi dalam rekomendasi yang ditujukan pada PBB, OKI,
negara-negara Islam, negara peserta ICIS serta para pemimpin Islam. ICIS II
diikuti 320 peserta dari 53 negara, termasuk Utusan Paus Benediktus XVI,
Khalid Akasheh.

Sedangkan ICIS III kali ini, mengundang para ulama dan cendekiawan muslim
sedunia, berjumlah sekitar 350 orang peserta dari 70 negara. Dengan para
pembicara dari luar negeri sebanyak 53 orang, dan dari Indonesia sendiri
sebanyak 21 orang. Diantaranya adalah PM Malaysia Abdullah Ahmad Badawi
serta Sekjen ASEAN Surin Pitsuwan."ICIS III akan membahas mengenai konflik
di dunia Islam, baik di internal umat Islam maupun yang berhubungan dengan
masyarakat global. Selain itu, setiap peserta diharapkan dapat membantu
upaya perbaikan citra Islam dan kemampuan umat Islam dalam menghadapi
tantangan dan persaingan global," Hasyim Muzadi menjelaskan.

Presiden SBY mengatakan, sudah terlalu banyak perhatian dan energi yang
dikeluarkan untuk menyelesaikan konflik, namun konflik-konflik tersebut
terus berlanjut dan tidak dapat dicegah. "Sesungguhnya, mencegah konflik
merupakan hal yang lebih baik jika dibandingkan dengan mengobati konflik
yang sudah terjadi. Karena, mencegah terjadinya konflik juga mencegah
jatuhnya korban jiwa, energi politik dan sumber daya ekonomi," kata Presiden
SBY.

Mencegah konflik membutuhkan kemampuan untuk mendeteksi potensi terjadinya
konflik. Selain itu, juga diperlukan pengertian terhadap dinamika konflik
yang terjadi. "Dan seperti resolusi konflik, pencegaha konflik juga
membutuhkan keahlian untuk mencari cara baru untuk menurunkan tensi,
mencegah perpecahan dan juga mencari waktu yang tepat. Waktu untuk
intervensi, pencegahan dan melancarkan aksi," ujar SBY.

Dan yang paling penting, pencegahan konflik membutuhkan kepemimpinan. "Dan
kepemimpinan ini dapat berasal dari siapapun. Pemimpin politik, pemimpin
informal, pemimpin komunitas, pemimpin agama, tergantung dari konflik yang
sedang terjadi," terang Presiden kepada seluruh peserta yang hadir dalam
acara yang bertemakan "Uphold Islam as Rahmatan Lil Alamin: Peace and
Conflict Prevention in the World".

Tetapi, lanjut SBY, kita harus selalu ingat, bahwa setiap konflik memiliki
permasalahannya masing-masing. "Setiap konflik memiliki dinamika dan
kepribadian tersendiri, dan harus diperlakukan sesuai dengan dinamika yang
berlaku. Saya juga percaya bahwa seberapapun lama dan rumitnya sebuah
konflik, pasti akan dapat dicari solusinya," ungkap SBY.

Oleh karena itu, Presiden SBY berharap konferensi ini dapat dijadikan
kesempatan untuk memperkuat Ukhuwah Islamiyah di seluruh dunia. "Selain
Ukhuwah Islamiyah, konferensi ini j uga dapat dijadikan kesempatan untuk
memformulasikan cara-cara praktis untuk mengatasi tantangan dan hambatan
politik, ekonomi dan sosial menuju perdamaian dan kemajuan," terang
Presiden.

Usai memberikan sambutan, didampingi oleh Menag Maftuh Basyuni dan Gubernur
DKI Jakarta Fauzi Bowo, Presiden SBY memukul bedug sebagai tanda peresmian
pembukaan ICIS III. (mit)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke