HAHAHA...

MUSUH ISLAM NGOMONGIN ISLAM !!!

GAWAT MEK!!!


HAHAHA...





--- In [EMAIL PROTECTED], MGR <indunisi@> wrote:
>
> 
> 
> 
> 
> Agenda Komunitas
> Salihara di Bulan Ramadlan
> 
>  
> 
> Seni
> dan Islam
> 
> Diskusi, Pemutaran Film,
> Pertunjukan Musik
> 
>  
> 
> Bagaimana hubungan
> Islam dengan seni? Inilah pertanyaan utama yang ingin diulas secara 
khusus
> dalam rangkaian diskusi ini. Terkadang masih ada pandangan bahwa 
Islam tidak
> memiliki apresiasi sedikit pun terhadap kesenian, khususnya seni 
rupa, film dan
> jenis-jenis seni pertunjukan lainnya: musik, teater, dan tari. 
Inilah pandangan
> yang kaku, dan merupakan produk yang berasal dari masa lalu. 
Sedangkan di seberang
> yang lain: menafikan Islam memiliki kontribusi terhadap 
perkembangan kesenian. Sehingga
> tak ada yang layak disebut "seni Islam".
> 
>  
> 
> Namun pengalaman yang
> tak bisa dipungkiri, Islam justeru berkembang melalui kreasi-kreasi 
kesenian.
> Islam yang hidup tak hanya melalui ibadah-ibadah ritual saja, tapi 
kesenian
> pula yang meniupkan nafas kehidupan bagi Islam. Melalui kesenian—
yang merupakan
> puncak kreasi manusia—Islam menjadi lebih manusiawi, membumi, di 
samping ia membawa
> ajaran-ajaran Ilahi. 
> 
>  
> 
> Dan pertanyaan
> selanjutnya, bagaimana relasi seni dan Islam dalam ranah kesenian 
tersebut?
> Apakah seni hanya sekadar alat bagi "islamisasi": strategi dakwah 
menyebarkan
> ajaran Islam? Ataukah lebih dari itu: seni menjadi sumber inspirasi 
bagi gerak
> kehidupan Islam?
> 
>  
> 
> ISLAM DAN SENI RUPA 
> 
> Jumat, 5 September 2008
> 
>  
> 
> Pemutaran Film
> 
> Pukul 16.00 WIB, "Persepolis"
> 
> Persepolis adalah
> film animasi karya sutradara Vincent Paronnaud dan Marjane Satrapi. 
Film yang
> diangkat dari sebuah novel grafik karya Marjane Satrapi berlatar 
belakang
> pergolakan politik di Iran yang berujung Revolusi Islam tahun 1979. 
Di sana
> hidup seorang gadis kecil yang sangat cerdas dan pemberani bernama 
Marjane. Suhu
> politik yang tak menentu di dalam negerinya, yang dilanjutkan 
perang dengan
> negeri jirannya: Irak, membuat kedua orang tuanya khawatir dan 
mengungsikannya ke
> Wina, Austria. Ia sempat merasakan kebahagiaan di tempatnya yang 
baru, walaupun
> akhirnya ia harus kembali ke Iran karena dilanda kesepian. Mudik ke 
Iran, ia
> mendapati aturan baru: perempuan diharuskan memakai jilbab. 
> 
>  
> 
> Diskusi, pukul 19.00 – 21.00
> WIB
> 
> Acep Zamzam Noor
> (Santri dan Pelukis)
> 
> Adi Wicaksono (Pengamat
> Seni Rupa)
> 
>  
> 
> Doktrin yang
> melarang perupaan terhadap makhluk-makhluk yang memiliki nyawa—
melalui patung
> dan lukisan—sangat populer sebagai ajaran Islam. Akhirnya kesenian 
jenis ini
> dalam masyarakat Islam, bergeser ke dunia arsitektur dan grafis 
(kaligrafi).
> Namun apakah seni rupa tidak pernah hidup dalam masyarakat Islam? 
Bagaimana
> pergulatan seorang santri yang memilih untuk mewujudkan puncak 
keseniannya
> dalam seni rupa? Bagaimana ia mengatasi "hambatan teologis" dan di 
