www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905 <http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/> Parlok Aceh Memasuki Kampanye Pemilu Radio Nederland Wereldomroep - Aboeprijadi Santoso - 25-07-2008 Parlok Aceh Memasuki Kampanye Pemilu <http://download.omroep.nl/rnw/smac/cms/id_w_tossi_partai_lokal_aceh_200\ 80725_44_1kHz.mp3>
Aceh membuka halaman baru politik Indonesia. Enam parlok, yaitu partai lokal, memasuki kampanye pemilu 2009 dengan antusiasme dan hati-hati. Antusias, karena inilah pertama kali Aceh, juga Indonesia, mengenal partai partai lokal yang memperebutkan kursi parlemen daerah. Hati-hati, karena kampanye sudah dimulai sebelum Badan Pengawas Pemilu, Banwaslu, ditetapkan. Keenam parlok itu mengaku memperkenalkan politik baru. Termasuk Partai Aceh, sosok baru dari Gerakan Aceh Merdeka GAM, yang menanggalkan citra kombatan dan mengkonsolidasi para pendukungnya. Kampanye pemilu 2009 di Aceh merupakan tahap lanjut perdamaian 2005. Salah satu butir [acehpeta.jpgbersih.jpg180.jpg] paling alot perundingan Helsinki, yaitu kesepakatan tampilnya partai lokal, menjadi kenyataan yang meramaikan demokrasi Indonesia. Sekaligus, parlok, partai lokal, dan kampanyenya menunjukkan wajah Aceh baru. Sejak tahun tahun belakangan, Aceh menjadi kenyataan tersendiri di tengah Indonesia.Tidak hanya konflik, bencana tsunami, dan perdamaian, tapi banyak isu nasional tak bergaung di Aceh. Soeharto mati, Aceh tak peduli; Golput naik daun, tak berimbas di Aceh; munculnya tokoh generasi muda dan selebriti dalam pilkada Jawa Barat dan Sumatra Utara, juga tak menular ke Aceh; bahkan protes kenaikan harga BBM pun tak ramai di Aceh. Tapi paling karakteristik adalah parlok. Enam dari 14 parlok, partai lokal, lolos verifikasi dan bertanding dengan 39 partai nasional di Aceh. Empat dari keenam tersebut tampil murni lokal, tanpa kaitan dengan tokoh-tokoh mau pun partai-partai nasional. Keempatnya vokal dan mengaku berbeda dengan partai partai nasional yang di Aceh dianggap kurang kredibel, bahkan dianggap gagal. Kantor Berita Radio Antero menampilkan tiga di antaranya. Berikut berturut-turut Ghazali Abbas dari Partai Aceh Aman Seujahtera PAAS, partai yang bersemangat Islam, kritis, dan menekankan keberagaman. Kemudian Rahmat Jaelani dari PRA, Partai Rakyat Aceh, partainya pemuda, cendekia, para aktivis muda yang mengusung misi pendidikan politik. Dan ketiga, Adnan Beuransyah dari Partai Aceh, partainya mantan kombatan GAM yang beralih jadi politisi sipil untuk mewujudkan MoU Helsinki bagi Aceh. Berani maju Ghazali Abbas: Kita berupaya menebar simbul-simbul PAAS kepada masyarakat. Kita sering dengar demokrasi yang bermarwah. Bagi PAAS marwah Aceh adalah pertama orang Aceh yang berakidah. Jadi apa pun yanga dia kerjakan, merasa Aceh mengontrol dan takut dari akherat. Yang kedua adalah Aceh yang bersyariah, Allah juga mengontrol di situ, sehingga dia tidak bisa macem-macem. Yang ketiga adalah Aceh yang berakhlak karimah, Aceh yang berilmu, Aceh berkeadilan, Aceh yang berkeadilan, Aceh yang mengakui keberagaman. Rahmat Jaelani: Kita harus berani maju selangkah. Selama ini partai nasional itu tidak pernah melakukan kampanye programnya ke rakyat, yang dilakukan adalah bagaimana partai nasional memperkenalkan simbul, memperkenalkan caleg, memperkenalkan tokoh dan sebagainya. Tapi substansi partai, apa yang akan diperjuangkan, itu tidak dilakukan. Sehingga makna pendidikan politik yang mestinya diberikan oleh partai politik itu tidak terjadi. [Aceh-Nama.jpg] Adnan Beruransyah: Partai Aceh tidak lagi memperkenalkan simbul, sebab itu merupakan kelanjutan perjuangan bersenjata dulu. Jadi yang kita inginkan partai Aceh menjalankan setiap poin-point MoU. Cuma itu yang kita persembahkan kepada rakyat. Parlok Aceh belum tampil ramai di muka publik, baru lewat dialog dialog saja. Maklum, inilah pentas perdana mereka. Lagi pula, Banwaslu belum ada. Adnan Beuransyah dari Partai Aceh mengaku, partainya tengah berkonsolidasi dengan melakukan pendidikan politik. Inilah transformasi berpikir, dari perjuangan bersenjata menjadi perjuangan sipil dan perjuangan demokrasi. Ini berarti kebanyakan mantan panglima wilayah dan panglima sago, yang pernah memperoleh kepercayaan masyarakat lokal mereka, akan mengendalikan cabang-cabang partai di daerah. Jadi partai ini harus beralih dari ekslusif GAM menjadi inklusif, jadi merangkul masyarakat. Untuk itu mereka melakukan pelatihan dengan apa yang disebut sekolah-sekolah tanpa gedung, ujar jubir partai Adnan Beuransyah kepada Radio Nederland Wereldomroep. Strategi ini dikendalikan oleh Sekjen partai, Teungku Yahya Mu'at, mantan wakil komandan TNA Tentara Neugara Aceh. yang bersahaja dan tak banyak dikenal publik. Partai Aceh memang tampil kuat dengan baliho, lambang, kantor-kantor dan juga dana logistik. Sasaran kami sekitar 80 sampai 90 persen kursi parlemen, tambah Beuransyah optimistis. Kalau benar demikian, maka inilah transformasi pasca perdamaian yang bakal menjadi tonggak Aceh ke depan. Namun Agung Wijaya, pemerhati politik dari Perkumpulan Demos mengingatkan, ini baru tahap pertama transformasi yaitu 2007 sampai 2011. Di situ mereka belajar demokrasi prosedural lewat parlemen, sedangkan demokrasi substantifnya harus mereka hidupkan melalui fungsi-fungsi kontrol pasca Pilkada 2011. Kata Kunci: banwaslu <http://www.ranesi.nl/articlesbytag?tag=banwaslu> , Indonesia <http://www.ranesi.nl/articlesbytag?tag=Indonesia> , parlok <http://www.ranesi.nl/articlesbytag?tag=parlok> , pemilu <http://www.ranesi.nl/articlesbytag?tag=pemilu> , politik <http://www.ranesi.nl/articlesbytag?tag=politik> [Non-text portions of this message have been removed]

