KH Mas Subadar
Pengasuh
Pesantren Raudlatul Ulum Besuk Pasuruan
Kiai NU
Kecewa dengan Gus Dur
Bagi warga nahdliyyin di Jawa Timur nama KH
Mas Subadar cukup disegani. Kiai Subadar adalah tokoh NU Jawa Timur yang
bersuara keras agar organisasi Nahdlatul Ulama dibersihkan dari unsur-unsur
Jaringan Islam Liberal (JIL), organisasi yang mendapat donasi asing untuk
menjajakan virus Sepilis (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme), yang
mewabah di kalangan anak-anak muda NU.
Kiai Subadar juga tegas menyatakan, perempuan
tak diperbolehkan menjadi kepala negara. Ia juga tokoh yang dikenal keras
melawan pemikiran Gus Dur. Ketegasan inilah yang membuat alumunus Pesantren
Lirboyo, Kediri, ini disegani di kalangan massa dan elit nahdliyyin.
Kini di tengah konflik yang terus mendera di
partai berbasis massa NU, Kiai Subadar menyuarakan keprihatinannya. Bagaimana
sikapnya menghadapi pemilu 2009 ini dan bagaimana seharusnya warga nahdliyyin
memilih pemimpinnya? Berikut perbincangannya dengan kontributor Al-Mujtama
Faris
Khoirul Anam, yang berlangsung di rumahnya, Besuk, Pasuruan, jawa Timur (24/7):
Bagaimana sikap para Elit NU
mengahadapi Pemilu 2009?
Kalau NU dikaitkan dengan
Pemilu, institusinya jauh tidak ada hubungan. NU adalah organisasi sosial
keagamaan. Pemilu sendiri produk partai politik. Jadi jauh. Kalau nahdhiyyin
atau umatnya, itu lain. Ya
paling-paling NU menginstruksikan jangan sampai warga NU ribut, itu sudah
maksimal.
Adapun dengan partai
politiknya institusi NU tidak ada kaitannya. Kalau umatnya, ya memang partai
politik yang berbasis NU ini banyak. Cuma yang paling dimaui oleh nahdhiyyin di
Indonesia umumnya, dan
Jawa Timur khususnya, itu kalau dulu PKB, yang lebih dulu lagi PPP. Kalau hari
ini ada tanda-tanda, PKNU. Kenapa saya katakan begitu? PKB ternyata ikut
langsung Pilgub Jatim, sambutannya kok sangat minim sekali. Calon yang diajukan
PKB perolehan suaranya sangat minim sekali. Ini ada tanda-tanda nahdhiyin sudah
tidak seperti dulu pada
PKB. Sekarang menaruh hati pada PKNU. Ya maklum, secara kebetulan para kiai
sepuh se-Jawa Timur ini bisa dibilang 90 persen masuk ke PKNU. Pondok-pondok
besar se Jawa Timur ini 90 persen masuk PKNU. Saya itu paling bisa merasakan ya
dalam (hasil) pilgub Jatim ini. Ini suatu gambaran. Partai terbesar di Jatim,
hanya dapat tujuh persen. Itu sudah merupakan tanda, oh rupanya saat ini sudah
kurang diminati oleh warga NU.
Kenapa suara nahdhiyyin tidak mengerucut pada calon dari PKB?
Ya itu dari perjalanan PKB
sendiri. Sampean kan tahu, PKB carut
marut seperti ini. Bukan kesalahan umatnya, tapi kesalahan PKB sendiri. Lha,
siapa yang mau ikut barang yang
carut marut seperti itu.
Achsan (Achmadi-Suhartono, calon PKB dalam pilgub Jatim) kan didukung Gus
Dur, apa ini juga menunjukkan figur Dus Dur juga melemah di kalangan nahdhiyyin
Jatim?
Ya termasuk, tidak seperti
dulu lagi. Jadi sepertinya Gus Dur sekarang tidak seperti Gus Dur dulu.
Bedanya?
Ya ini kenyataannya. Pilgub
ini sudah menjadi jawaban. Ya, mungkin perjalannya beliau, membawa partainya
jadi kayak begini menjadikan umatnya tidak karuan lagi. Kalau ada bus selip
yang pertama kali kita salahkan kan supirnya.
Kesalahan supir itu apa saja menurut
kiai?
Ya banyak sekali. Yang jelas,
sampai beberapa kiai sepuh loncat dan bikin partai baru ya kan gara-gara itu
juga. Antara lain, sewenang-wenangnya. Lagi-lagi
pembekuan, lagi-lagi pemecatan. Ini kan
sudah nggak enak toh ini.
Selain dalam hal politik, dalam hal
keagamaan?
Ya bagaimana seorang ahlussunnah wal jamaah kok mendukung Ahmadiyah. Orang
Ahlussunnah wal Jamaah kok senangnya ke
Vatikan. Ini kan bagaimana?
Para kiai sudah sering kecewa dengan
pernyataan Gus Dur?
Ya jelas. Siapa tidak kecewa
kalau ada Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) lalu
ditolak. Ini kan suatu pukulan kepada
para kiai-kiai yang ingin menjadikan syariat Islam ini berjalan di bumi
Indonesia. Tidak membuat negara Islam, tapi berjalan di bumi Indonesia.
Apa bisa diterjemahkan, PKNU akan memperjuangkan berjalannya syariat Islam
di bumi Indonesia?
Mestinya begitu. Apa artinya
keluar (dari PKB, red) kalau nggak begitu. Kita tidak membuat negara
Islam. Tapi bagaimana (syariat Islam) melembaga. Kalau bisa nanti waktu puasa
dengan sadar orang itu malu akan buka warung. Kan bagus itu. Hari Jumat malu
tidak shalat Jumat. Seperti hari
raya itu kan melembaga. Semua datang,
semua berduyun-duyun ke masjid. Mudah-mudahan pada akhirnya nanti shalat Jumat
seperti itu juga.
Di kalangan nahdhiyyin sekarang, ada yang masih pro Gus Dur?
Mesti.
Di dunia ini nggak ada orang yang nggak ada pengikutnya.
Motivasinya?
Ya nggak tahu, tanyakan pada mereka. Kan di dunia ini seperi pasar. Pasar itu
jual apa saja kan laku tho. Mulai yang manis sampai yang pahit kan laku. Mulai
dari yang paling gembuk (lunak, red)
sampai yang atos (keras, red) dijual di pasar laku.
Sebenarnya bagaimana para kiai di Jawa Timur memandang Gus Dur?
Ya jawabannya, sampai ada
partai PKNU. Itu cukup menjadi jawaban. Sampai calon Gubernurnya nggak dapat
sambutan. Ya itu jawabannya.
PKB begitu besarnya kok cuma dapat
sekian persen. Itu kan cukup menjadi
suatu gambaran. Pertanyaan sampean
dijawab dua fakta tadi.
Kemarin (Rabu, 23/7) Choirul Anam (Ketua PKNU) menemui Gus Dur, isunya kok
mau menggandeng Gus Dur lagi itu gimana kiai?
Menggandeng apa? Menarik Gus
Dur ke PKNU nggak bisa. PKNU bukan
punyanya Anam.
Kiai dengan tegas menolak?
Jelas. Kalau tidak ingin ada
kerusakan dua kali atau nasibnya seperti PKB. Tidak hanya saya saja, semua
kiai. Entah kalau Anam mau ikut PKB-nya Gus Dur, bisa itu, he he he.
Keberadaan Gus Dur di tengah nahdhiyyin,
bila disimpulkan, menguntungkan atau justru merugikan?
Saya tidak mengatakan
menguntungkan atau merugikan. Yang jelas, partainya tidak bisa mengegolkan
calonnya. Apa untung apa rugi seperti itu?
Sekarang nahdhiyyin punya banyak
pilihan partai, bagaimana para kiai NU menyikapi dan mengarahkan warganya?
Yang jelas 90 persen para kiai
sepuhnya sudah masuk PKNU. Kalau bicara tentang kiai ya langsung dengan
santrinya sekaligus. Kan gitu toh.
Meski Anda sekarang sudah di PKNU, melihat konflik internal di PKB?
Ya kasihan, tetap. Orang
sama-sama Islam-nya. Kasihan juga saya.
Atau kapasitas sebagai kiai tidak
bisa ikut mendamaikan?
Ada apa saya mengurusi orang
lain. Kalau (konfliknya antar) nahdhiyyin
lain lagi bagi saya. Tapi kalau partai ada apa saya ngurusi partai lain.
Orang partai merangkap kan nggak
boleh. Kalau konfliknya di NU bisa, karena NU bukan partai.
Para kiai sudah banyak mengingatkan
Gus Dur?
Waduh.
Sudah terlambat kalau itu ditanyakan sekarang.
Dalam hal apa mungkin bisa dicontohkan?
Mulai dari penyimpangannya
dalam PKB, sudah cukup betul peringatan dan saran kiai. Sudah cukup.
Sekarang bisa dikata putus asa
begitu untuk mengingatkan?
Bukan putus asa. Lha kita sekarang sudah punya urusan
sendiri sekarang. Sudah nggak akan
ngurusi barang lain sudah.
Dalam hal keagamaan, misalnya Gus Dur membela Ahmadiyah, bagaimana sekarang
alternatif cara mengingatkan Gus Dur?
Pernyataan-pernyataan kiai
orang Ahmadiyah itu orang murtad. Jadi Ahmadiyah itu tidak berhak menyandang
gelar Islam. Makanya langsung dalam rukun Islam, murtad Ahmadiyah itu.
Tidak bisa dipungkiri, Gus Dur mengundang pro dan kontra di antara para
kiai NU, bagaimana Anda memandangnya?
Prihatin. Kenapa kok ada orang macam gitu.
Tentang fenomena liberalisme yang konon banyak dimotori anak-anak muda NU?
NU itu lahir untuk membentengi
ahlussunnah wal jamaah. Sedang
semacam JIL itu bertentangan jauh dengan ahlussunnah
wal jamaah. Demikian juga radikalisme juga jauh dengan NU. Jadi yang satu
terlalu ke timur, yang satu terlalu ke barat. Yang satu terlalu ke utara, yang
satu terlalu ke selatan. Sama-sama menyimpang dari NU itu.
Fenomena apa ini?
Karena bodohnya. Kenapa kok nggak tahu ahlussunnah wal jamaah. Orang NU kok
nggak tahu ahlussunnah wal
jamaah, kan bodoh namanya. Bukan karena pandainya, tapi karena bodohnya.
Bodoh kepada ahlussunnah wal jamaah.
Mereka alumni-alumni pesantren dan
putra-putra kiai...
Walaupun
putranya sahabat Nabi.
Bila dikaitkan dengan Gus Dur, anak-anak muda di JIL sangat mengidolakan
Gus Dur...
Itu terserah. Itu tanyakan
pada mereka, apa yang dimau mereka. Ya dari kebodohannya tentang ahlussunnah
wal jamaah.
Umat membaca Gus Dur sering membela kepentingan Barat, menjadi anggota
Yayasan Shimon Perez dan sebagainya, dia dimanfaatkan atau sengaja masuk ke
situ?
Tanyakan saja pada orangnya.
Saya nggak tahu apa maksudnya. Yang
jelas itu keliru.
Kapan Kiai terakhir kali kontak
dengan Gus Dur?
Lama
sudah. Lebih dari dua tahun. Sejak nylentang-nylentang
ini.
Dulu KH Asad Syamsul Arifin Situbondo sempat mufaraqah pada kemimpinan NU
Gus Dur yang dianggap imamnya sudah kentut, berarti perlawanan dari dulu
sudah ada?
Ya kalau tidak berbeda
pendapat ada apa mufaraqah. Yang
jelas itu ada beda pendapat.
Kiai yang tidak mufaraqah, bukan berarti setuju dengan Gus Dur?
Belum
tentu. Mungkin ada orang yang ngempet
(nahan diri, red).
Anda dulunya termasuk yang ngempet?
Ya. Sebenarnya saya itu punya
sejarah, pernah jauh sekali dengan Gus Dur. Tapi permusuhan dalam mimbar saja.
Itu berlangsung sekitar 15 tahun lamanya. Kemudian akan lahir PKB ini, saya
punya perhitungan, terlalu lama orang NU tidak berpolitik. Sampai saya punya
gagasan, akhirnya saya sadar, karena saking lamanya orang NU dijepit, sehingga
perlu adanya pemimpin. Ketika ssaya mencetuskan itu di depan orang, semua
tertawa. Kenapa ini? orang saya dikenal bermusuhan dengan Gus Dur. Saya
beralasan, insya Allah, kalau partai ini besar, Gus Dur akan nurut sama kiai.
Perhitungan saya
seperti itu. Ternyata mula-2 bagus. Perhitungan saya nggak keliru. Dan saya
waktu itu, kalau saya munculkan begini
begini, sehingga Gus Dur sangat dekat ke saya. Saya memang punya keinginan
untuk membesarkan partai baru, PKB ini. Akhirnya sedikit demi sedikit,
sewenang-wenang mencobak-cabik. Akhirnya saya keluar. Saya nggak mau.
Di PKB waktu itu posisi Anda?
Saya selamanya nggak pernah jadi pengurus partai
politik. Di PKNU, terpaksa karena untuk mendirikan. Dulu saya akitivis PPP,
nggak pernah jadi pengurus, saya Cuma
jadi pembantu. Di PKB juga seperti itu, jadi pembantu. Oleh Gus Dur disuruh
jadi dewan Syuro, nggak mau saya. Dua
kali saya diminta. Di PKNU terpaksa, karena masuk jadi deklarator 17 kiai itu.
Tapi ya bukan pengurus di lapangan, hanya mustasyar atau penasehat. Yang paling
tinggi kan mustasyar, kemudian syuro, baru tanfidz.
Awal mendeklarasikan PKNU ada
komentar khusus dari Gus Dur?
Nggak dengar saya. Cuma yang jelas yang mendirikan PKNU ini
dimusuhi. Jelas itu.
Dekat dengan Gus Dur praktis berapa
tahun?
Sejak berdirinya PKB hingga
sehabis MLB di Jogja. Itu mulai. Itu penghabisannya Gus Dur nurut kiai.
Menurut Anda, lebih efektif mana mendakwahi Gus Dur dengan mendekatinya
atau seperti sekarang ini?
Saya kalau efektifnya nggak tahu. Yang jelas sudah pernah
kumpul kok nggak menguntungkan
rasanya.
Kalau jauh seperti ini?
Yang jelas saya nggak diriwuki (direpotkan), saya nggak dibawa-bawa. Lebih
baik saya
membesarkan PKNU ini.
Dulu sempat ada fatwa bughat ketika Gus Dur diturunkan?
Itu lain. Apalagi Gus Dur,
Megawati diturunkan saya fatwa bughat. Padahal saya kan menolak pencalonan
Mega. Haram perempuan mencalonkan presiden, dan memilih presiden perempuan juga
haram. Tapi kalau terpaksa jadi harus diikuti. Dalam ajaran Islam seperti itu,
kalau ada pemimpin yang sudah jadi, karena kekuatannya dia dipilih orang
banyak, harus tunduk. Siapa yang akan menurunkannya dosa. Saya bicara, siapa
yang akan menurunkan Mega dosa. Inilah uniknya agama Islam. Hebatnya ajaran
Islam. Jadi Islam itu nggak senang
kisruh. Kalau sudah dipilih orang harus ditaati. Tapi kalau ingin mengajukan,
wanita jangan. Tapi kalau sudah jadi, wajib diikuti.
Meskipun Indonesia tidak menganut Syariat Islam secara institusional?
Iya, pokoknya siapa yang
memimpin negara. Pokoknya jangan negara kafir lho ya, itu siapa yang sudah
ditetapkan menjadi penguasa, haram
diotak-atik. Jangan diturunkan, dosa. Kecuali kalau dia mengajak pada
kekufuran, itu wajib diturunkan. Kalau masih mengajak pada maksiat, nggak boleh
diturunkan. Nasihati saja.
Ketika itu tidak ada pembenaran untuk
menurunkan Gus Dur?
Tidak
ada, menurut syariat lho ya.
Gus Dur mendapatkan penghargaan dari AS dalam bidang perdamaian, tapi untuk
mendamaikan partainya nggak bisa?
Gus Dur itu katanya tokoh
demokrasi, tapi nyatanya nggak
demokrasi. Itu kan ajaib. Kan
terkenal katanya tokoh demokrasi, tapi dia sendiri nggak demokrasi.
Pembekuan-pembekuan itu kan tidak demokrasi
namanya.
Untuk 2009, harapannya untuk warga
NU?
Pertama, supaya mengutamakan
pembelaan terhadap keadilan, kejujuran, dan kebenaran. Kedua, ciptakan bangsa
dan negara ini sejuk, aman, damai, tapi tidak mengurangi dinamisasi. Sejuk tapi
dinamis. Damai tapi dinamis. Ketiga, supaya nanhdhiyyin
ini berpikir betul mana yang cocok dengan ajaran ahlussunnah wal jamaah.
Biodata:
TTL : Besuk Pasuruan, Agustus 1942
Jabatan : Pengasuh Pesantren Raudlatul Ulum Besuk Pasuruan,
Mustasyar PKNU
Pendidikan : Pesantren Lirboyo Kediri (1959-1962)
Putra : 9 (1 almarhum)
Cucu : 13 orang.
Pendiri pesantren Raudhatul
ulum adalah KH Ali Murtadho, tahun 1881. Penerus kedua ayah saya, KH Badar.
Diganti oleh menantunya, KH Mashadi. Kemudian diganti oleh KH Ahmad Jufri,
mertua saya, adik KH Ali Murtadho. Pengganti KH Ahmad Jufri, saya yang
menantunya yang sekaligus cucu KH Ali Murtadho. Sehingga kemudian saya dikenal
dengan nama Muhammad Subadar. Nama saya sendiri Muhammad. Untuk Mas, itu
panggilan untuk anak kiai, seperti Gus. Saya juga nggak tahu, siapa dulu waku
mondok yang pertama kali manggil saya Mas Subadar.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/