MUI sudah terlalu Otoriter dalam memberikan sebuah "Fatwa", MUI tidak
melihatnya dari sisi "Kemanusian".
Bayangkan jutaan orang orang akan menganggur, mereka akan
kehilangan "matapencaharian", mau dikasih makan apa mereka? MUI mau
memberikan subsidi kepada mereka yang pada nganggur?
Kebohongan macam mana pula ini? agama jangan jadikan "kedok" untuk
melegalisasikan sebuah keputusan, Berat tanggung jawabnya sama TUHAN.
Apalagi jaman lagi begini apa-apa susah, kriminalitas merajalela apa
mau ditambah lagi dengan urusan "Fatwa" rokok ini? Mau dikemanakan
nasib anak bangsa?
Mbok ya dipikir secara matang dalam mengambil sebuah
keputusan,acuanya apa? jangan pake acuan dimana dalilnya "lemah" lalu
diolah menjadi "dalil" Sohih demi sebuah
kepentingan, "nauzubillah......
Sudah saatnya MUI ngurusin masalah intern saja, itupun sudah bagus
daripada di bubarkan, bisa "rame" negeri ini nanti kalau MUI
dibubarkan, sudah banyak "Fatwa" MUI yang menyinggung banyak perasaan
orang,bikin "Fatwa" yang tidak di pikir masak-masak justru akan
menjadi bumerang MUI, yang konon dihuni Tokoh2 yang mumpuni
soal "Agama" tapi kurang "mumpuni" dalam hal "spiritual".
Saya tidak melakukan pembelaan terhadap "perusahaan rokok". Saya
hanya mau menghimbau saja, Mbok "dipikir" lebih "matang" jangan
didominasi "emosi" dalam mengambil sebuah "keputusan" dalilnya kan
ada Pak Kyai?he....he.....
bravo cinta kasih salam damai selalu buat saudara-saudaraku yang ada
di MUI, TUHAN selalu memberkati kalian dengan CINTA KASIH