--- In [EMAIL PROTECTED], "abdul_muizbabakan" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:

--- In [EMAIL PROTECTED], "Eko AP" <exoap76@> wrote:

http://www.kompas.com/read/xml/2008/08/19/0021028/penolakan.lanjutan.d
ari.ba
bakan.ciwaringin

 

 

Penolakan Lanjutan dari Babakan Ciwaringin

 

http://www.kompas.com/data/photo/2008/08/19/2953950p.jpg

 
<http://www.kompas.com/read/xml/2008/08/19/0021028/penolakan.lanjutan.
dari.b
abakan.ciwaringin> KOMPAS/B JOSIE SUSILO HARDIANTO

Para santri di Babakan Ciwaringan, Cirebon, Jawa Barat, Jumat (1/8),
berjalan menuju masjid. Di Ciwaringan terdapat sekitar 35 pesantren 
yang
tersebar di kawasan tersebut. 

Selasa, 19 Agustus 2008 | 03:00 WIB

Senja bersiap turun ketika anak-anak bersarung dan berkopiah berjalan
perlahan di jalanan tanah Babakan Ciwaringin, Cirebon. Sebagian anak 
lainnya
sudah berkumpul di pemakaman keluarga KH Ali Masina.

Tidak berapa lama, lafal doa terdengar menembus keheningan desa. Deru
kendaraan yang lalu lalang di jalur utama Bandung-Cirebon tidak 
terdengar.

Sekitar lima meter dari pintu makam, di depan sebuah tanah kosong, 
terpasang
papan kecil bercat dasar putih bertuliskan "Tanah Tidak Dijual" 
berwarna
merah. Tulisan itu menegaskan penolakan atas rencana pembangunan 
Jalan Tol
Cikampek-Palimanan sepanjang 116 kilometer oleh PT Lintas Marga 
Sedaya.

Dalam rencana, jalan tol itu akan menerabas kawasan 35 pesantren. Di 
sini
sekitar 5.000 santri menimba ilmu.

Investasi tol ini mencapai Rp 5,9 triliun, termasuk biaya pembebasan 
lahan
Rp 500 miliar. Hingga 1 Agustus 2008, dari kebutuhan lahan 788 hektar 
(ha),
baru dibebaskan 52 ha atau 6,64 persen. Kepala Subdirektorat 
Pengadaan Lahan
Departemen Pekerjaan Umum Wijaya Seta membenarkan, sudah ada lahan 
sekitar
Babakan Ciwaringin yang telah dibebaskan.

Rencana pemerintah melanjutkan pembangunan Tol Cikampek-Palimanan 
mengundang
masalah. Rencana pembangunan jalan tol mengacu lagi pada trase 1996 
yang
memangkas tanah pesantren. Pada masa Orde Baru, penolakan mereka 
terhadap
rencana itu tidak membuahkan hasil. Kiai Marzuki Amin, pengasuh 
Pesantren
Muallimin-Muallimat, menceritakan represi penguasa yang mesti mereka 
alami.
Rumah disatroni, bahkan todongan pistol. Untungnya, reformasi datang,
pembangunan batal. "Allah yang menyelamatkan," kata Marzuki.

Pada tahun 2006, pemerintah kembali menyosialisasikan trase versi 
baru.
Dalam versi baru itu, direncanakan ruas tol melewati areal persawahan 
dan
tidak lagi membelah permukiman dan pesantren. Rencana itu kembali 
berubah,
bahkan pemerintah tampaknya bakal kembali pada rencana tahun 1996.
Alasannya, pemindahan jalur akan menaikkan biaya dan butuh waktu 
perencanaan
dan uji kelayakan.

Namun, pihak pesantren menilai alasan itu bukan sebenarnya. Pemindahan
dinilai lebih karena keberpihakan pemerintah terhadap investor jalan 
tol.
Karena itu, para kiai dan santri tidak segan-segan turun ke jalan. 
Tanpa
memedulikan terik mentari, mereka menyusuri jalanan pintu penghubung
Cirebon-Bandung, membentangkan spanduk berisi seruan penolakan tol,
membagikan pamflet, hingga memblokade jalan agar aspirasi mereka
diperhatikan.

Sejarah perlawanan

Kiai Marzuki Amin mengisahkan, pada masa Pemerintah Hindia Belanda 
mereka
pun menolak pembangunan jalan yang akan membelah desa mereka. TD 
Sudjana,
sejawaran dari Keraton Kanoman Cirebon, mengatakan, perang melawan 
Daendels
pecah pada tahun 1808. Perang terjadi karena Daendels memaksa 
membangun
Jalan Anyer-Panarukan yang membelah Desa Babakan yang merupakan desa
pesantren. Pada saat itu, jalur yang dilalui Deandels menabrak makam 
Ki
Jatira atau dikenal sebagai Ki Hasanudin, leluhur yang membangun desa 
itu
pada tahun 1715.

Marzuki menceritakan, pemuda desa berani memindahkan patok rencana
pembangunan jalan itu dan membuangnya. Terjadilah perang besar-
besaran yang
kemudian disebut sebagai Perang Kedongdong, perang terbesar di 
Cirebon.
Perang itu tidak hanya di Babakan, tetapi sampai ke perbatasan 
Brebes, Jawa
Tengah. Perang panjang itu bahkan melibatkan sejumlah tokoh 
Majalengka dan
Indramayu. Perang Kedongdong akhirnya membuahkan hasil. Pada tahun 
1818,
Belanda mau mengubah jalur jalan dengan memindahkannya ke sisi barat. 
Jalan
itu kini jadi jalan besar penghubung Cirebon-Majalengka.

Akan tetapi, menurut sejarawan dari Universitas Indonesia (UI), Harto
Juwono, kebenaran soal Perang Kedongdong terkait dengan pembangunan 
Jalan
Raya Pos masih harus diuji. Laporan pemerintah kolonial menyebutkan, 
tidak
pernah ada perlawanan pribumi terkait pembangunan Jalan Raya Pos. 
Perang di
wilayah Cirebon dan sekitarnya dengan beragam pemicu yang memunculkan 
tokoh
Bagus Rangin bukan hanya terjadi sekali-dua pada tahun 1798-1832.

Harto pun mengingatkan perlunya diuji kembali apakah perlawanan 
masyarakat
setempat dengan pemindahan patok jalan terkait pembangunan jalan atau
terkait pemetaan tanah untuk kepentingan kutipan pajak tanah yang
diberlakukan pada masa pemerintahan Raffles. "Bisa jadi, orang-orang 
masa
itu tidak tahu ada pergantian pemerintahan. Jadi tidak dibedakan 
Daendels
dengan Raffles," ujar Harto.

Apa pun kebenaran sejarahnya, para kiai dan santri di Babakan 
Ciwaringin
bersikeras menuntut pemerintah mengalihkan rencana pembangunan jalan.
Alasannya, sebagian tanah yang akan dilewati adalah wakaf untuk 
perluasan
pesantren. "Kami tidak dapat mengalihkan niat itu untuk kepentingan 
lain,"
kata Marzuki Amin.

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Nurdin Manurung menegaskan, 
jalur Tol
Cikampek-Palimanan yang melintasi pondok pesantren Babakan Ciwaringin 
tidak
akan digeser. Penggeseran jalur akan menimbulkan masalah baru. 
Pemerintah
tidak menyiapkan rencana jalur alternatif.

"BPJT dan Departemen Pekerjaan Umum akan berupaya menyelesaikan 
persoalan
lahan di Ponpes Babakan dengan cara baik. Kami juga tidak ingin 
pembangunan
infrastruktur menimbulkan konflik horizontal sebab ada pihak yang
pro-kontra," kata Nurdin, Selasa (12/8) di Jakarta.

Departemen PU menyiapkan dua solusi. Pertama, membangun tiga 
terowongan di
bawah ruas tol sehingga interaksi sosial warga Babakan Ciwaringin 
tidak
terganggu. Kedua, membangun tol dengan konstruksi layang sepanjang 350
meter. Menteri PU juga menawarkan kompensasi dilewatinya kawasan 
dengan
jalan tol, yakni pembangunan instalasi air minum dan perbaikan jalan
lingkungan di Babakan Ciwaringin. Untuk meredam kebisingan, 
Departemen PU
juga menjanjikan pembangunan tembok (noise barrier).

Namun, Marzuki menegaskan, solusi satu-satunya tetap pemindahan jalur 
tol.
Kebanggaan seperti yang ditunjukkan pendahulu telah mengobarkan 
semangat
mereka untuk mempertahankan tanahnya. (nit/jos/dik/ryo)

 

 

 



[Non-text portions of this message have been removed]

--- End forwarded message ---

--- End forwarded message ---


Kirim email ke