seharusnya pemerintah bisa lebih konkret dlm mengatasi dampak dari rokok ini,
jgn hanya ingin enaknya saja, menikmati 'kue' dari industri cukai ini. Rokok
hanya menguntungkan pemerintah & pengusahanya saja, petani tembakau? ah kasihan
nasibnya..buruh pabrik rokok? ah apalagi mereka, kasihan pula..tdk sebanding dg
keuntungan yg diperoleh pengusaha kaya raya & pemerintah dari industri ini.
Kebijakan SBY Atasi Dampak Rokok terhadap Anak Nol Besar!
Rabu, 2 Jul 08 05:35 WIB
Kecenderungan meningkatnya perokok pemula ikut mencemaskan Anggota
Komisi Anak DPR DH Al-Yusni. Diakui Al-Yusni bahwa semua pihak ikut
bertanggung jawab atas meningkatnya perokok pemula itu. Saya kira
semua stake holder ikut bersaham dalam masalah rokok pemula ini,
terutama DPR dan pemerintah yang sampai saat ini belum bisa
mengendalikan rokok lewat perundang-undangan, papar politisi FPKS itu
usai melakukan Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi Perlindungan Anak
Indonesia di Gedung DPR.
Dituturkan Al-Yusni bahwa prestasi SBY terkait pengendalian rokok
melalui Peraturan Pemerintah sama sekali tidak ada. Terlepas apakah
aturan itu sudah maksimal atau bahkan menurun secara kualitas, tapi era
SBY praktis tak mengeluarkan aturan apapun terkait (pengendalian)
rokok. Singkatnya nol besar, kritik dia.
Pria dari fraksi yang semuanya anggotanya tak satu pun perokok itu
menjelaskan, niat baik pengendalian rokok dimulai di era Habibie dengan
terbitnya PP 81/1999. Lalu di era Gus Dur terbit PP 38/2000. Akhirnya
di era Megawati terbit PP 19/2003. Jelas era-era pemerintahan
sebelumnya setidaknya punya perhatian atas masalah rokok. Tapi di era
SBY diam-diam saja, ujar dia.
Lebih lanjut Al-Yusni mengakui bahwa secara kualitas PP yang ada
masih jauh dari harapan. PP yang ada lebih memihak produsen rokok
ketimbang masyarakat luas. Bahkan di PP itu tidak ada aturan yang
betul-betul melindungi anak-anak dari bahaya rokok, ungkap dia.
Al-Yusni menyadari bahwa masalah rokok tidak berdiri sendiri.
Di sana ada kepentingan ekeonomi. Penyerap tenaga kerja. Kita juga
tahu rokok menyumbang sekitar 5 persen APBN. Tapi juga harus
mempertimbangkan ongkos kerugian material dan sosial akibat rokok,
pinta dia. Untuk mengatasi masalah rokok, imbuh dia, pemerintah, DPR,
media dan seluruh stake holder harus mempunyai komitmen kuat untuk
mengendalikan dampak buruk akibat rokok. Tanpa komitmen yang kuat,
masalah rokok sampai kapan pun tak akan pernah selesai, pungkas
dia.(nvl)
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/