Tidak disertai rasa malu, itu pasti. Serta tidak disertai rasa bersalah, dan tidak disertai rasa takut.
Manusia bebas untuk merasa tersinggung atau tidak, seperti yang dipilihnya sendiri. Barangkali karena mereka merasa tidak puas dan tidak bahagia. Karena merasa tidak bahagia itulah, maka mereka juga tidak bisa memberikan rasa bahagia bagi orang lain, karena mereka sendiri tidak mengenal rasa itu. Jadi yang diberikan adalah rasa sakit, penderitaan, dan lain2 rasa yang mereka tahu dan alami sendiri. Bahkan menyebabkan orang tidak berani lagi mendengarkan musik Tchaikovsky yang lamban karena kuatir akan menimbulkan desas-desus bahwa sebentar lagi akan ada berita duka. Namun ada juga yang demikian. Demi kebesaran nama, dan popularitas, demi label sebagai orang baik dan suci, lantas mereka membatasi diri sendiri dengan berbagai macam aturan yang tidak masuk akal sehingga mereka sendiri merasa tidak puas dan tidak bahagia. Kemudian karena merasa tidak puas dan tidak bahagia akibat tindakan yang mereka kenakan pada diri sendiri itu, mereka menularkannya dan juga menghendaki orang lain pun tidak bahagia dan menderita seperti mereka. Bukankah itu yang mereka lakukan ? Tidak ada jenis evolusi yang pernah terjadi melalui penyangkalan. Menyangkal diri adalah menghancurkan diri sendiri. Namun tentu harus dibedakan dengan mengatur diri. Mengatur diri bukanlah menyangkal diri. Mengatur tingkah laku seseorang adalah pilihan aktif untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu berdasarkan keputusan seseorang terkait siapa diri mereka. Jika kita menyatakan diri sebagai orang yang menghormati hak sesama, keputusan untuk tidak mencuri atau merampok dari mereka (atas nama apapun), untuk tidak memperkosa dan menjarah (atas nama apapun), maka hal itu adalah pernyataan diri. Bila bertindak tanpa tanggung jawab, bersikap dengan cara yang kita tahu mungkin akan merugikan sesama atau menyebabkan kesusahan atau penderitaan, namun malahan justru membuat diri seseorang merasa nyaman, maka orang itu belum jauh ber-evolusi. Seperti juga gampang sekali melihat hal2 sebagai yang tidak baik di sekelilingnya dan atas orang lain, namun tidak pernah melihat kepada diri sendiri yang tidak lebih baik atau sama saja atau bahkan lebih buruk. Dalam dunia ekonomi hal ini bisa juga disebut 'setali tiga uang', seperti pula kalau dalam peribahasa dikenal 'Gajah di Pelupuk Mata Tidak Nampak, sedangkan Semut di Seberang Lautan Nampak', sedangkan kalau dalam istilah umum kesehatan masyarakat, orang ybs disebut mengalami 'Rabun Dekat'.

