Oleh: Hasan Nasbi
 

[..]
Saya rasa, beberapa waktu lalu Celli kebetulan bangun pagi. Abis 
Salat subuh (he..he), dia bersantai menikmati matahari pagi yang 
cerah. Karena jarang menikmati matahari pagi, dia tertegun melihat 
bayangannya sendiri. 

Maklum cahaya matahari yang datang dengan sudut kecil membuat 
bayangan Celli begitu panjang, bahkan sampai ke ujung jalan. Dalam 
hati Celli membatin, wah ternyata meski aku berdiri di sini, 
kepalaku sudah sampai di ujung jalan..dia terpesona dengan 
bayangannya. .lupa mengukur badan.

Lalu Ulil datang. Kebetulan juga bangun pagi. Entah kenapa, Ulil 
seperti kehilangan kemampuan berpikir kritis. Mungkin karena baru
bangun tidur. Dia justru membenarkan bahwa kepala Celli sudah sampai 
di ujung jalan.

He..he..cerita di atas sepenuhnya fiktif. Hanya intermezzo aja 
sebelum masuk ke hal yang lebih substansial dari tulisannya Ulil..

Ulil mengkritik gerakan kaum muda karena tidak memberi definisi yang 
jelas tentang kepemimpinan kaum muda. Lalu Ulil membuat pagar 
sendiri. Sayang, pagarnya terlalu kecil. Hanya muat untuk Ulil dan 
Celli. Bagi Ulil, kepemimpinan kaum muda adalah posisi presiden. Nah 
loh..

Harus diakui, deklarasi kaum muda untuk memimpin tidak melahirkan
operasionalisasi yang jelas dan tegas. Katanya sih sudah ada rapat2
operasionalisasi dan pematangan konsep kepemimpinan kaum muda. Cuma, 
yang sampai di telinga saya baru sebatas slogan. 

Namun simplifikasi Ulil juga kebangetan. Seolah Indonesia itu cuma 
Jakarta, dan pemimpin cuma presiden. Indonesia tidak hanya butuh 
presiden yang muda. Indonesia juga butuh Gubernur muda, Walikota dan 
Bupati Muda, butuh Dirjen yang muda, Menteri, Deputi, dan staf ahli 
menteri yang muda. 

Memimpin Indonesia tentu tidak sesederhana kepala suku mengendalikan
anggota kaumnya. Indonesia adalah bangunan besar yang disusun oleh 
fondasi, batu, dan tiang yang punya kegunaan sendiri-sendiri. Batu 
dan tiang inilah yang harus diremajakan. Kaum muda harus masuk dan 
menjadi pimpinan di berbagai sektor.

Anda bisa bayangkan bahwa Indonesia punya harapan lebih baik bila 
lebih dari setengah kepala daerah berusia muda. Lebih dari separuh 
Dirjen, Deputi Menteri, Direktur BUMN, serta menteri2 berusia muda. 
Soal sang presiden dan wakilnya, sementara bisa saja dari kelompok 
tua. Ini tentu lebih memberi harapan bila dibandingkan dengan 
situasi bila presiden dan wapres muda, sementara  struktur 
organisasi di bawahnya lebih banyak diisi orang tua. 

So, tidak sesempit itu gagasan kaum muda memimpin. Gerakan kaum muda 
memimpin harus dimulai dari tingkat kepala desa, puncaknya memang 
presiden. Sektor di luar pemerintahan juga harus begitu. Nah, apakah 
itu sudah mulai dilaksanakan? Jika mau mengkritik gerakan kaum muda, 
harusnya pada poin ini. 

Kalau kita melihat demokrasi, politik, pemerintahan, dan Indonesia 
hanya terbatas di Jakarta, lebih baik otonomi daerah dihapus saja. 
Percuma kerja keras orang seperti Fadel Muhammad bila kemajuan 
Gorontalo kemudian dimaknai sebagai prestasi presiden di Jakarta. 
Indonesia butuh lebih banyak Kepala Daerah seperti Fadel daripada 
satu orang presiden muda seperti Celli..he..he

Sekarang soal yang lebih mendasar. Saya tidak berbicara soal peluang 
Celli jadi Presiden. Soal itu rasanya bisa diatasi jika mau bekerja 
keras. Saya berbicara soal kualifikasi Celli sebagai calon presiden. 
Tentu saja ini bertentangan dengan kekaguman Ulil.

Saya tidak mengenal Celli secara Pribadi. Saya hanya mengenal Celli 
lewat seminar, talk show, dan tulisan. Sejauh amatan saya, Celli 
bisa digambarkan dengan dua kata, yaitu Liberalisasi dan 
Privatisasi. 