sini lain ia
> harus menelusuri tanpa henti dan mencari capaian-capaian seni? 
Apakah Islam
> pernah menjadi sumber inspirasi terhadap karya-karya seni rupa? 
Bila ada yang
> disebut "seni rupa Islam", di mana letaknya dalam ranah dunia seni 
rupa secara
> umum? 
> 
>  
> 
>  
> 
>  
> 
> ISLAM DAN FILM
> 
> Jumat, 12 September 2008
> 
>  
> 
> Pemutaran Film
> 
> Pukul 14.00 WIB, "Le Grand Voyage"
> 
> Film ini
> mengisahkan seorang anak bernama Reda diminta ayahnya untuk 
menemani perjalanan
> naik haji melalui jalur darat dengan mengendarai mobil dari 
Perancis ke Arab
> Saudi, mereka harus menempuh jarak 5.000 km. Di sepanjang 
perjalanan, mereka
> sering berbeda pendapat, hingga bertengkar. Bagi sang ayah, 
perjalanan ini
> merupakan perjalanan spiritual nan agung, sedangkan bagi anaknya, 
perjalanan
> ini adalah azab membawa sengsara. Keduanya yang tak pernah bertemu 
pendapat
> dipaksa bekerjasama menaklukkan rintangan dalam perjalanan ini, dan 
yang lebih
> penting: menaklukkan egoisme yang ada dalam diri mereka masing-
masing. Sutradara:
> Ismael Ferroukhi (2007)
> 
>  
> 
> Pukul. 16.00 WIB, "Cafe Transit"
> 
> Film ini
> menceritakan perjuangan seorang janda dengan dua anak di Iran. Ia 
menolak
> tradisi agar menikah dengan saudara mendiang suaminya. Ia pun 
memberontak
> sebagai perempuan Iran yang diwajibkan menaati ajaran agama dan 
kultur
> masyarakatnya: menjadi istri yang ruang geraknya hanya di rumah. 
Untuk memenuhi
> kebutuhan hidup dirinya dan kedua anaknya 
> ia membuka sebuah cafe peninggalan mendiang suaminya. Di cafe ini, 
ia
> berhadapan dengan aparat keamanan yang menjadi centeng agama dan 
penguasa. Apa
> lacur, saudara mendiang suaminya malah bekerjasama dengan aparat 
itu. Di cafe
> ini pula ia menyembunyikan seorang pelarian perempuan yang menjadi 
korban
> perang di negerinya. Bagaimana perempuan itu menghadapi serbuan 
yang datang
> dari segala penjuru? Sutradara: Kambuzia
> Partovi (2005)
> 
>  
> 
> Diskusi, pukul 19.00 – 21.00
> WIB
> 
> Nia Dinata (Sutradara
> Film)
> 
> Eric Sasono (Kritikus
> Film dan Pengelola rumahfilm.org)
> 
>  
> 
> Setelah Reformasi
> '98, dunia film Indonesia mengalami peningkatan produksi yang 
sangat pesat.
> Namun film dengan tema agama masih kalah pamor dibandingkan dengan 
film tentang
> tema cinta, anak muda, atau horor. Di tahun ini,  film "Ayat-Ayat 
Cinta" menjadi fenomena bila
> dilihat dari sisi penontonnya. Film ini dipandang tidak hanya 
sebagai fenomena
> dalam industri film saja, namun sebuah metode dakwah Islam melalui 
film. Apakah
> film ini menunjukkan geliat baru terhadap film bertema agama di 
masa mendatang?
> Sementara film bertema "Perempuan dan Islam" di beberapa negara 
mengalami
> perkembangan yang menakjubkan, film-film yang menceritakan 
pengalaman perempuan
> Islam di tengah perjuangannya melawan patriarkhi, fundamentalisme, 
dan
> kekerasan yang sering dikaitkan dengan kultur dan ajaran Islam di 
negerinya.
