setubuh eh setujuh!
mudah2an udara lebih bersih tanpa asap rokok

KPAI Ingin Merubah Image Merokok itu Jantan 
Rabu, 13 Agustus 2008 - 09:10 wib


JAKARTA - Langkah Ketua Komisi Perlindungan Anak
Indonesia (KPAI) Seto Mulyadi, yang meminta Majelis Ulama Indonesia
(MUI) untuk mengharamkan rokok, mendapat banyak dukungan dari
organisasi hingga politisi.

"Saya tadi dapat SMS dari Ketua
MPR, bapak Hidayat Nur Wahid. Beliau mendukung upaya yang kami lakukan.
Begitu juga dengan teman-teman FPI (Front Pembela Islam) sudah
menyatakan dukungan," terangnya kepada okezone, Rabu (13/8/2009).

Dalam waktu dekat, menurut pria yang akrab dipanggil Kak Seto itu, KPA
akan menggandeng artis untuk mengkampanyekan bahaya rokok. Kampanye
tersebut, kata dia, dinilai penting untuk menyadarkan masyarakat bahwa
merokok itu bukan hal biasa.

"Selama ini masyarakat kita
menganggap merokok itu biasa, ini yang mau kita sadarkan. Bahwa merokok
itu bahaya bagi kesehatan," terangnya.

Hal ini, masih kata Kak Seto, sekaligus membalik image yang dibuat iklan rokok, 
bahwa merokok itu jantan dan keren. "Ini membohongi generasi muda kita," 
tegasnya.

Menurut data KPAI, pada tahun 2003, sebanyak 0,4 persen dari anak yang
berusia empat hingga sembilan tahun adalah perokok. Jumlah tersebut
meningkat menjadi 1,8 persen pada tahun 2004.

"Tahun 2008 ini
kami perkirakan jumlahnya meningkat dua kali lipat, karena gencarnya
rayuan dari industri rokok. Mereka lebih mengincar generasi muda,"
kilahnya.

Ditanya mengenai besarnya pajak yang disumbang
industri rokok kepada negara, Kak Seto mengatakan, biaya kesehatan yang
dikeluarkan oleh negara dan masyarakat untuk mengobati penyakit akibat
rokok jauh lebih besar. 

"Biaya pengobatan kanker karena rokok
itu berlipat-lipat lebih besar dari pada jumlah pajak yang mereka
setorkan," ungkap pria pecinta kaum anak ini. 

Berkaitan dengan
langkah KPAI ini, Kak Seto juga menyampaikan maaf kepada pengusaha
industri rokok apabila bertentangan dengan kepentingan mereka.

"Kami hanya ingin mengajak melakukan sesuatu yang baik kok," pungkasnya (ded)


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke