Salam, Kadang-kadang membingungkan. Kalau BMI menyalurkan ZIS mungkin masih pada relnya. Tapi bagaimana dengan HSBC Syariah dan bank-bank yang punya tempelan syariah lainnya??
Bukankah nantinya, zakat mulai jadi amburadul. Lebih banyak dimakan amil daripada penerima zakat yang paling berhak. Saat potensi ekonomi haji disatukan di bawah tabung haji Malaysia, beberapa proyek spektakuler dan membanggakan dapat dibangun, begitu juga dengan pembangunan SDM nya. Coba lihat di Indonesia, ratusan Bank bisa menerima dan menyalurkan. Sehingga tak satupun proyek yang dapat dibangun untuk ummat dari keuntungan pengurusan haji. Di Sumatera utara, BNI malah memainkan kuota jamaah haji. Petugas BNI yang bertanggung jawab dengan haji bisa dengan sesuka hati mengulur hajinya seseorang, bahkan menjegal. Dalam contoh, satu dua jamaah haji Tapanuli Utara tidak jadi berangkat haji karena ternyata ONH-nya yang lunas tidak disetorkan ke depag oleh BNI. Selidik punya selidik, dia menjual kuota itu ke nasabah BNI lainnya yang berdomisili di Medan. Dengan tenangnya dia berlindung di bawah institusi bank BNI. Jadi potensi ekonomi haji yang begitu fantastis dan mengagumkan ketika dimanage dengan baik, di Indonesoa, malah menjadi sumber korupsi, abuse, penyalahgunaan dan penipuan. Ingat Dana abadi ummat, sisa keuntungan dari haji, yang dikoropsi rame-rame oleh depag mulai dari menteri (zaman aqil munawar atau ntah juga sampai sekarang yah...?) sampai pegawai rendahan. Bahkan sodara-sodara dari Bimas (agama) lain juag kejipratan. Gejala yang sama tampak pada ZIS ini. Mari ramai-ramai mengkorop ZIS ummat!!!! Hidup Korupsi RS http://www.indonesia-arab.co.cc [Non-text portions of this message have been removed]

