http://indoprogress.blogspot.com/2008/06/war-on-drugs-dan-politik-tersembunyi.html
23.6.08



“War on Drugs” dan Politik Tersembunyi Amerika Serikat



Wilson

“WAR
on Drugs,” tiba-tiba saja menjadi wacana "perang global" dari berbagai
pemerintahan pasca hancurnya Perang Dingin, diakhir tahun 1980-an.
Wacana ini pertama kali muncul pada tahun 1982, ketika pemerintahan
Ronald Wilson Reagan, mendesak Kongres untuk mendukung pemerintah
menjalankan program “war on drugs”. Dalam retorik Reagan dikatakan,
tujuan dari program ini adalah "to cripple the power of the mob in America.”

Ironisnya,
pada saat yang sama, pemerintahan Reagan  justru bekerjasama dengan
mafia narkotik dalam membiayai gerilyawan Contra, untuk memerangi
pemerintahan sayap kiri Sandinista, pimpinan Daniel Ortega di
Nikaragua. Dalam waktu bersamaan pula, pemerintah Amerika Serikat (AS),
mendukung "berbagai kelompok militer sayap kanan" di Amerika Latin,
yang mempunyai kaitan dengan organisasi narkotik dan membentuk blok
politik narko-militeris yang represif.

Di era Reaganlah, banjir
narkotika masuk ke AS dengan difasilitasi dan dibekingi CIA dan
Pentagon, serta organisasi rahasia yang dipimpin kolonel Oliver North.
Selama hampir satu dekade, CIA dan Pentagon mendukung dan melindungi
perdagangan narkotika terbesar di dunia, yang menyuplai hampir 50
persen kokain yang dikonsumsi di AS.

"War on Drugs" kembali
muncul diakhir pemerintahan Reagan, di tahun 1988, ketika musuh perang
dingin Amerika Serikat yang bernama blok komunisme, dianggap telah
ambruk dan transisi demokrasi mulai menggerogoti rejim-rejim
korup-otoriterian sayap kanan, yang menjadi sekutu tradisionil AS, di
berbagai belahan dunia seperti Korea Selatan, Filipina, dan terutama di
Amerika Latin dan Tengah.

Hancurnya komunisme menyebabkan
pemerintah AS kehilangan legitimasi untuk terus menjadi “polisi dunia.”
Sebabnya, ancaman atas AS dan sekutu-sekutunya dari rejim komunis
dianggap tak lagi relevan. Karena itu, sebuah "monster baru" harus
diciptakan, sebagai legitimasi intervensi global AS dalam urusan rumah
tangga negeri lain, dan memberikan bantuan politik kepada sekutu-sekutu
ideologisnya. Monster baru paska perang dingin itu lalu diciptakan di
akhir tahun 1980-an dan awal pemerintahan George Bush senior ditahun
1990-an, dalam wacana “war on drugs.” Perang ini berhasil mendapatkan
dukungan kenaikan anggaran hampir sepuluh kali lipat, dari $1.2 milyar
pada tahun 1981 menjadi $11.7 milyar dalam tahun 1992.

Kata
“perang” digunakan juga mempunyai arti politik. Sebab “perang” berarti
melibatkan militer sebagai garda depan. Karena itu operasi militer,
bantuan militer, pelatihan militer dan kegiatan inteljen menjadi
“program utama” dari strategi ini. Tak heran jika program “war on
drugs” lebih kelihatan sebagai suatu proyek “militerisasi” dengan
tujuan politik dan ideologis, ketimbang upaya untuk memeranginya.

Setelah
tragedi 11 September 2001, AS secara sistematis menarik bandul politik
dunia ke dalam “perang melawan terorisme” sebagai suatu “perang
global.” Pemerintah AS kemudian lalu menciptakan “definisi terorisme”
menurut kebutuhan politik dan ideologinya. Akhirnya, kebijakan perang
melawan terorisme yang dikibarkan AS, justru menjadi tidak berbeda
dengan terorisme yang hendak mereka hancurkan sendiri. Nasib yang sama
juga terjadi dalam “war on drugs.” Meminjam ungkapan Uskup Dom Herder
Camara, “obat yang ditawarkan lebih beracun dari penyakit yang hendak
disembuhkan.” Dalam kenyataan yang tak jauh berbeda, AS juga telah
”merekayasa musuh global” menurut kepentingan politik dan ideologinya,
dalam kasus perang menghadapi komunisme dan “perang melawan narkotika.”

Ketika
“war on drugs” menjadi strategi bagi intervensi AS untuk menjadi polisi
dunia pasca Perang Dingin, mendadak terjadi peristiwa 11 September
2001. Tiba-tiba saja perang atas narkotika diintegrasikan dengan perang
melawan terorisme, sehingga lahirlah wacana narko-terorisme. Wacana ini
berarti terjadi saling kait antara terorisme dengan perdagangan
narkotik, karena itu perlu satu kesatuan program untuk memeranginya.

Istilah
narko-terorisme pertama kali digunakan kepada kelompok mafia perdagangn
narkotika di Kolumbia dan Peru, yang menggunakan cara-cara teroris
untuk memberikan tekanan politik kepada pemerintah seperti pemboman,
pembunuhan politik, dan penculikan. Di kedua negara tersebut, kerjasama
bilateral militer AS dengan unit militer anti narkotika sudah terjalin
lama. Namun, kemudian DEA “memperluas” definisi narko-terorisme sekaret
mungkin yakni sebagai keterlibatan kelompok atau individu dalam hal
pemajakan, penyediaan keamanan atau membantu perdagangan narkotika
dalam rangka  menyebarluaskan atau mendanai kegiatan terorisme.

Definisi
ini sangat karet dan dalam prakteknya disalahgunakan secara luas oleh
rejim-rejim ororiter, untuk menghadapi oposisi dan perlawanan rakyat.
Di Kolumbia, misalnya, unit anti narkotik binaan AS lebih banyak
memerangi gerilyawan FARC dan oposisi, ketimbang menangkapi para bandar
narkotik. Hal yang sama terjadi di Peru, dimana unit anti narkotika
binaan AS lebih banyak digunakan sebagai alat politik melawan
gerilyawan Maoist Shining Path. Akibatnya, pelanggaran HAM atas rakyat
sipil menjadi sistematis dan meluas dengan pembenaran ‘war on drugs”.

“Politik  Narkotik” Amerika Serikat 

Sejarah
keterlibatan pemerintah AS, dengan isu narkotika sangat terkait dengan
kepentingan ideologi dan politik global AS itu sendiri. “Politik
narkotik” AS ini dapat ditelusuri pada Perang Dunia II. Demikian juga
keterlibatan pemerintah AS secara politik dalam bekerjasama dengan
pengedar narkotika, dapat ditelusuri pada strategi AS dalam Perang
Dunia ke II.

Ketika itu The Office of Strategic Services (OSS),
yang kemudian menjadi CIA, membangun hubungan dengan para pimpinan
mafia dunia hitam Italia di New York dan Chicago, seperti Charles
'Lucky' Luciano, Meyer Lansky, Joe Adonis, dan Frank Costello. Mereka
ini, para pimpinan mafia, membangun jaringan di AS ketika Italia di
bawah diktator fasis Benito Mussolini. Tugas mereka adalah melakukan
sabotase atas pelabuhan di pantai Timur dan mengawasi sekutu-sekutu
pemerintahan fasis. Namun, kemudian peran mereka juga diperluas untuk
mengawasi dan menghancurkan serikat buruh dan kaum kiri di Italia, yang
saat itu menjadi garda terdepan melawan fasisme dan mempunyai pengaruh
luas di serikat buruh.

Luciano, pemimpin mafia Italia di New
York, sempat ditahan karena kejahatan teroganisirnya di Amerika, namun
kemudian di bebaskan karena bantuannya selama PD II, bahkan
diperbolehkan kembali ke Italia. Dari negeri pizza itu, ia membangun
imperium heroin yang didatangkan dari Turki dan Lebanon, untuk kemudian
diproses dalam laboratorium di Sisilia.

Setelah PD II berakhir,
kerjasama dengan mafia Italia dilanjutkan. Pada tahun 1947, di tahun
awal pendiriannya, CIA melanjutkan jaringan komunitas inteleljen dengan
mafia untuk memerangi komunisme, ketika dunia memasuki awal perang
dingin. CIA dan mafia Korsika juga menjalankan operasi untuk memerangi
serikat buruh kiri, yang menguasai pelabuhan di Marseille. Setelah
menghancurkan kekuatan serikat buruh kiri, mafia Italia praktis
menguasai pelabuhan. Selama 25 tahun kemudian kontrol mafia atas
pelabuahan di Marseille, menjadi sarana untuk mengirim heroin ke
Amerika Serikat.

CIA juga mulai membangun kontak dengan mafia di
Jepang, Yakuza, untuk mengawasi dan menjamin Jepang tetap menjadi
negara non-komunis. Sebagai imbalannya, Yakuza tumbuh menjadi penyalur
methamphetamine paling terkemuka di Hawaii

Amerika Serikat juga
terlibat dalam produksi dan perdagangan opium di kawasan Gold Crescent
(bulan sabit emas) di Iran, Afganistan dan Pakistan dan Golden Triangle
(Segitiga Emas) di Burma,Thailand dan Laos. Di kedua kawasan tersebut,
CIA bekerjasama dengan produsen opium dalam kerangka Perang Dingin,
yaitu membendung ekspansi komunis dari Uni Soviet dan RRC.

Ketika
tentara pembebasan rakyat pimpinan Mao Tse Tung menguasai RRC pada
tahun 1949, pasukan Kuomintang (KMT) di bawah pimpinan jenderal Lu Han
dipukul mundur hingga keluar RRC, dan menetap di perbatasan Burma. Pada
tahun 1950, ribuan tentara KMT yang ada di Laos ikut bergabung di
perbatasan Burma, untuk membangun basis perlawanan menghadapi
pemerintahah komunis RRC.

Dalam situasi ini, Amerika Serikat
memasuki pertempuran dengan memberikan dukungan pada KMT. Dukungan ini
menurut pemerintahan Truman, dimaksudkan untuk “to  block  further Communist 
expansion in Asia."  Pada April 1950 Joint Chief of Staff (JCS) menyarankan 
kepada Menteri Pertahanan, untuk menjalankan  "a program of  special covert 
operations designed to interfere with Communist  activities in  Southeast 
Asia..."

Pada
tahun 1952-53, di kawasan segitiga emas, kerjasama CIA dengan tentara
(KMT) untuk membendung ekspansi RRC, dimulai. Di Laos antara tahun
1960-1975, CIA mengontrol trasnportasi udara heroin dari Laos. Dana
dari heroin ini kemudian digunakan untuk perang melawan Vietnam Utara,
yang dipimpin oleh pejuang legendaris Ho Chi Minh, yang saat itu tengah
erjuang melawan kolonialisme Prancis dan pemecahan Vietnam Selatan oleh
AS. Heroin juga disuplai untuk para tentara Amerika di Vietnam.

Masih
dari kawasan Bulan Sabit Emas, pada tahun 1979 tentara Uni Soviet
melakukan invasi ke Afganistan dan mendirikan rejim komunis boneka. CIA
kemudian membantu para pemberontak bersenjata diperbatasan untuk
melawan rejim komunis Afganistan yang didukung Soviet. Untuk operasi
tersebut, CIA bekerjasama dan mendapat dukungan dana dari perdagangan
opium dan kelompok Taliban, yang berkolaborasi dengan Osama bin Laden.
Dari aliansi strategis ini, mereka berhasil mengusir tentara Soviet dan
kemudian menggulingkan rejim boneka bikinan Moskow. Dari sinilah
asal-usul kemunculan rejim Taliban yang reaksioner, anti Barat, dan
pada akhirnya digulingkan kembali melalui invasi militer oleh
pemerintah AS pasca traged1 11 September 2001.

Selain
kepentingan ideologis, kerjasama dengan jaringan pedagang narkotik dan
Osama bin Laden, juga ditujukan untuk menjaga kepentingan pipa gas dan
minyak perusaan minyak AS, UNOCAL.

‘War on Drugs’ Pasca Perang Dingin

Pada
akhir tahun 1980-an, Perang Dingin berakhir dengan simbol dirubuhkannya
tembok Berlin di Jerman secara dramatis. Pada tahun inilah Presiden AS,
Ronald Reagan (1980-1988), mulai menformulasikan kebijakan anti
narkotik dan mulai menggunakan kata ‘perang’ dan keamanan nasional.

Penciptaaan
“musuh baru” sebagai “ancaman keamanan” bagi Amerika, adalah strategi
klasik AS untuk tetap mempertahankan hegemoni politiknya pasca Perang
Dingin. Hancurnya Uni Soviet, jelas kemenangan bagi kubu kapitalis, dan
untuk itu harus diciptakan “monster baru” guna tetap menjaga tugas
patriotik pemerintah AS dalam menyelamatkan dunia. Seperti dikatan oleh
Bush senior, “Drugs
are sapping our strength as a nation...here is not match for a United
America, a determined America and angry America. Our outrage against
drugs unites us all.“

Dengan Perang melawan narkotika
yang didefinisikan sebagai “ancaman keamanan” maka intervensi AS
dipandang sebagai “self defence,” daripada melakukan intervensi atas
urusan dalam negeri negara lain. Beriringan dengannya, bantuan
pelatihan dan dana segera mengalir kepada rejiim-rejim korup dan
kekuatan sayap kanan, yang mempunyai keterpautan dengan perdagangan
narkotik itu sendiri. Perang melawan narkotik, juga menjadi pembenaran
bagi intervensi AS, dimana rejim-rejim otoriterian (militer) yang
menjadi pelindung kapitalisme AS di Amerikat Latin sedang mendapatkan
ancaman. Jadi, bukan kebetulan bila pernyataan perang melawan narkotika
ini berbarengan dengan proses transisi demokrasi di Amerika Latin,
dimana banyak kekuatan sayap kanan mulai khawatir dengan hegemoni
politik mereka.

Kecenderungan globalisasi ekonomi dan integrasi
ekonomi regional (the North American Free Trade Agreement, Mercosur,
the Central American Integration System, the Andean Pact, dan the
Caribbean Community), telah mengakselerasi proses transnasionalisasi
dari struktur yang mengkoordinasikan “perang melawan narkotika.” Bagi
militer, misi penyerangan melawan narkotika adalah mesin yang penting
untuk melakukan kolaborasi lintas negara, tentu saja semuanya di bawah
komando AS. Kolaborasi militer ini, terutama di Amerika Latin, membawa
implikasi-implikasi politik yang lebih luas, sebab perang melawan
narkotik itu, juga menjadi alat konsolidasi dari kekuatan
“state-terorism” untuk melakukan “perang kotor” melawan musuh-musuh
ideologi Amerika di Amerika Selatan dan Tengah.

Akibatnya,
perang melawan narkotika, lebih dilihat sebagai “pintu masuk” bagi
politik intervensi Amerika, untuk menjaga “posisi politik”
sekutu-sekutu militernya agar dapat disetir menurut kepentingan politik
dan ekonomi AS. Kasus Noriega di Panama, dukungan pada gerilyawan
Contra di Nicaragua, adalah contoh dimana perang melawan narkotika,
hanyalah “topeng politik” untuk melegitimasi politik washington atas
negara-negara di kawasan itu. Seperti dikatakan Peter Dale Scott, “Today
the United States, in the name of fighting drugs, has entered into
alliances with the police, armed forces, and intelligence agencies of
Colombia and Peru, forces conspicuous by their own alliances with
drug-traffickers in counterinsurgency operations.” “The agency (CIA)
gave them money under counternarcotics and they used their money to do
other things in the political arena." 

Di masa Bush
senior, menteri pertahanan William Perry, dalam pertemuan para menteri
pertahanan di Bariloche, Argentina, pada Oktober 1966, menyatakan,
perdagangan narkotika adalah fenomena internasional, dan tidak mengenal
batasan, yang mengakibatkan pemerintahan nasional tidak menguntungkan
untuk melawannya sendirian. Pada tahun 1997, diadakan pertemuan ketiga
menteri pertahanan yang diadakan di Cartagena, Kolumbia, sebuah negeri
yang sangat mendukung strategi global AS, dalam perang melawan
narkotika. Dalam pertemuan ini secara bertahap konsep keamanan nasional
mulai digantikan dengan konsep keamanan secara kontinental, yang
lagi-lagi dipimpin oleh AS.

Pada tahun 1992, dalam San Antonio
Americas Summit, Presiden Bush kembali mengajukan proposal sebuah
kekuatan militer multilateral, untuk memerangi perdagangan narkotika di
Amerika Latin. Dalam pertemuan di Bariloche, gagasan Bush ini diangkat
kembali. Kali ini gagasan ini diangkat oleh mentri pertahanan Kolumbia
Juan Carlos Ezguerra Portocarrero. Dua proposal sekretaris pertahanan
AS William Perry dibicarakan di Bariloche. Pertama, membuat pusat
pelatihan militer regional di Amerika Serikat, untuk menghadapi
perdagangan narkotika; kedua, menghubungkan jaringan intelijen militer
dalam perdaganan narkotika melalui Pentagon. Proposal Amerika ini
ditolak oleh Argentina, Brazil, Mexico dan Uruguay yang tidak sepakat
untuk melanjutkan kerjasama militer dalam isu narkotika dan menolak
gagasan kekuatan multilateral menghadapi narkotik. Menurut sekretariat
kementrian luar negeri Brazilia “it violates the principles of 
self-determination.”

Tapi,
bukan Amerika Serikat namanya bila tidak maju terus memaksakan
gagasannya. Kerjasama militer “war on drugs” tetap dijalankan, caranya
dengan membangun kerjasama bilateral dengan kekuatan “sayap kanan” baik
sipil maupun militer di berbagai negeri di Amerika Latin. Kerjasama
bilateral tersebut meliputi program asistensi untuk melibatkan militer
lebih jauh dalam perang melawan narkotika. Untuk menarik kerjasama
bilateral, pemerintah AS pada paruh kedua tahun 1996, meningkatkan dana
untuk perang melawan narkotika, bantuan perlengkapan militer,
menghentikan pelarangan penjualan senjata kepada militer seperti dalam
kasus Peru, menyediakan akses bagi militer Argentina untuk berbagai
perlengkapan persenjataan seperti aircraft dan misil, dan memberikan
beberapa helikopter kepada militer Kolumbia dan Mexico untuk memerangai
narkotika.

Semua kerjasama bilateral ini, telah
mengkosolidasikan kekuatan “militer” di Amerika Latin, yang sejak lama
menjadi sekutu setia amerika serikat. Akibatnya, terjadi proses
“militerisasi” dalam proyek-proyek “war on drugs’ di Amerika Latin. 

Di
Mexico, Kelompok Kerja Pertahanan AS dan Mexico selama setahun seluruh
posisi penting lembaga ini jatuh ketangan militer (atau pensiunan
jendeeral). Demikian juga dengan lembaga-lembaga lainnya yang dibantu
pemerintah AS: The National Institute for the Fight Against Drugs;
Federal Judicial Police dan Center for Drug Control Planning. Sementara
unit-unit militer digunakan untuk memerangi perdagangan narkotika.

Di
Panama, Sekretaris Kementrian Panama mengajukan proposal pembangunan
pangkalan militer bersama dengan militer AS, dengan alasan untuk
menghadang perdagangan narkotika. Namun, tujuan sebenarnya dari
pendirian pangkalan ini adalah untuk melanjutkan keberadaan tentara AS
di terusan Panama, yang akan berakhir pada 31 Desember 1999. Jenderal
Barry McCaffrey, salah seorang pensiunan jenderal yang terlibat dalam
upaya ini, yang juga mantan pimpinan head of the US Southern Command
(SOUTHCOM) di Panama, merekomendasikan pengiriman 5000 anggota pasukan
ke sana. Brazil juga terlibat dalam operasi perang melawan narkotika
yang dipimpin AS ini. Di Argentina, pemerintahan presiden Carlos Menem
dan AS menyepakati perjanjinan kerjasama militer di antara kedua negara.

Dewan
Keamanan Nasional AS, juga mengajukan proposal untuk pembentukan Latin
American Air Force, untuk memerangi perdaganan narkotika. Untuk itu
Pentagon akan mengirim 70 pesawat ke Kolumbia, Mexico, Venezuela, Peru,
dan Ekuador. Untuk keperluan proyek ini, Pentagon juga akan mengucurkan
dana sebesar $400 juta, jumlah dana terbesar dalam sejarah transfer
pesawat di Amerika Latin. Semua kerjasama bantuan dan operasi militer
telah meningkatkan anggaran perang melawan narkotika di pemerintahan
Clinton, hampir tiga kali lipat yang ditujukan untuk militer dan polisi
di Amerika Latin.

Militerisasi  dan Politik Sayap Kanan

Selama
Perang Dingin, kebijakan AS terhadap Amerika Latin adalah mendukung
pemerintahan otoriterian yang dikusai militer. Militer menjadi sekutu
paling dipercaya dalam menghadapi bahaya komunisme dan perlawanan
rakyat. Dengan berakhirnya Perang Dingin dan tuntutan tanggung jawab
pelanggaran HAM atas para jenderal selama berkuasa di Amerika Latin,
pemerintah AS tetap harus menjaga dan merawat hubungannya dengan para
jenderal atau militer di kawasan itu melalui isu perdagangan narkotika.
“They remain driven by the belief that the best way to achieve their goals is 
to strengthen military-to-military ties.“ Program pelatihan militer terus 
dilanjutkan sebagai upaya untuk mengikat militer Amerika Latin untuk 
kepentingan Washington.

Sejarah
kerjasama AS dengan militer di Amerika Latin, telah berumur panjang.
Banyak dari jenderal yang berkuasa di Amerika Latin, adalah anak didik
militer AS dalam program pelatihan bagi para perwira militer, yang
dikenal dengan nama U.S. Army's School of the Americas (SOA). SOA
didirikan pada tahun 1946 di Pangkalan Komando AS di Panama dan
kemudian dipindahkan ke Ft. Benning. Selama 50 tahun beroperasi,
sekolah militer ini menghasilkan 58.000 lulusan dari seluruh negeri di
Amerika Latin, Amerika Tengah, dan Karibia. Untuk membiayai sekolah
bagi sekutu-sekutu militer AS ini, dihabiskan biaya sekitar 18 juta
dolar.

Sekolah ini melahirkan banyak sekali para diktator dan
jendral yang terlibat langsung dalam pelanggaran HAM berat di Amerika
Latin dan Amerika Tengah, sehingg sering dijuluki sebagai “Sekolah Para
Pembunuh (School of Assassins) dan “Sekolah Bagi Para Diktator (School for 
Dictators).

Memang,
sejak tahun 1960-an banyak sekali lulusan SOA yang menjadi kepala
negara di 6 negara yang berbeda dan menerapkan kekuasan otoriter,
militeris, dan anti demokrasi. Termasuk di sini adalah jenderal Manuel
Noriega di Panama, Jendral Roberto Viola di Argentina, dan Brigadir
Jenderal Juan Melgar Castro di Honduras. Pada tahun 1993, menurut
Komisi Kebenaran PBB, sekitar 69 orang perwira alumni sekolah ini masuk
dalam daftar para pelanggar HAM berat selama perang sipil, pembentukan
pasukan pembunuh, penculikan dan pembunuhan atas warga sipil di di El
Salvador, Honduras dan Peru.

Dengan berakhirnya perang dingin,
proses demokrasi di Amerika Latin semakin memojokan sekutu tradisionil
AS ini. Namun, pemerintah AS tetap mencari akal agar kerjasama militer
dengan kolega-kolega militer di sana dapat terus dilanjutkan. Seperti
dikatakan angota Kongres dari partai Republik, Bob Barr (R-GA) pada
September 1997, dalam upaya mendukung pemerintah AS untuk terus
membiayai SOA "The cold war may be over, but the war against narcotics 
traffickers is not."
Pemerintahan Clinton mengambil posisi yang sama ketika menolak usulan
penutupan SOA, karena pelanggaran HAM yang dilakukan para alumnusnya
dengan menganggap tetap dibutuhkan untuk perang melawan narkotika.

Tidak
peduli dengan kritikan menyangkut HAM, pemerintah AS tetap memberikan
pelatihan khusus dengan “kedok” perang melawan narkotik kepada
sekutu-sekutu militernya dari Amerika Latin, Tengah dan Karibia.
Dibuatlah pelatihan militer melawan narkotik di Army's Jungle
Operations Training Center di Fort Clayton dan di Naval Small Craft
Instruction and Technical Training School di Rodman Naval Station
(keduanya berbasis di Panama). Namun, program pelatihan ini, ironisnya
justru juga diikuti oleh para perwira militer yang dikenal luas sebagai
bagian dari jaringan narkotik itu sendiri. Misalnya saja di Peru,
Guatemala, Kolumbia, Mexico, dan bebeerapa tempat lainnya, banyak para
perwira militer yang direkrut dan dilatih untuk perang melawan
narkotika justru mempunyai hubungan dekat dengan jaringan narkotika di
Amerika Latin.

Selain itu, para perwira yang dilatih untuk
perang melawan narkotika, dalam banyak kasus, bukannya menggunakan
unit-unit militer untuk menyerang organisasi narkotika tapi, justru
lebih sering digunakan untuk menyerang “rakyat sipil,” oposisi dan
aktivis. Sehingga didapat fakta bahwa pelatihan yang diberikan justru
digunakan untuk melakukan pelanggaran HAM berat secara sistematis. Pada
tahun 1973, misalnya, Kongres AS, menemukan bahwa pelatihan tersebut
digunakan oleh militer dan polisi untuk melakukan pelanggran HAM berat
di Uruguay, Argentina dan berbagai tempat lainnya di Amerika Latin.
Kongres akhirnya melarang bantuan dana dari State Department's Bureau
of International Narcotics and Law Enforcement Affairs (INL), kepada
unit-unit militer yang terbukti kuat bertanggungjawab atas pelanggaran
HAM berat. Salah satu sekutu Amerika, yang diduga harus bertangungjawab
atas pelanggaran HAM berat yang mengakibatkan tewasnya sekitar 20.000
warga sipil di Guatemala, adalah jenderal Julio Roberto Alpirez,
jebolan dari the US Army's School of the Americas (SOA).

Para
perwira militer binaan AS yang terlibat dalam perdagangan narkotika,
juga terlibat dalam upaya politik untuk membunuh dan merebut kekuasaan
politik dari para pimpinan negara atau poloitisi yang tidak ramah
dengan politik luar negeri AS. Pada tahun 1986, Jenderal Jose Bueso
Rosa, terlibat dalam upaya pembunuhan Presiden Honduras Roberto Suazo
Cordova. Upaya pembunuhan ini diduga terkait dengan sikap sang presiden
yang tidak koperatif untuk mendukung pemerintah AS dalam upaya
mendukung gerilyawan Contra di Nikaragua. Bueso juga terlibat dalam
penyelundupuan 345 kg heroin senilai 40 juta dolar AS. Namun karena
jasanya mendukung gerilyawan Contra yang didukung AS, pemerintahan
Reagan memberi tekanan agar sang jendral diberi hukuman ringan yaitu 5
tahun penjara di Florida, AS.

Pada tahun 1980, aliansi antara
CIA, perwira militer dan mafia narkotika, berkoloborasi untuk melakukan
apa yang disebut dengan peristiwa “kudeta kokain” atas pemerintah
Bolivia yang berkuasa. Tujuan kudeta ini untuk menggusur pemerintahan
yang sah karena menurut anggapan AS, memiliki kecenderungan sosialis.
Mafia narkotik mendukung kudeta tersebut, karena pemerintahan yang baru
menjalankan kebijakan anti narkotik yang keras, sementra pemerintah
Amerika dan sekutu militernya ingin memberikan tekanan kepada gerakan
sosialis di Amerika latin.

Di Nikaragua, pemerintahan Ragan
sangat terobsesi untuk menghancurkan pemerintahan sosialis Daniel
Ortega, dengan menghalalkan segala cara. Untuk itu pemerintahan Reagan
dapat mentoleransi dan melindungi para pedagang narkotika, sejauh para
pedagang tersebut memberikan dukungan pada gerilyawan sayap kanan
Contra yang didukungnya. CIA bekerjasama dengan dua orang pedagang
narkotik Rafael Caro Quintero dan Miguel Angel felix Gallardo, yang
dikenal sebagai penyuplai narkotik sebanyak hampir 4 ton per bulan ke
AS. Para mafia lainnya yang juga terlibat hubungan dengan CIA dalam
upaya mendukung Contra adalah Manuel Noriega (Panama), John Hull (Costa
Rica), Felix Rodriguez (El Salvador), Juan Ramon Matta Ballesteros
(Honduras) serta dengan dukungan dari sekutu militaemala dan Honduras.
Kerjasama dengan para mafia narkotik ini juga menghasilkan uang untuk
mendukung gerilyawan Contra.

Di Kolumbia, baru-baru ini, unit
militer yang didukung oleh militer AS memburu pimpinan gerilyawan kiri
FARC, hingga masuk kewilayah Honduras dan Venezuela. Ketegangan
diplomatik sempat terjadi dengan Honduras dan Venezuela akibat insiden
perbatasan tersebut. Pemerintah Kolumbia adalah contoh pemerintahan
yang secara setia menjadi kaki tangan AS, untuk menjalankan strategi
“politik dan perang melawan narkotik.” Pada kenyataaanya, bantuan
militer dari AS lebih banyak digunakan secara sistematis untuk
melakukan perang sipil melawan oposisi kiri, aktivis gerakan rakyat dan
gerilyawan kiri FARC. Militer dan paramiliter memasuki desa-desa dan
melakukan berbagai pelanggaran HAM berat atas rakyat sipil dengan
tuduhan mendukung gerilyawan FARC.