> Film-film produksi Iran adalah contoh dari fenomena ini. Bagaimana 
citra
> perempuan dalam film-film itu, dan mengapa ia menjadi tema yang 
menarik untuk
> difilmkan? Dan bagaimana dengan film tentang perempuan di 
Indonesia? Eric
> Sasono akan bicara "Ayat-Ayat Cinta" dan
> Film Islam di Indonesia, sementara Nia Dinata akan mengulas Islam, 
Perempuan, dan Sinema.  
> 
>  
> 
>  
> 
>  
> 
> ISLAM DAN SENI PERTUNJUKAN
> 
> Jumat, 19 September 2008
> 
>  
> 
> Pukul 16.00 WIB, Pemutaran
> Film-Film Dokumenter tentang Pertujukan Seni di Nusantara 
> 
>  
> 
> Diskusi, pukul 19.00 WIB
> 
> Endo Suanda (Direktur
> Eksekutif Pertunjukan Seni Nusantara)
> 
> Hendy Supandi
> (Pimpinan Gambus Ar-Rominia, Jakarta)
> 
>  
> 
> Pertunjukan seni
> dalam masyarakat Islam di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari 
ritual dan
> upacara keagamaan: kelahiran, khitanan,
> maulid, pernikahan, kematian,
> dll—pertunjukan ini melalui pelbagai jenis musik: pembacaan mantra, 
ayat-ayat
> Quran, dan bunyi-bunyi dari alat-alat musik, sekaligus melalui 
gerak yang
> terbatas atau yang luas—bercampur-baur dengan kepercayaan lokal, 
dan kesenian
> sebelum Islam. Inilah persenyawaan antara Islam dengan tradisi dan 
kesenian
> lokal—yang bagi golongan muslim puritan dituding sebagai takhayul, 
bid'ah,
> khurafat. Sementara musik gambus identik dengan "musik Islam", 
karena alasan
> yang sederhana: lagu-lagunya berbahasa Arab, benarkah? Adakah yang 
disebut
> musik Islam itu?
> 
>  
> 
> Sabtu, 20 September 2008, pukul 19.00 WIB 
> 
> PERTUJUKAN MUSIK
> 
>  
> 
> Teumeumeung Rafly – Dwiki
> 
> 
> 
> Sejak perkenalan keduanya
> beberapa minggu setelah tsunami melanda Aceh, Rafly dan Dwiki 
semakin lekat "teumeumeung"
> (istilah yang diberikan Rafly untuk suatu jam session). Saat itu di 
pertengahan Januari 2005 Rafly bersama grup
> Kande ditemani oleh Dwiki dan Ubiet berkeliling ke berbagai Lokasi 
Pengungsi
> Tsunami di antaranya di Seuneubok, Seulemum, Indrapuri dan Peukan 
Bada dalam
> program Ubat Ate Allah Allah, Ubat Sosah Seulaweut Beuna (Obat Hati 
itu Zikir
> Allah, Obat Susah Bershalawat pada Rasulullah). Sebelumnya mereka 
jumpa di Taman
> Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, ketika Dwiki dan teman-teman Dewan 
Kesenian
> Jakarta menggagas dan menyelenggarakan 'Jazz for Aceh'. 
> 
> 
> "Teumeumeung", kini
> terus menjadi pola komunikasi musikal antara Rafly yang kaya dengan
> penjelajahan ornamen vokal Aceh dan Dwiki yang selalu jatuh cinta 
pada style bermusik yang terinspirasi tradisi
> lokal dipadukan dengan scale-nya
> bermain jazz yang penuh spontanitas dari hati. Beberapa komposisi 
yang akan
> dimainkan di antaranya:  Meukoendroe, Nurul Qolbi, Ya Nabi Salam,
> Istighfar, Aneuk Yatim. Bersama Ubiet, Dwiki pernah menjadi 
produser bagi
> Album Rafly bersama Kande "Meukondroe" yang dirilis tahun 2007.
> 
>  
> 
> Sebelum diskusi/pertujukan,
> diawali dengan buka puasa bersama
> 



Kirim email ke