http://www.antara.co.id/arc/2008/8/7/indonesia-harus-perjuangkan-keadilan-di-wto-kata-presiden/

*Indonesia Harus Perjuangkan Keadilan di WTO, Kata Presiden*


Jakarta (ANTARA News) - *Presiden Susilo Bambang Yudhoyono *menyatakan
Indonesia harus memperjuangkan keadilan di Organisasi Perdagangan Dunia
(WTO), agar produk pertanian Indonesia mendapat tempat.

Dalam pidatonya di hadapan pimpinan program pasca-sarjana Perguruan Tinggi
Negeri (PTN) se-Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Kamis, Presiden
Yudhoyono mengatakan Indonesia sering menjadi korban dari tatanan
perdagangan dunia yang tidak adil.

"Ini juga harus kita perjuangkan agar adil, sehingga petani kita dapat
menikmati kenaikan harga pangan dunia," ujarnya.

Ekspor dan impor pangan, kata Presiden, pasti terjadi di negara mana pun
,termasuk Indonesia. Ketidaksesuaian antara permintaan dengan penawaran,
lanjut dia, juga terjadi di negara mana pun di dunia, termasuk Indonesia.

"Ini suatu realitas di luar kekuasaan kita untuk mengontrol. Ini dunia
nyata," ujarnya.

Pada pertemuan WTO di Jenewa, Swiss, pekan lalu, negara berkembang berseteru
dengan negara maju soal subsidi pertanian yang diberikan negara maju di
sektor pertanian.

Negara berkembang juga memprotes larangan Uni Eropa yang tidak
memperkenankan masuknya komoditi pertanian ke negara mereka.

Presiden Yudhoyono mengatakan pemerintah sudah memberikan subsidi benih dan
pupuk kepada para petani agar mereka dapat menaikkan produktivitasnya.

Presiden mengklaim, pemerintahannya berhasil memimpin produktivitas
pertanian hingga mencapai swasembada dengan angka dua juta ton, yang
merupakan nilai tertinggi selama 13 tahun terakhir.

"Waktu saya canangkan swasembada beras di Departemen Pertanian pada 2006
lalu, banyak yang tidak yakin. Tetapi, ternyata bisa," ujarnya.


Ketahanan pangan

Presiden mengingatkan jumlah penduduk Indonesia saat ini 230 juta orang dan
dapat mencapai 300 juta jiwa pada 2025.

"Sehingga, kita harus terus menerus menjalankan kebijakan ketahanan pangan
ini," katanya.

Sebagai hasil pertemuan di Bogor pada 5-7 Agustus 2008, 136 pimpinan program
pasca-sarjana dari 46 PTN se-Indonesia merekomendasikan beberapa langkah
untuk ketahanan pangan.

Di antaranya diversifikasi pangan serta konsolidasi kekuatan petani kecil
dan buruh tani.

Mereka juga mengusulkan perluasan akses petani terhadap layanan kredit.

Presiden Yudhoyono dalam sambutannya berharap pendidikan pasca-sarjana terus
memperbaiki mutu pendidikannya, sehingga dapat memberi solusi untuk berbagai
masalah negara. (*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke