Suku Anak Dalam Tak Nikmati Kemerdekaan
 

/Minggu, 17 Agustus 2008 | 17:20 WIB
JAMBI, MINGGU - Bagi warga Suku Anak Dalam (SAD) di Kabupaten 
Merangin, Jambi, kemerdekaan justru telah direnggut dari mereka. 
Mereka kini terusir dari hutan warisan nenek moyang, yang kini telah 
berubah menjadi perkebunan sawit.   

"Wilayah yang kami percaya sebagai tanah nenek moyang, sudah berubah 
menjadi kebun sawit sejak sepuluh tahun lalu. Sedangkan kami sering 
diusir pekerja perkebunan bila hendak membangun pondok-pondok kecil," 
tutur Sekar, Sabtu.

Ketika ditanya soal Hari Kemerdekaan RI, ia pun tidak mengetahui. "17 
Agustus? Hari pemilihan ya? Kami tidak tahu kalau itu hari 
kemerdekaan," ujar Sekar. Saat ditanya, ia hanya dapat menebak 17 
Agustus adalah hari pemilihan kepala daerah setempat. Gembar gembor 
pilkada belakangan ini memang jauh lebih terdengar.

Budaya SAD yang menggantungkan hidup pada hasil hutan juga mulai 
berubah seiring perubahan fungsi hutan. Mereka tidak bisa lagi 
mencari getah damar atau buah jernang untuk dijual. Hewan buruan pun 
makin langka.

Satu-satunya cara untuk bertahan hidup saat ini adalah berburu babi 
hutan. Para lelaki SAD dengan menggunakan celepek atau senapan 
rakitan menyebar berburu babi hutan hingga ke pelosok. Hewan buruan 
ini dijual dengan harga Rp 2.500 per kilogram. Satu ekor babi hutan 
beratnya berkisar lima kilogram.

"Babi hutan sekarang semakin susah. Satu hari bisa dapat seekor, 
tetapi sering juga berhari-hari tidak dapat. Satu bulan paling dapat 
lima atau enam ekor," ujar Sekar. Isi perut babi hutan diambil untuk 
dimakan, sedangkan dagingnya dijual. Uang hasil penjualan babi hutan 
ini digunakan untuk membeli beras, rokok, dan keperluan kelompok yang 
beranggotakan 20-an orang.

Minimnya pendapatan membuat kelompok Sekar hanya makan seadanya. 
Juminah, seorang warga SAD lainnya, hari itu memasak nasi yang 
dicampur garam sebagai makanan bagi kedua anaknya. Menurut Juminah, 
lauk hanya bisa dibeli kalau ada uang lebih saja .

Manajer Program Komunitas Konservasi Indonesia Warsi, Rudi Syaf 
mengatakan saat ini setidaknya 400 warga SAD telah keluar dari hutan, 
dan hidup berkelompok di sepanjang jalur lintas Sumatera. Ada yang 
diupah tauke (pemodal) untuk mencari labi-labi dan babi, ada juga 
yang turun ke jalan jadi pengemis.

 




Kirim email ke