Ya, Saya melihat bahwa Celli sebenarnya adalah pendakwah Neoliberal 
yang sangat istiqomah. Dia fanatik. Bila di negeri ini kita mengenal 
kelompok fundamentalis arab, maka Celli adalah bagian dari kelompok 
fundamentalis Amrik. Amerika adalah kiblat, Syariatnya berupa ajaran 
Neoliberal. 

Karena profesinya sebagai pendakwah, semestinya tidak dicampur 
dengan politik. Ntar dakwahnya tercemar..he. he Bukankah Celli tidak 
menginginkan dakwah masuk arena politik?  Bahaya! Coz seringkali 
solusi penyakit Indonesia di tangan pendakwah itu tidak rasional. 

Masa nanti seluruh solusi atas masalah bangsa ini hanya Liberalisasi 
dan Privatisasi? Kalo ada 10 BUMN bermasalah maka 100-an BUMN harus 
dijual ke swasta. Kalau organisasi pemerintah gemuk dan ga efisian 
apa harus diprivatisasi juga? (He..he yang ini mah bacanda..). 

Saya cuma miris aja kok solusi penyakit bangsa Indonesia ini cuma 
liberalisasi dan privatisasi? Ga kreatif. Sama aja dengan Hizbut 
Tahrir yang punya solusi sapu jagad, Khilafah!  Lebih miris lagi, 
dalam beberapa forum Celli ga bisa membedakan antara Liberalisasi,
Privatisasi, dan Debirokratisasi.

Di luar profesinya sebagai pendakwah, Ulil menyatakan bahwa Celli 
punya kualifikasi: determinasi tinggi, pekerja keras (kalau yang 
kaya gini mah banyak). Lalu juga kemampuan negosiasi, lobby, punya 
warna suara yang memadai untuk jadi seorang orator, punya kemampuan 
bermain dengan kalimat yang cerdas. Oleh karena itu, dia pantas maju 
sebagai presiden. Phhhh...Saya rasa Ulil salah baca buku. Kalau saya 
temannya Celli, saya akan sarankan dia masuk Deplu dan jadi diplomat.

Indonesia memang banyak meniru Amerika. Tapi tetap saja tidak sama. 
Bila pidato/orasi menjadi konsumsi  politik utama di Amrik,
di sini hanya jadi sambilan. Bila di amerika orang datang untuk 
mendengarkan pidato Obama, di sini orang datang untuk menyaksikan 
penyanyi dangdut. Kata-kata kampanye politisi tidak tinggal di 
kepala masyarakat. Mereka lebih banyak mengingat dan mengutip kata-
kata Tukul seperti:  “Katro”, “Ndeso”, “Tak Sobek-sobek”, dll. 

Kata-kata Celli yang diingat agak luas mungkin hanya Save Our 
Nation. Itu pun cuma di kalangan terdidik dan penonton Metro. 
Kalaupun ada yang mengutip Celli, mungkin hanya M. Adil Patu, Ketua 
PDK Sulawesi Selatan. Slogannya untuk maju dalam Pilkada Kota 
Makassar mirip ”Save Our City”. 

Mungkin dia merasa gagah dengan kata-kata itu. Jika ditanyakan sama 
nenek-nenek, pasti ga ngerti artinya. Berarti komunikasi gagal. 
Kalaupun dijelaskan artinya dalam bahasa Indonesia or bahasa 
Bugis..si nenek balik nanya; ”Emang siapa yang mau menyerang Kota 
Makassar? He..he si nenek merasa diajak nostalgia ke zaman 
revolusi...

Pertanyaan saya (buat temannya Celli di milis ini). Apakah Celli 
punya pengalaman organisasi yang memperlihatkan bahwa dia memiliki 
otoritas dan pengaruh? Bagaimana dengan kemampuan manajerial? Apakah 
piawai dalam manajemen konflik? 

Jangan lupa. Politik adalah ranah perseteruan. Jika yang 
dikedepankan hanya kemampuan lobby dan negosiasi, lama-lama akan 
tekor. Coz, di dalam lobby dan negosiasi itu selalu ada kompensasi. 
Kalo bukan Celli yang tekor, negara ini yang tekor.

Terakhir, Di samping semua gerutuan di atas, saya salut dengan 
terobosan Celli. Meski saya anggap tidak layak Capres, Celi telah 
berhasil memberi inspirasi bagi kaum muda lain yang punya barisan 
untuk segera bertindak. 

Celli sudah mencubit sangat keras. Kaum muda tidak boleh terlalu 
lama berpikir dan berencana. Lama-lama malah lupa beraksi. Lalu 
menggerutu karena keduluan orang. Gerutuan saya mungkin mewakili 
gerutuan orang yang merasa didahului..he. .he 

Salam,

Hasan Nasbi A
 
 














      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke