http://www.kaskus.us/showthread.php?t=991997
 sharita kaskus holic
 [Berita] Kisah Pendukung Utama Kenaikan BBM "Freedom-Rizal 
Mallarangeng-Institute"
Selingkuh Freedom Institute?
Oleh Sulfikar Amir

SELINGKUH itu indah", begitu bunyi frase yang sempat populer di Jakarta. 
Selingkuh bagai fenomena "wajar", yang bagi kalangan tertentu dianggap rekreasi 
yang menantang. Tetapi, wajarkah bagi intelektual untuk melakukan selingkuh 
dengan pemegang kekuasaan?

Pertanyaan ini menjadi penting dalam kontroversi iklan Freedom Institute yang 
mendukung kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga BBM. Lepas dari tujuan 
"mulia", iklan itu "selain membujuk masyarakat" juga untuk "meyakinkan dan 
mendorong pemerintah untuk segera dan tidak ragu mengambil kebijakan tepat" 
(Rizal Mallarangeng, Kompas 3/3), aroma selingkuh mudah merebak ke publik. Ada 
dua faktor yang menggoda kita mengambil kesimpulan selingkuh.

Pertama, koneksi antara Freedom Institute dan Menteri Koordinator Perekonomian 
Aburizal Bakrie, pengusaha besar yang juga penyandang dana Freedom Institute. 
Oleh karena itu, tidak sulit untuk melacak kepentingan apa yang bermain di 
sini. Se-freedom apa pun Freedom Institute, pengaruh Aburizal atas sikap dan 
dukungan pusat studi ini tentu tidak dapat dinafikan begitu saja.

Kedua, aliran ideologi. Freedom Institute adalah salah satu kantung liberalis 
di Indonesia. Ini terlihat dari orientasi pemikiran Direktur Freedom Institute 
Rizal Mallarangeng, liberalis tulen yang menulis disertasi tentang dinamika 
gagasan liberalisme ekonomi di Indonesia. Karena itu, tidak heran jika kenaikan 
harga BBM yang didukung Rizal dan rekan-rekan dimaknai sebagai bentuk 
kemenangan kaum liberal ("Kenaikan BBM, Kemenangan Neoliberal", Kompas 3/3).

Semenarik apa pun kesimpulan yang dapat diambil dari relasi kekuasaan dan 
kepentingan yang ada dalam kasus iklan Freedom Institute tidak mudah untuk 
menjawab pertanyaan apakah Freedom Institute telah berselingkuh atau tidak. 
Kalaupun benar, dana iklan Freedom Institute yang berbiaya besar (Effendi 
Gazali, "(Maaf) Tak Mampu Beriklan", 2/3) itu berasal dari Aburizal, "pemilik" 
Freedom Institute, itu belum cukup menjelaskan apakah selingkuh atau, seperti 
kata Rizal, pemihakan pada gagasan.

RIZAL menegaskan, "selingkuh" kaum intelektual adalah hal wajar. Dikemukakan 
beberapa nama seperti Condy Rice dan Henry Kissinger. Bahkan, Soekarno, Hatta, 
dan Sutan Sjahrir pun dianggap ber-"selingkuh" dengan kekuasaan. Hati-hati 
dengan klaim ini.

Pertama, kita harus bisa memisahkan kaum profesional dan kaum intelektual. Kaum 
profesional adalah pengguna pengetahuan yang cenderung bersikap taken for 
granted dengan pengetahuan yang dimiliki. Sementara kaum intelektual adalah 
penghasil pengetahuan yang senantiasa bersikap kritis dan reflektif terhadap 
bentuk dan implikasi dari pengetahuan.

Kedua, kita harus bisa memberi batasan antara intelektual dan politisi. 
Mencampuradukkan keduanya akan membuat pemahaman kita ambivalen.

Namun, lepas dari catatan kecil ini, apa yang disampaikan Rizal sebagai respons 
terhadap tuduhan selingkuh adalah indikasi bagaimana bingungnya kaum 
intelektual di Indonesia tentang posisinya di masyarakat. Apakah kaum 
intelektual harus steril dari jaringan kekuasaan? Apakah pengetahuan sebagai 
cultural capital kaum intelektual harus benar-benar murni dari berbagai 
kepentingan? Jika semua tuntutan netralitas dan obyektivitas menjadi syarat 
bagi sebuah intelektualisme, apakah itu dapat terjadi atau hanya sekedar utopia?

Dalam tulisan "Cendekiawan Bukan Malaikat" (Kompas, 15/12) saya jelaskan, 
bagaimanapun dan di mana pun juga kaum intelektual senantiasa bersinggungan 
dengan kekuasaan. Berbagai bentuk pengetahuan yang dihasilkan kelas terdidik 
ini tidak pernah lepas dari pengaruh kepentingan yang datang melalui berbagai 
saluran politik, sosial, ekonomi, atau budaya. Tetapi, harus dicatat, kekuasaan 
yang berhimpit pada kaum intelektual tidak harus dilihat semata-mata dalam 
makna represif dan otoritatif. Kekuasaan itu adalah aliran energi yang 
memungkinkan interaksi antara elemen masyarakat terjadi secara dinamis dan 
harmonis.

Mungkin inilah yang ingin dilakukan Freedom Institute dengan menjadikan iklan 
sebagai media kekuasaan yang dinamis. Oleh karena itu, Rizal menantang kaum 
penentang kenaikan harga BBM untuk membuat iklan serupa. Tantangan ini sedikit 
naif karena protes dan demonstrasi menentang kebijakan itu terjadi di 
mana-mana. Kaum intelektual penentang kebijakan BBM tidak perlu menghabiskan 
ratusan juta rupiah untuk menunjukkan sikapnya. Tetapi, yang lebih penting 
untuk dicermati adalah bagaimana kekuasaan intelektual itu dimainkan Freedom 
Institute.

Jika kembali kepada prinsip bahwa kaum intelektual senantiasa bersikap kritis 
dan reflektif terhadap pengetahuan dan konsekuensinya bagi masyarakat, dukungan 
Freedom Institute terhadap kebijakan BBM yang diekspos secara mewah adalah 
tindakan tergesa-gesa. Apa pun logika dan argumen yang digunakan serta 
secanggih apa pun model ekonomi yang dipakai dalam mengambil kebijakan harga 
BBM, sebagai lembaga studi yang independen selayaknya Freedom Institute 
bersikap kritis dan reflektif terhadap keputusan pemerintah dan tidak 
mendahului reaksi publik terhadap kebijakan itu.

Dukungan secara terbuka justru menimbulkan pertanyaan tujuan iklan itu. Apakah 
dengan adanya dukungan itu membuat masyarakat mau mengerti dan menerima 
kebijakan kenaikan BBM saat mereka menghadapi realitas hidup yang kian sulit 
akibat kebijakan itu? Lain halnya jika Freedom Institute adalah think tank 
resmi pemerintah yang melakukan penelitian kebijakan yang akan diambil 
pemerintah. Jika ini yang terjadi, dukungan Freedom Institute tidak akan 
menjadi masalah. Namun, Freedom Institute adalah lembaga studi independen. Oleh 
karena itu, terasa janggal jika sebuah lembaga independen memberi dukungan 
penuh pada kebijakan pemerintah lepas dari setuju-tidaknya mereka pada 
kebijakan itu. Kaum intelektual memang tidak pernah lepas dari faktor 
kekuasaan, tetapi apa yang ditunjukkan Freedom Institute adalah bentuk 
submissive terhadap pihak otoritas.

APAKAH Freedom Institute telah berselingkuh?

Selingkuh atau tidak sebenarnya tidak relevan lagi jika kita melihat fenomena 
ini secara lebih luas. Hebohnya kasus iklan Freedom Institute tidak hanya 
bukti, bagaimana carut- marutnya proses pembuatan kebijakan yang terlalu 
bertumpu pada pandangan sepihak pemerintah, tetapi juga menunjukkan bagaimana 
kaum intelektual kikuk saat berhadapan dengan sumber-sumber kekuasaan yang 
berasal dari birokrasi dan pemilik modal.

Ini bukan soal pilihan "rasional" kaum intelektual, tetapi sebuah kondisi 
struktural dari sejarah panjang relasi antara kaum elite terdidik dengan 
pemegang otoritas publik. Kaum intelektual masa kini adalah jelmaan kaum priayi 
masa lalu yang merupakan subordinasi kaum penguasa. Oleh karena itu, tantangan 
kaum intelektual masa kini adalah mencari sosok jati diri yang otonom dan lepas 
dari bayang-bayang masa lalu. Dengan begitu, kaum intelektual dapat menggunakan 
kekuasaannya secara bijaksana.

Sulfikar Amir Kandidat Doktor di Dept Science and Technology Studies, 
Rensselaer Polytechnic Institute di Troy, New York
http://64.203.71.11/kompas-cetak/050...ni/1600946.htm

------------

Masih muda saja sudah begini jalan pemikirannya, apalagi kalau sudah tua dan 
memperoleh kekuasaan? Hanya Tuhan yang tahu ... 

===
Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta
Informasi selengkapnya ada di:
http://www.media-islam.or.id

Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS

Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252

Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari Telkomsel 
Informasi selengkapnya ada di http://syiarislam.wordpress.com


      

Kirim email ke