Di Haiti, CIA mendukung
militer untuk melakukan oposisi atas presiden populis jean Bertrand
Aristide, yang menolak jalan kapitalisme ala Bank Dunia dan IMF dan
membersihkan pemerintahan dari pengaruh perdagangan narkotik. Militer
Haiti, yang menjadi sekutu AS, terkenal karena keterlibatan mereka
dengan perdagangan narkotik. Akhirnya kepentingan politik Amerika dan
para jendral bertemu dalam gerakan untuk menggulingkan presiden
Aristide.

Pencucian Uang

Pada
tahun 1994, The UN Commission on Narcotic Drugs, memperkirakan
transaksi penjualan narkotik di seluruh dunia berkisar antara $400
milyar hingga $500 milyar setahun. Jumlah ini senilai dengan 10 hingga
13 persen dari total perdagangan di seluruh dunia selama setahun.
Perdagangan narkotik menghasilkan transaksi dagang yang lebih besar
daripada perdagangan internasional minyak dan mineral yang menyumbang
sekitar 9.5 persen perdagangan internasional. Lebih besar dari
perdagangan bahan kimia yang mencapai 9.5 persen. Lebih banyak daripada
perdagangan internasional bahan makanan, binatang hidup, dan tembakau
yang mencapai sektiar 9 persen dari perdagangan dunia.

Jumlah
dana yang bermain dalam bisnis narkotika, dua kali lipat dari dana
global perusahaan farmasi (US$215 milyar di tahun 1993) dan 7 hingga 8
kali lebih banyak dari dana asistensi pembangunan global yang mencapai
66.6 milyar dollar pada tahun 1993.

Di AS, memang tidak terdapat
data yang resmi tentang jumlah uang yang terkumpul dari hasil
perdagangan illegal narkotik.Tapi, sebagai gambaran, pada tahun 1981
pemerintah AS menduga uang yang dihasilkan dari perdagangan narkotik
sekitar $3 trilyun. Jumlah ini lebih banyak dari perdagangan
internasional semua komoditi yang hanya mencapai $1 trilyun. Dengan
data ini, dapat diduga bahwa uang dari narkotika memainkan peran
penting dalam politik dan ekonomi Amerika, meskipun angkanya tidak
tercatat dalam statistik ekonomi yang resmi.

Perdagangan
narkotika jelas menghasilkan uang dalam jumlah besar. Industri bank
tampaknya mendapatkan keuntungan besar dari bisnis narkotika, dengan
menyediakan diri sebagai tempat penyimpanan dan pencucian uang. CIA
sendiri dianggap mengambil peranan dalam proses pencucian uang
tersebut. Biasanya, pihak bank akan mencurigai transaksi uang dalam
jumlah besar apalagi dalam bentuk tunai. Tapi bila bekerjasama dengan
CIA, semua kecurigaaan ini bisa dilewati atas nama “keamanan nasional.”

Wartawati
Veronica Guerin, yang dibunuh karena investigasinya dalam soal
pencucian uang mengatakan, sebetulnya bila ingin menangkap para bandar
narkotika, polisi cukup mengikuti aliran transaksi uang: “follow the
money and they would and find the crook.” Tapi pada kenyatannya, para
pelaku dilindungi oleh bank itu sendiri.

Bank bekerjsama dengan
para mafia narkotik karena mendapatkan persentase keuntungan yang besar
dalam waktu cepat, bila perlu dengan mengakali dan melanggar aturan
yang ada. Citibank, misalnya, di investigasi oleh Kongres karena
menyimpan uang senilai 80 hingga 100 juta dolar milik Raul Salinas de
Gortari, adik dari mantan presiden Mexico Carlos Salinas.

Salah
satu bank yang juga dikenal sebagai tempat pencucian uang adalah The
Bank of Credit and Commerce International (BCCI), yang dekat dengan
lingkaran politik Margaret Thatcher, sekutu dekat Presiden AS, Ronald
Reagan. Bank ini mempunyai 3000 langganan yang terkait dengan kajahatan
seperti perdagangan senjata dan perdaganan narkotik. Noriega mempunyai
sembilan rekening di bank ini dengan deposit berjumlah 17.3 juta
poundsterling antara tahun 1980-1988. Oliver North, sekertaris
pertahanan di jaman Reagan, mempunyai tiga rekening.

Uniknya
Bank of England, tidak menemukan hal yang mencurigakan dari bank ini.
Bahkan Margareth Thatcher pernah diusulkan oleh pendukung dekatnya
untuk menjadi presiden dari Bank ini. Pada tahun 1991, ketika BCCI
mengalami kebangkrutan, Thatcher berupaya membelanya dengan mengatakan
bahwa BCCI mengalami perlakuan yang tidak adil dari Bank of England.
Laporan dari Police Foundation dan University of Wales, memperkirakan
uang yang dicuci dari hasil penjualan narkotik di Inggris tiap tahun
bernilai 2.5 miliar poundsterling.

Penutup

Strategi
“war on drugs” yang dijalankan oleh pemerintah Amerika Serikat, sangat
jelas telah menimbulkan berbagai kerusakan berantai dan terbukti gagal
untuk menghentikan perdagangan narkotika itu sendiri. Saratnya
kepentingan ideologi dan politik AS dalam strategi perang melawan
narkotika, membuat perang ini justru keluar dari relnya, terseret oleh
kepentingan politik global AS

Kita tahu pemberantasasn
perdagangan narkotik di Indonesia, juga mendapatkan dukungan luas dari
pemeritnah Amerika Serikat. Karena itu perlu kehati-hatian agar, perang
melawan narkotik di Indonesia tidak mencopypaste cara Amerika atau
tidak menjadi bagain dari strategi “politik global“ mereka.

Strategi
perang melawan narkotik ala cowbow Amerika, juga telah melupakan satu
faktor penting yaitu para korban narkotika itu sendiri. Di Amerika,
para korban secara umum diperlakukan sebagai kriminal, tidak berbeda
dengan para mafia pedagang narkotik. Karena diperlakukan sebagai
kriminil, maka “penjara” menjadi tempat penampungan bagi para korban
itu sendiri. Dana ‘war on drugs’ untuk pelatihan militer yang sia-sia,
tidak sebanding dengan bantuan pusat rehabilitasi untuk para korban itu
sendiri.

Dari strategi “War on Drugs” yang menjadi strategi
Amerika Serikat dapat dilihat kehancuran-kehancuran lebih luas yang
diakibatkanya:

Pertama,
perang tersebut lebih sarat dengan kepentingan politik dan ideologi
Amerika, daripada motif untuk menghancurkan perdagangan narkotik. War
on drug lebih tampak sebagai strategi Amerika Serikat untuk mengklaim
dirinya sebagai polisi dunia;

Kedua,
perang tersebut terbukti, dalam banyak kasus (terutama di Amerika
Latin), telah membantu konsolidasi dan hegemoni politik sekutu-sekutu
militer sayap kanan AS, untuk mempertahankan kekuasaan atau untuk
merebut kekuasaan;

Ketiga,
kerjasama pelatihan militer dan operasi militer dengan Amerika Serikat,
jelas lebih memperkuat militerisme dan penyalahgunaan bantuan oleh
sekutu-sekutu militer AS untuk melakukan berbagai pelangaran HAM kelas
berat;

Keempat,
‘war on drugs’ menjadi alat illegal dari “perang kotor” pemerintah AS
atas lawan-lawan politiknya, yang diangap tidak segaris dengan
kepentingan Amerika Serikat’

Kelima,
strategi ‘war on drugs’ telah menciptakan korupsi, pencucian uang dan
“bisnis ilegal,” yang melibatkan institusi resmi negara (seperi CIA,
DEA, FBI, Dept. pertahanan, sekretaris pertahanan dll);

Keenam,
strategi ‘war on drugs’ sama sekali tidak mengurusi dan mempunyai
program yang berpihak kepada ‘para korban pemakai narkoba’, tapi
menempatkannya sebagai “kriminil” sama dengan para pedgang dan mafia
narkotik itu sendiri.***

Wilson, Koordinator Litbang Perkumpulan Praxis.
Tulisan ini adalah paper pengantar dalam PERTEMUAN NASIONAL HARM REDUCTION 
(PNHR) KE-II MAKASSAR, 15 – 18 Juni 2008

Kepustakaan:

Ex-DEA agent Michael Levine, "The Big White Lie: The CIA and the Cocaine/Crack 
Epidemic," http://ciadrugs.homestead.com/files/purpose.html

Steven Wisotsky, "A Society Of Suspects: The War on Drugs and Civil Liberties," 
 http://www.cato.org/pubs/pas/pa-180.html)

"The CIA and Drugs: An Introduction," 
http://ciadrugs.homestead.com/files/purpose.html

Francis W. Belanger,  "Drugs, the U.S., and Khun Sa," 1989, Editions Duang 
Kamol,Siam Square,  Bangkok, Thailand

Peter Dale Scott, "Drugs, Oil, And War: The  United States in Afghanistan, 
Colombia and Indochina," March 2003. Rowman & Littlefield.

------------,  "OVERVIEW: THE CIA, THE DRUG TRAFFIC, AND OSWALD IN MEXICO,"    
December 2000,  http://www.history-matters.com/pds/DP3_Overview.htm

Pater Dale Scoot and Jonathan Marshall, "Cocaine Politics,"  Berkeley and Los 
Angeles: University of California Press, 1991 .

Martin Jelsma .”Democracy, Human Rights, and Militarism In the War on Drugs in 
Latin America,” 
http://www.tni.org/detail_page.phtml?page=reports_drugs_folder1_jelsma

Robert Brophy and Peter Zirnite. “U.S. Military Training for Latin America," 
Volume 2, Number 48October 1997. http://www.fpif.org/briefs/vol2/v2n48mil.html)

As
Francis J. McNeil, former Deputy Assistant Secretary of State for
Intelligence and Research noted, in 1986, eight top officials, led by
North, persuaded a federal judge to grant a lenient sentence to
Honduran Gen. Jose Bueso-Rosa.
http://ciadrugs.homestead.com/files/purpose.html

Deirdre Griswold. ”CIA Is Up To Its Eyeballs In Cocaine Deals  Which banks 
laundered the money?"

Audrey Farrell . “Addicted To Profit—Capitalism and  Drugs,” Internasional 
Socialism Issue 77 quarterly journal of the Socialist Workers Party (Britain) 
Published December 1997 .


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke