Bls: [Maju,Cerdas&Kompetitif] Fw: kisah nyta di dunia glamor Jakarta    
  
    
    Posted by:      "slamet riyadi"      
      [EMAIL PROTECTED]      
               
        
          jenggot_smk2amq1 
        
          
    
      Sun Aug 17, 2008 9:42 am        (PDT)    

    
            Memprihatinkan sekali, 



--- Pada Sab, 16/8/08, Herdi Yana <[EMAIL PROTECTED] com> menulis:



Dari: Herdi Yana <[EMAIL PROTECTED] com>

Topik: [Maju,Cerdas& Kompetitif] Fw: kisah nyta di dunia glamor Jakarta

Kepada: "Miftahul Khoirr" <[EMAIL PROTECTED] com>, "img 95" <[EMAIL PROTECTED] 
ups.com>, "ia itb" <[EMAIL PROTECTED] com>, "ia gd itb" <[EMAIL PROTECTED] 
ac.id>, "IA ITB Jabar" <IA-ITB-Jabar@ yahoogroups. com>, bujanganbarrac@ 
yahoogroups. com, "teknik sipil ugm" <teknik-sipil- [EMAIL PROTECTED] com>, 
"school mapping" <[EMAIL PROTECTED] .com>, "millist dikmenjur" <[EMAIL 
PROTECTED] ps.com>, "smk jateng" <[EMAIL PROTECTED] ps.com>

Tanggal: Sabtu, 16 Agustus, 2008, 8:57 PM



----- Forwarded Message ----

From: Mustaghfirin Amin <mustaghfirin@ yahoo.com>

To: mmugm_depdiknas@ googlegroups. com

Sent: Monday, August 11, 2008 8:27:07 PM

Subject: kisah nyta di dunia glamor Jakarta



Kisah nyata di dunia glamor Jakarta

( diadop dari milis tetangga)



Dua hari yang lalu gw ketemu dengan salah seorang AFI (Akademi Fantasi

Indosiar). Selain lepas kangen (he..he) gw juga dapat cerita seru dari

kehidupan mereka. Di balik image mereka yang gemerlap saat manggung

atau ketika nongol di teve, kehidupan artis AFI sangat memprihatinkan.

Banyak di antara mereka yang hidup terlilit utang ratusan juta rupiah.

Pasalnya, orang tua mereka ngutang ke sana-sini buat menggenjot sms

putera-puteri mereka. Bisa dipastikan tidak ada satu pun kemenangan AFI

itu yang berasal dari pilihan publik. Kemenangan mereka ditentukan

seberapa besar orang tua mereka anggup menghabiskan uang untuk sms.

Orang tua Alfin dan Bojes abis 1 M. Namun mereka orang kaya, biarin aja.



Yang kasian mah, yang kaga punya duit. Fibri (AFI 005) yang

tereliminasi di minggu-minggu awal kini punya utang 250 juta. Dia

sekarang hidup di sebuah kos sederhana di depan Indosiar. Kosnya emang

sedikit mahal RP 500..000. Namun itu dipilih karena pertimbangan hemat

ongkos transportasi. Kos itu sederhana (masih bagusan kos gw gitu loh),

bahkan kamar mandi pun di luar. Makannya sekali sehari. Makan dua kali

sehari sudah mewah buat Fibri. Kaga ada dugem dan kehidupan glamor, lha

makan aja susah.



Ada banyak yang seperti Fibri. Sebut saja intan, Nana, Yuke, Eki, dll.



Mereka teikat kontrak ekslusif dengan manajemen Indosiar. Jadi, kaga

bisa cari job di luar Indosiar. Bayaran di Indonesiar sangat kecil. Lagian

pembagian job manggung sangat tidak adil. Beberapa artis AFI seperti

Jovita dan Pasya kebanjiran job, sementara yang lain kaga dapat/jarang dapat

job. Maklum artisnya sudah kebanyakan. Makanya buat makan aja mereka

susah. Temen gw malah sering dijadiin tempat buat minjem duit. Minjemnya

bahkan cuma Rp 100.000. Buat makan gitu loh. Mereka ga berani minjem banyak 
karena takut ga bisa bayar.



Ini benar-benar proyek yang tidak manusiawi. Para orang tua dan anak

Indonesia dijanjikan ketenaran dan kekayaan lewat sebuah ajang adu

bakat di televisi. Mereka dikontrak ekslusif selama dua tahun oleh

Indosiar. Namun tidak ada jaminan hidup sama sekali. Mereka hanya

dibayar kalo ada manggung. Itu pun kecil sekali, dan tidak menentu.

Buruh pabrik yang gajinya Rp 900.000 jauh lebih sejahtera daripada

mereka.



Nah acara ini dan acara sejenis masih banyak, Pildacil juga begitu.

Kasian orang tua dan anak yang rela antre berjam-jam untuk sebuah penipuan

seperti ini. Seorang anak pernah menangis tersedu-sedu saat tidak lolos
dalam audisi AFI. Padahal dia beruntung. Kalau dia sampai masuk, bisa
dibayangkan betapa dia akan membuat orang tuanya punya utang yang
melilit pinggang, yang tidak akan terbayar sampai kontraknya habis.



JUDI SMS MENGGILAAAA ......



Tiap stasiun televisi di Indonesia mempunyai acara kontes-kontesan.

Tengok saja misalnya AFI, Indonesian Idol, Penghuni Terakhir, KDI,

Putri Cantrik, dsb. Sejatinya, tujuan dari acara ini bukan mencari

bibit penyanyi terbaik. Acara ini hanya sebagai kedok. Bisnis

sebenarnya adalah SMS premium...



Bisnis ini sangat menggiurkan, lagi pula aman dari jeratan hukum --

setidaknya sampai saat ini. Mari kita hitung. Satu kali kirim SMS

iayanya --anggaplah- - Rp 2000. Uang dua ribu rupiah ini sekitar 60%

untuk penyelenggara SMS Center (Satelindo, Telkomsel, dsb). Sisanya

yang 40% untuk "bandar" (penyelenggara) SMS. Siapa saja bisa jadi

bandar, asal punya modal untuk sewa server yang terhubung ke Internet

nonstop 24 jam per hari dan membuat program aplikasinya. Jika dari satu

SMS ini "bandar" mendapat 40% (artinya sekitar Rp 800), maka jika yang

mengirimkan sebanyak 5% saja dari total penduduk Indonesia (Coba anda

hitung, dari 100 orang kawan anda, berapa yang punya handphone? Saya

yakin lebih dari 40%), maka bandar ini bisa meraup uang sebanyak Rp

80.000.000.000 (baca: Delapan puluh milyar rupiah). Jika hadiah yang

diiming-imingkan adalah ? rumah senilai 1 milyar, itu

artinya bandar hanya perlu menyisihkan 1,25% dari keuntungan yang

diraupnya sebagai "biaya promosi"! Dan ingat, satu orang biasanya tidak

mengirimkan SMS hanya sekali. Masyarakat diminta mengirimkan SMS

sebanyak-banyaknya agar jagoannya tidak tersisih, dan "siapa tahu"

mendapat hadiah. Kata "siapa tahu" adalah untung-untungan, yang

mempertaruhkan pulsa handphone. Pulsa ini dibeli pakai uang.

Artinya : Kuis SMS adalah 100% judi.



Begitu menggiurkannya bisnis ini, sampai-sampai Nutrisari membuat

iklan yang saya pikir menyesatkan. Pemirsa televisi diminta menebak,

"buka" atau "sahur", lalu jawabannya dikirim via SMS. Ada embel-embel

gratis.

Ada kata, "dapatkan handphone... " Saya bilang ini menyesatkan, karena

pemirsa televisi bisa menyangka : "Dengan mengirimkan SMS ke nomor

sekian yang gratis (toll free), saya bisa mendapat handphone gratis".



Kondisi ini sudah sangat menyedihkan. Bahkan sangat gawat. Lebih parah

daripada zaman Porkas atau SDSB. Jika dulu, orang untuk bisa berjudi

harus mendatangi agen, jika dulu zaman jahiliyah orang berjudi dengan

anak panah, sekarang orang bisa berjudi, hanya dengan beberapa ketukan

jari di pesawat handphone!



Tolong bantu sebarkan kampanye anti judi SMS ini.

Tanpa bantuan anda, kampanye ini akan meredup dan sia-sia belaka.



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke