gagasan semacam IBCN ini
(IBCN = Indonesian "Brain Circulation" Network),
yang digagas oleh para Expat Indonesia
di Malaysia ...

tentu bukan gagasan yang sama sekali baru.
bangsa lain yang juga dikenal sebagai
bangsa "pekerja migran", seperti India
dan China tentu sudah lama memulainya.

Untuk bangsa Indonesia, sebagai contoh,
di California, yang dikenal sebagai salah
satu pusat industri hitech di Amerika
juga ada IPA (Indonesian Professional 
Associations)

<http://www.ipanet.org/about.php>

               ***

Almarhum Profesor Samaun Samadikun
(ketua LIPI tahun 1990-an) pernah
mempunyai istilah yang berbeda untuk
ini: Indonesian Brain Reserve

(asal jangan dibalik menjadi 
 Indonesian Brain *Reverse* lho :)  ).

Ada baiknya dibuat semacam "alat ukur"
untuk mengukur tingkat "Brain Gain"
Expat Indonesia dibandingkan
dengan Expat bangsa-bangsa yang lain.
Kira-kira apa parameter/indikator
yang tepat untuk ini?

Kalo sifatnya hanya "kuantitatif" sih,
di mana "brain" di identik-kan dengan
jumlah orang dg. kualifikasi tertentu
(S1, S2, S3), ngitungnya memang ga
begitu susah. Untuk setiap level
kualifikasi pendidikan formal di
atas:

-------------------------------------------------------
  Net Brain Reserve = Returning Brains - Outgoing Brains
-------------------------------------------------------

di mana satuan "1 brain = 1 person". Data
seperti ini bisa lah didapatkan dari
Imigrasi Indonesia serta dari KBRI-2.

tapi jika yang dimaksud "kualitatif",
yaitu "knowledge & experience gain"
ini jauh lebih susah dijabarkan ...

---( ihsan hm )------------------------

catatan: 
---------
denger-2 ada yang namanya
dharma-wanita ato pengajian
ibu-ibu Airbus di Eropa? :-))

------------------------------------------------------------------
From: Hari Primadi
Subject: [Oil&Gas] Kancah IATMI di Negeri Jira
Cc: [EMAIL PROTECTED], 
   indo_Oil_Expat Moderator", [EMAIL PROTECTED]
Date: Tuesday, August 5, 2008, 5:12 PM
-----------------------------------------------------------------


Terima kasih mas Zein, untuk memforwardkan pendapat 
dan saran teman2 KMI kepada saya. Mohon dapat meneruskan 
informasi IBCN berikut ini ke teman-teman, karena
keterbatasan akses milis saya.

Saat ini kami tengah mempersiapkan materi FAQ, 
dimana isinya kurang lebih mirip dengan pertanyaan2 
yang diajukan. Saya copy-paste kan sebagian saja ya 
mas Zein (under construction ;-).

Kelak saatnya KMI akan menjadi mitra IBCN dalam 
berdiskusi masalah energi. KMI dan bidang perminyakan 
sejauh ini memang sudah sangat maju dan bidang ini 
selalu mengupdate sesuai teknologi yang ada di dunia 
perminyakan. Saat bidang IT sudah sangat maju.
 
Namun sasaran IBCN bukan hanya itu tapi lebih 
menyeluruh disegala aspek, dimana masyarakat 
di dalam negeri susah mendapatkan info ataupun 
solusi, maka sangat diharapkan komunitas IBCN 
dapat berbagi pengalaman yang dipunyai untuk 
membantu mereka.

Apa itu IBCN?
--------------
IBCN adalah Indonesian Brain Circulation Network, 
sebuah jaringan ekspatriat mancanegara yang bertujuan 
untuk memberi masukan kepada negara dalam rangka
memperkuat keunggulan bangsa. Di lain pihak, para 
ekspat dapat mengaktualisasikan dirinya dan menarik 
manfaat dari akumulasi interaksi dan penambahan 
pengetahuan dari jaringan.

Bagaimana sejarah terbentuknya IBCN?
-------------------------------------
Ide IBCN terbentuk dari hasil seminar yang digelar 
di Aula KBRI Kuala Lumpur pada Sabtu, 5 Juli 2008. 
Seminar Indonesia Satu ini mengambil tema: 

"Kebangkitan Nasional, HUT RI Ke-63, dan 10 
Tahun Reformasi: Kontribusi Masyarakat Indonesia
di Malaysia untuk Mengukuhkan Kebangkitan Bangsa." 

Pembahasan ini menghasilkan suatu formulasi yang 
bisa diwujudkan dalam  memanfaatkan potensi sumber 
daya manusia melalui pendayagunaan profesional 
dan ekspatriat Indonesia yang berada di luar negeri. 

Pemanfaatan tersebut dijalankan dengan menerapkan 
"Brain Circulation" (Jaringan Pendidikan dan Profesional) 
oleh para ekspatriat dan profesional Indonesia 
dalam membangun tanah airnya.


Mengapa hanya ekspatriat Indonesia?
------------------------------------
IBCN terbuka untuk jalur para akademis, peneliti, 
praktisi pendidikan dan professional Indonesia 
di mancanegara. Segmen ini dinilai mempunyai 
cakupan yang bernilai 'pragmatis'. Belajar dari 
keberhasilan India dan China, tidak lepas dari 
peran ekspatriatnya yang berada di mancanegara. 

Salah satu contoh dari India adalah SiliconIndia.com 
<http://www.siliconindia.com>, dimana portal ini
terkenal menghasilkan aliran 'supply' dan 'demand' 
untuk USA dan India, juga sebaliknya.

Apa yang bisa diharapkan dari IBCN?
-----------------------------------
Tujuan dan misi utama dari IBCN dapat dilihat 
dalam About Us <http://ibcn.web.id/about_us.php> 
Dalam membantu mewujudkan percepatan peningkatan 
kurva pembelajaran, pendidikan dan pemecahan 
masalah, maka konsep "Brain Circulation" diperkuat 
oleh kerangka internet dan teknologi informasi
(a.k.a. website ini) dalam mempersatukan dan 
memperkaya kontribusi ekspatriat.


Bagaimana peran Pemerintah dalam IBCN?
---------------------------------------
Pemerintah berperan aktif melalui KBRI/KJRI 
sebagai 'hub'. Melalui KBRI/KJRI ini link 
dengan pemerintah dan instansi terkait akan 
terbina. Instansi terkait ini dijabarkan 
dalam About Us.

Bagaimana IBCN ini dapat bekerja secara kontinu?
------------------------------------------------
Peran aktif ekspatriat Indonesia dalam menggunakan 
IBCN ini sebagai platform "knowledge management", 
mentoring, dsb. Selain itu, peran aktif Pemerintah 
atau instansi terkait dalam transparansi isu 
strategis dan komitmen implementasi.

Seiring dengan meningkatnya nilai tambah IBCN 
dalam membantu percepatan kemajuan bangsa di 
sektoral terkait, maka IBCN akan bekerja secara 
kontinu dan kontribusinya akan semakin nyata. 

IBCN lahir tanpa menganut sistem organisasi
ataupun struktural. Ini dimaksudkan supaya 
jaring ekspatriat Indonesia dapat berkembang 
luas dan bebas berkarya positif secara cepat.


Siapa/instansi apa yang mendanai IBCN?
----------------------------------------
Sampai saat ini IBCN masih dalam kondisi
 swadaya ("self-resourced"). Kondisi ini
dapat berubah sewaktu-waktu sesuai peran 
taktis dan strategis dari IBCN.


Scope of work IBCN
-------------------
- Studies, Research, Research & Development
- Technology selection, recomendation
- Studies on Potential Expertise, Market, Problems
- Roadmap development
- Standardization Recommendation
- Studies Business Development
- Skill development roadmap
- Agents of Change in Professional,Intelectual,Social culture
- Business networking for SME in Indonesia with Foreign Partners
- Promoting Indonesia for Investment Destination
 
Program IBCN
-------------
- Inventarisasi expat Indonesia di seluruh dunia
- Inventarisasi problem spesifik yang ada di kementrian 
  kementrian Kominfo,Diknas,RisTek,Pertanian,Kelautan, 
  Pertambangan-Energi dan - Perhubungan
- Inventarisasi problem yang terdapat pada Dati-1,Dati-2
- Develop recommendation for technology deployment and 
  regulation also alternatives solution of the problems 
  faced by Dati-2,Dati-1 and - - Indonesia government.
- Focus group discussion
- Information dissemination
- Knowledge/Technology recomendations
- International expert sharing
- Seminar, Workshop, Training
- Support Outsourcing


Output IBCN:
------------
- White Paper/Blue Print
- Standardization studies
- Collaboration Research, Joint Research
- Recommendation, Training and Consultation
- Roadmap Products/Application/Contents/Regulation
- Expert support,supervise,etc
- Indonesian inventory potential reports

Dan masih banyak lagi informasi yg diperoleh 
dengan bergabung dengan IBCN. Silakan melakukan 
registrasi dengan meringankan jari-jemari teman-teman ke

<http://ibcn.web.id> 

Terlampir adalah risalah Seminar Indonesia 1 
yang kita sampaikan kepada RI-1, tanggal 7 Juli 
2008, lalu.

Salam Indonesia,

Hari Primadi

=======================================================

From: Kuswo Wahyono <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Oil&Gas] Kancah IATMI di Negeri Jiran
To: "[EMAIL PROTECTED]" 
Date: Sunday, August 3, 2008, 8:14 PM


-------------------------------------------
Ekspatriat: Nasionalisme Ekspatriat Melayu
-------------------------------------------

(Dikutip dari Majalah Gatra)

<http://www.gatra.com/artikel.php?pil=23&id=117080>

Kado spesial kemerdekaan tengah disiapkan kaum 
ekspatriat Indonesia di Malaysia. Awal Agustus 
ini, mereka mulai menggerakkan jejaring yang 
mereka sebut Indonesian Brain Circulation 
Network (IBCN). Yakni jaringan kaum profesional 
Indonesia di luar negeri. Mereka bertekad
menyumbang apa pun bagi kemajuan Tanah Air.

Dipakai istilah brain, karena untuk menepis 
citra miring di balik fenomena yang populer 
dengan sebutan brain drain. Yaitu gejala
terkurasnya kaum cerdik pandai, berkurangnya 
para memilik "otak" brilyan dari sebuah negeri, 
akibat hijrah ke luar negeri untuk membangun 
karier berstandar internasional sekaligus 
mendongkrak kompetensi. Fenomena ini lebih 
sering dilihat secara negatif.

Kaum profesional perantau mancanegara itu 
kerap mendapat kritik kurang nasionalis. 
Mereka dinilai kurang peduli pada nasib bangsa
yang memerlukan keahlian mereka. Lebih-lebih, 
mereka yang terikat kontrak beasiswa atau dinas 
pegawai negeri bisa dituding mangkir.

Hari Primadi, Ketua Ikatan Ahli Teknik Perminyakan 
Indonesia (IATMI) Komisariat Kuala Lumpur, 
menyangkal asumsi seolah-olah kaum
profesional perantau demikian egois. Hanya 
memikirkan karier pribadi. Banyaknya tenaga 
ahli di mancanegara itu, bila dikonsolidasi 
lewat jaringan yang produktif, menurut Hari, 
justru berpeluang memberi banyak keuntungan 
(brain gain) bagi perkembangan dalam negeri.

"Untuk menjawab kekhawatiran brain drain, kami 
bikin jaringan untuk mendapatkan brain gain," 
kata Hari. India dan Cina bisa dirujuk
sebagai model negara yang berhasil meraup 
keuntungan dari diaspora kaum terdidiknya 
ke pelbagai penjuru negara.

Indonesia, sebagai negara berpopulasi terbesar 
ketiga di Asia setelah Cina dan India, semestinya 
bisa belajar pada dua negara itu, yang memiliki 
problem kependudukan mirip Indonesia. Misalnya 
pengangguran, kemiskinan, dan dampak sosial 
ledakan jumlah penduduk.

Hari menolak penilaian bahwa jaringannya itu 
sekadar aksi latah, mengingat begitu banyak 
organisasi masyarakat Indonesia di luar
negeri. Magister teknik geologi dari ITB 
yang pernah tiga tahun bekerja di Petronas, 
Malaysia, itu menggarisbawahi, jaringannya 
akan memprioritaskan agenda pada peran nyata. 

Target brain gain itu difokuskan pada upaya 
menyumbang akselerasi pembangunan domestik dan
peningkatan daya saing global.

Aksi kolektif mereka tengah dirumuskan. Tapi, 
secara perorangan, sejumlah anggotanya memiliki 
anak asuh di Aceh dan Batam. Selain kaum
ekspatriat, mereka menggalang dukungan para 
pelajar Indonesia di luar negeri, dunia industri, 
organisasi profesi, perwakilan RI, hingga
perguruan tinggi.

Agustus ini, mereka menyiapkan peluncuran 
website dan blog sebagai wadah jaringan 
berbasis teknologi informasi. Telah dibentuk 
tim inti IBCN, yang terdiri dari beberapa 
organisasi profesi dan dosen. Tim ini fokus
membangun jejaring sebagai tulang punggung.

Konsolidasi tenaga ber-skill tinggi itu, 
untuk konteks Malaysia, punya manfaat 
tersendiri. Bisa menghapus citra umum bahwa 
tenaga kerja asal Indonesia hanya mampu 
jadi pekerja rendahan: kuli bangunan, 
penjaga kebun sawit, sopir, atau pembantu. 

Padahal, banyak tenaga ahli yang amat 
diperhitungkan industri Malaysia.

Pada saat ini, di negeri jiran itu, 
ekspatriat asal Indonesia sebagian besar 
bekerja sebagai peneliti dan dosen (51%). 

Berikutnya di bidang minyak dan gas (25%). 
Lalu bidang teknologi informasi dan
telekomunikasi (6%), dokter (6%), 
perdagangan (6%), dan pilot serta
awak kabin (5%). Di Kuala Lumpur 
saja, IATMI punya anggota 200-an
orang.

Peta itu, kata Hari, menandakan bahwa 
kaum profesional Indonesia diapresiasi 
di Malaysia. Bermula dari Malaysia, 
IBCT hendak mengembangkan jaringan 
ke negara terdekat, seperti Singapura,
Thailand, dan Jepang. Seluruh rencana 
kado kemerdekaan yang diberi label 
"Semangat Merah-Putih dari Kuala Lumpur" 
itu disampaikan kepada Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono (SBY), ketika pertemuan 
pucak D-8 di Kuala Lumpur, awal Juli lalu.

SBY menilai konsep jejaring itu sebagai 
gagasan mengesankan. Rencana tersebut 
didukung, dengan saran, tidak terlalu 
terjebak jadi organisasi formal. Isu 
sumbangsih warga Indonesia di perantauan, 
baik karena studi maupun bekerja, juga 
menjadi pusat perhatian dalam berbagai 
kunjungan SBY ke sejumlah negara, seperti 
Australia dan Amerika Serikat.

Pada saat menghadiri pertemuan APEC di 
Australia, September 2007, SBY harus 
menjawab pertanyaan mahasiswa Indonesia 
tentang apa yang semestinya mereka 
lakukan usai kuliah: tetap tinggal di 
negara itu atau pulang kampung? 

Kebetulan, ketika itu dilangsungkan 
Konferensi Internasional Pelajar Indonesia 
bertema "Stay Abroad or Return Home?"

SBY memaklumi keengganan banyak warga 
Indonesia untuk pulang kampung. Mengingat 
iklim kerja di Indonesia belum memadai. 
Di era global dan kemudahan teknologi 
informasi, kata SBY, bukan zamannya lagi 
mengecam mereka tidak cinta Indonesia. 
Sumbangsih pada nusa-bangsa bisa
dilakukan di dalam negeri maupun di 
luar negeri.

Bila tersedia peluang, SBY menyarankan 
mereka tetap di luar, memperbanyak wawasan 
dan pengalaman. "Mengabdi pada negara bisa
dilakukan dari mana saja dengan profesi 
apa saja," katanya. SBY menghendaki, 
Indonesia memiliki lapisan kecil masyarakat 
yang ia sebut critical mass, yang berkemampuan 
tinggi dan berdaya saing global.

SBY mencontohkan India, Cina, dan Jepang yang 
menebar putra-putri terbaiknya ke pelbagai 
penjuru dunia. Mereka menjadi jaringan efektif
untuk menghubungkan negara mereka dengan dunia. 
"Akhirnya semuanya bermanfaat bagi ekonomi 
dalam negeri mereka," ujar SBY kepada para
pelajar Indonesia di Sydney.

Tapi diingatkan oleh SBY, bila suatu saat 
negara memanggil, meraka harus pulang. 
Dicontohkan tentang kesediaan B.J. Habibie 
pulang ketika dipanggil Presiden Soeharto. 
Padahal, sebagai ilmuwan papan atas di Jerman, 
Habibie menikmati banyak fasilitas.

Pada saat berkunjung ke markas Microsoft 
di Seattle, Amerika Serikat, SBY menemui 
40-an profesional Indonesia. Kepada mereka, 
SBY bertanya, "Kalau Indonesia membangun 
research center yang IT based, Anda mau 
pulang?" Mereka spontan bilang mau. 
"Saya senang mendengar jawaban mereka. 
Nyes rasanya," kata SBY.

Di Tanah Air, kesulitan mencari sumber 
daya manusia (SDM) terampil dirasakan 
pada beberapa sektor. Antara lain sektor 
perminyakan. Ketika berkunjung ke Gatra, 
Kamis pekan lalu, Direktur Utama
Pertamina, Ari H. Soemarno, menyatakan 
bahwa masalah utama Pertamina kini 
adalah SDM dan teknologi. Soal dana 
sudah bisa diatasi.

Lebih-lebih, SDM dan teknologi untuk 
eksploitasi minyak di lepas pantai dan 
laut dalam. Padahal, cadangan minyak 
banyak terdapat di lepas pantai. Di 
lapangan Karama, di Laut Makassar, 
Pertamina terpaksa bekerja sama dengan 
Stat Oil dari Norwegia, yang
berpengalaman memproduksi minyak dari 
laut.

"Cari SDM ini susahnya minta ampun," 
kata Ari. Bukankah Indonesia punya 
segudang SDM perminyakan berkualitas? 
"Iya, banyak, tapi dipakai orang luar," 
ujar Ari. Di Indonesia, kini ahli reservoar
dengan pengalaman 10-15 tahun digaji 
US$ 18.000-US$ 20.000 per bulan. 
"Di luar jauh lebih besar," tutur Ari.

Ari punya 12 mantan anak buahnya yang 
kini bekerja di Stat Oil, menjalankan 
kilang LNG di dekat Kutub Utara yang 
bersuhu sampai minus 40 derajat celsius.
Mereka digaji hingga US$ 18.000 per 
bulan, dengan sistem 47 hari kerja, 
30 hari libur. Waktu libur mereka 
manfaatkan untuk pulang kampung, 
tapi tetap digaji. Ada juga sekitar 
400 insinyur Indonesia yang bekerja 
di beberapa kilang LNG di Qatar.

Kualitas insinyur perminyakan dan 
pertambangan Indonesia, kata Ari,
diakui dunia. "Mereka bilang ke saya, 
thank you very much, orang Anda ajarin 
kami," ujar Ari, menirukan ucapan 
mitranya di Stat Oil. Namun gaji besar 
itu kadang bukan segalanya.

Belakangan, Ari melihat mulai ada gerakan 
pulang ke Tanah Air. Selain alasan sentimental, 
seperti cinta pada nasi dan udara tropis, juga
karena industri perminyakan dalam negeri 
makin profesional. Pertamina sejak jadi 
persero, kata Ari, mulai sanggup menggaji 
dengan standar internasional. Dengan iklim 
usaha domestik yang kian kondusif macam
ini, tanpa dipanggil negara pun, kaum 
profesional terbaik bangsa ini
pasti kembali dengan senang hati.



Kirim email ke