Kalau Fadjroel Rachman konsisten dengan kata-katanya di bawah, saya dukung 
Fadjroel!
 
Satrio






http://www.ranesi. nl/arsipaktua/ indonesia060905/ Fajroel_tampil_ radikal20\
080801
<http://www.ranesi. nl/arsipaktua/ indonesia060905/ Fajroel_tampil_ radikal2\
0080801> Fadjroel Rachman Tampil Radikal Tapi Sepi Tentangan
Aboeprijadi Santoso 01-08-2008
Fajroel Rachman Tampil Radikal, Tapi Sepi Tentangan 
<http://download. omroep.nl/ rnw/smac/ cms/id_w_ fadjroel_ rachman_20080801 _4\
4_1kHz.mp3>

Menyusul kemenangan tokoh-tokoh muda dalam berbagai pilkada,
partai-partai politik meremajakan calon-calonnya. Partai Golkar akan
menjatahkan 25% kursinya bagi caleg muda, dan PDI-P menyeleksi kader
balita, alias bawah 50an tahun. Tokoh-tokoh muda bermunculan, dari
Fadjroel Rachman, Rizal Malaranggeng, sampai Ratna Sarumpaet. Namun
semuanya sibuk dengan tema temanya sendiri. Fadjroel mengusung
sosial-demokrasi, tapi elit politik dari militer sampai partai partai
besar, sepi tanggapan. Seberapa radikal suara progresif seperti capres
independen Fadjroel Rachman ini?

Fadjroel Rachman [FR]: Bayangkan, kalau misalnya kekuatan sosial
demokrasi ini mengambil [Fadjroel150. jpg] Dewan Perwakilan Daerah
setengahnya saja. Itu berarti kan 50 kursi? Kemudian kalau misalnya
nanti kekuatan sosial demokrasi ini berhasil masuk ke dalam DPR, artinya
kelompok sosial demokrasi ini memperjuangkan gagasan independen. Dan
sekarang ini baru berhasil di pilkada. Tapi bayangkan, sekarang gubernur
ada 33, bupati/walikota ada 480, kalau kemudian kami masuk melalui
gubernur dan walikota, paling tidak lima gubernur atau 10 gubernur,
kemudian ada 100 bupati dan walikota, gagasan-gagasan sosial demokrasi
akan dijalankan oleh gubernur, walikota dan bupati. Jadi, kami tidak
melalui partai politik.

Partai-partai politik, bagi mantan aktivis mahasiswa ITB Fadjroel
Rachman, tengah dilanda krisis berat. Sebaliknya, golput lagi naik daun.
Karena itu, Fadjroel memilih tampil sebagai capres independen yang
menurutnya dapat memajukan wacana demokrasi.

FR: Yang terpenting adalah, kami mau mencoba melakukan proses pendidikan
demokrasi di Indonesia. Bahwa calon independen boleh menjadi presiden di
Indonesia, selain dari partai politik.

Radio Nederland Wereldromroep [RNW]: Artinya anda akan maju untuk
mengembangkan suatu wacana publik?
Golongan putih
[DPR-RI.jpg] FR: Wacana publik, betul. Karena kami menganggap yang
namanya presiden, legislatif, pilkada, gubernur, walikota dan
sebagainya, itu kan wilayah publik. Jadi itu harus terbuka untuk publik.
Presiden, anggota DPR, gubernur, walikota dan bupati, selain boleh
dipilih oleh partai politik, juga boleh melalui jalur independen.
Saya sudah berkeliling Indonesia, sekarang sudah muncul calon-calon
gubernur, walikota dan bupati dan mereka bisa mendorong pilkada yang
berkualitas, termasuk juga pilkada yang bisa mengurangi politik uang.
Dan mudah-mudahan calon independen seperti saya muncul, itu dari mereka.
Dan saya yakin, kalau bertarung dengan kaum tua, Fadjroel Rachman akan
memenangkan pertarunganan 2009 nanti.

RNW: Dari mana keyakinan ini?

FR: Karena 2004 saja, suara golput itu 40 juta orang dan dengan
tumbuhnya ketidakpercayaan terhadap partai politik, paling tidak
sepanjang pilkada di Jawa Tengah, Jawa Barat, Bali terus kemudian
Lampung dan yang terakhir di Jawa Timur, praktis sebenarnya pemenangnya
adalah golongan putih. Jadi orang-orang yang tidak percaya kepada partai
politik dan juga kepada calon-calon partai politik itu.

Misalnya saja di Jawa Barat, gubernur terpilih itu cuma mendapatkan
sekitar tujuh setengah juta. Sementara golongan putihnya sebelas juta
lebih. Tahun 2004, semua partai politik dan semua capres, itu kalah
dengan golongan putih. Juga kalau misalnya PKB sekarang golput, lebih
parah lagi. Dengan tambahnya PKB, mungkin bisa lebih dari 60 juta suara
golput.

RNW: Itu kan deligitimasi pemilu.

FR: Deligitimasi pemilu, betul. Buat apa kita mempertahankan sistem
demokrasi, di mana partai dan gabungan partai saja yang berhak,
independen tidak bisa. Yang bisa mendorong ke arah alternatif, dan
padahal mereka sudah tidak dipercaya. Nah, harian Kompas membuat riset,
apakah anda menjadi simpatisan partai politik. Jawabannya, 92,8%
mengatakan tidak. Cuma 7,2% mengatakan iya. 34 partai politik sekarang
berebut suara simpatisan dari masyarakat itu hanya 7,2%. Ini bisa jadi
lebih dari 60 juta kan suara golput, kan?

Bagi Fadjroel, yang terjadi bukan sekadar perang antar generasi, muda
versus tua, melainkan antara gagasan progresif lawan gagasan
konservatif.

Progresif melawan konservatif
Fadjroel Rachman: Kami mendorongnya pada 2009 ini. Karena menurut kami,
kalau agenda [sby_cd.jpg200. jpg] progresif tadi, seperti nasionalisasi,
penolakan utang luar negeri, kemudian pengadilan kejahatan HAM berat
dari Timor Leste, Trisakti atau Semanggi I dan II, itu menjadi agenda
kita, kemudian juga pengadilan terhadap korupsi Soeharto, kemudian BLBI
yang 630 trilyun, kemudian KLBI yang 140 trilyun ingin dijalankan,
enggak akan mungkin dijalankan oleh SBY, Mega, Wiranto, sampai 10 besar
ini. Ada Prabowo di sana, segala macam. Enggak akan mungkin. Akibatnya
kami mengatakan bahwa pertarungan 2009 ini bukan pertarungan kaum tua
dan kaum muda saja, ini adalah perang gagasan progresif melawan gagasan
konservatif

Namun, satu tema menyatukan dua generasi, yaitu nasionalisme ekonomi.
Tapi, menurut Fadjroel, hanya nasionalisasi aset-aset negara yang di
tangan asing, yang dapat mencegah Indonesia menjadi bangsa kuli.
Fadjroel Rachman: Misalnya dalam soal nasionalisasi. Dalam satu tahun
minimal, maksimal dua tahun, Indosat yang sekarang di tangan kartel
telekomunikasi dan juga Singtel, itu harus kembali ke tangan Indonesia.
Siapa yang menjualnya? Megawati. Gas Tangguh di Papua Barat, itu dijual
murah kepada Amerika, Korea dan juga kepada Cina oleh Megawati. Dan
menurut penelitian Dr. Kurtubi 300 trilyun kerugian kita satu tahun
karena penjualan Gas Tangguh di Papua Barat. Kemudian Freeport, Bakrie
4,5% memiliki sahamnya, Freeport 86,5%, pemerintah cuma sembilan
persern. Kemudian blok Natuna, 100% dikuasai Exxon, Blook Cepu dikuasi
Exxon juga.
Itu di bawah SBY. Dan tanggal 26 Mei tadi, SBY itu baru menjual lagi,
lima blok, Blok Barito, Blok Timor Barat, itu sudah dijual kepada pihak
asing. Jadi rupanya SBY dan Jusuf Kalla ini, rezimnya dan kemudian rezim
Megawati, kemudian rezim sebelumnya 32 tahun sebelumnya, itu kerjanya
memang menjual semua aset strategis kepada pihak asing dan akibatnya
Indonesia sekarang menjadi kulinya bangsa-bangsa dan menjadi bangsa kuli
kan?


.


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke