Merajut Hubungan Islam-Kristen
10-October-2006

Puncak ketegangan hubungan teologis atau pun politis antara Islam dan Kristen 
adalah tragedi kemanusiaan dalam bentuk Perang Salib dengan segala akibat yang 
ditimbulkannya. Terlepas dari keuntungan-keuntungan yang diperoleh dari Perang 
Salib, tapi sungguh, Perang Salib telah membuat lembaran hitam tak terlupakan 
dalam hubungan Islam dan Kristen. Kita tidak perlu menutupi kenyataan bahwa 
pengaruhnya tetap berlanjut jauh sesudah perang tersebut dianggap selesai, 
bahkan sekarang pun! 
Munculnya kolonialisme dan imperialisme, menyusul penemuan “dunia baru” oleh 
dunia Barat, juga memperburuk situasi hubungan Islam-Kristen yang sebelumnya 
memang sudah tidak baik. Mayoritas penduduk sebagian besar negeri tempat 
kolonialisme dan imperialisme tersebut menambang kekayaan adalah muslim. Selama 
kolonialisme-imperialisme itu perang menjadi pola utama hubungan antara 
Islam-Kristen. Sebagian negeri muslim, dari Maroko hingga Indonesia, pernah 
mengalami pahitnya di bawah kolonialisme. 
Baik Perang Salib maupun kolonialisme dan imperialisme membuat lembaran yang 
tak terlupakan dalam hubungan Islam dan Kristen. Sebagaimana motivasi keduanya 
merupakan campuran dari berbagai kepentingan, seperti agama, politik, dan 
ekonomi, maka pengaruhnya juga terdapat dalam pelbagai segi kehidupan. 
Uraian di atas bukanlah satu-satunya gambaran hubungan antara Islam dan 
Kristen, baik dulu maupun sekarang. Di samping sisi buram yang banyak 
memperlihatkan segi konfrontatif dan sikap eksklusif di masing-masing pihak, 
kita juga dapat menemukan lebih banyak sisi cerah dan menyejukkan yang 
memperlihatkan hubungan akrab dan baik antara Islam dan Kristen; banyak bukti 
dapat ditemukan di awal pertumbuhan Islam dan Kristen. Hubungan seperti itu 
bukan sesuatu yang kebetulan karena memang memiliki dasar-dasar teologis yang 
kokoh. Ajaran tentang kisah tuhan bukan hanya milik atau monopoli Kristen. 
Semua agama mengajarkannya dan mewajibkan para pemeluknya untuk meratakannya di 
seluruh permukaan bumi. Demikian pula, doktrin “tidak ada paksaan dalam agama” 
adalah sifat universal, dan pada dasarnya milik semua agama. Karena paksaan 
agama dalam bentuk apa pun adalah bertentangan dengan harkat dan nilai-nilai 
kemanusiaan yang dihormati dan dijunjung tinggi oleh
 semua agama. 
Tujuan agama bukanlah sekedar membangun tempat-tempat ibadah yang indah dan 
megah, tetapi yang lebih utama adalah mengembangkan dan meningkatkan kualitas 
hidup manusia, seperti toleransi, kesejahteraan, dan cinta. Oleh karena itu, 
kekerasan jelas sangat bertentangan dengan nilai-nilai dasar agama. Dengan 
begitu adalah sesuatu kekeliruan besar menyatakan bahwa suatu agama merupakan 
ancaman bagi semua agama lain. Pandangan seperti ini menafikan sisi positif dan 
inklusif ajaran setiap agama. 
Di samping pola atau model konfrontasi dan konflik, dalam sepanjang sejarah 
hubunga Islam dan Kristen selama lebih dari empat belas, kita pula dapat 
melihat secara jelas bentuk-bentuk kontak atau hubungan yang lain, seperti 
pembiaran atau aliansi, perlindungan dan perlakuan sebagaimana mestinya, 
penghargaan dan persahabatan, sinkritisme dan supersesi, pluralisme dan 
perdamaian. 
Model konfrontasi dan konflik jelas harus kita tinggalkan dan diupayakan agar 
tidak terulang kembali. Selain bertentangan dengan ajaran setiap agama, 
termasuk agama kita, sejarah bangsa juga telah menunjukkan bahwa model 
konfrontasi telah banyak menimbulkan derita bagi kemanusiaan. Di sinilah kita 
merasakan pentingnya senantiasa belajar dan mengingat sejarah agar peristiwa 
serupa tidak terulang kembali. 
Penomena sekarang kita kenal dengan istilah globalisasi telah mempertemukan 
orang-orang dengan latar belakang yang berbeda dengan secara lebih ekstensif 
dan intensif di banding sebelumnya. Kehidupan global menjadikan kita lebih lagi 
dapat bersikap eksklusif dengan menyatakan bahwa “benar atau salah adalah 
negeri saya”. Karena negeri kita ini bukan hanya Asia, Amerika, Eropa, 
Australia, tetapi dunia. Kita juga tidak dapat mengatakan bahwa hanya kitalah 
yang benar dan semua yang lain salah, atau hanya kita yang baik dan semua yang 
lain buruk. Dalam situasi dan kondisi sekarang kita diharuskan untuk lebih 
mengembangkan sikap-sikap pluralis dan inklusif, menjalin dan meningkatkan 
hubungan yang dialogis dan kooperatif. 
Dalam sejarah hubungan antaragama, ada dua peristiwa penting yang 
memperlihatkan keinginan ke arah kerja sama konstruktif dan posotif antaragama. 
Pertama adalah parlemen agama-agama I yang diselenggarakan lebih dari satu abad 
lalu di Chicago, dan kedua adalah parlemen agama-agama II yang diadakan di kota 
yang sama pada tahun 1993. Lepas dari perbedaan-perbedaan yang ada, kedua 
parlemen agama-agama tersebut jelas memperlihatkan keinginan para pemeluk semua 
agama untuk saling bertemu dan menjalin kerja sama positif dalam upaya 
menciptakan kehidupan damai dan sejahtera dalam konteks kehidupan pluralis, 
seperti diindikasikan oleh istilah “parlemen” itu sendiri. 
Parlemen agama-agama memang telah mendorong kita untuk berjumpa dalam suasana 
saling menghargai dan belajar satu sama lain. Sementara orang Islam tetap 
Islam, orang Kristen tetap Kristen, dan masing-masing tetap berpegang teguh 
pada ajaran agamanya dan berbangga diri menyebut diri mereka muslim atau 
Kristen; mereka dapat berjalan beriringan dan bekerja bahu-membahu sebagai 
“makhluk Tuhan yang satu” dalam suasana yang harmonis. 
Sungguh dalam konteks sekarang kita berkewajiban mengembangkan visi dan 
pandangan baru tentang diri kita masing-masing: tentang agama kita, tentang 
hubungan kita selama ini, satu visi inklusif dan transformatif yang memberikan 
dasar bagi kita untuk hidup bersama dan bekerja sama dalam suasana rukun dan 
damai di masa mendatang, sekalipun kita berada dalam dunia agama yang berbeda. 
Dengan kata lain, diperlukan rekontruksi ulang pemikiran kita dalam kaitannya 
dengan agama-agama lain. 
Dialog dan kerja sama positif juga perlu lebih kita kembangkan dan tingkatkan, 
karena kita saling memerlukan satu sama lain. Kita hidup dalam sebuah abad 
interspritual. Dalam abad seperti ini, tidak mungkin lagi ada agama yang dapat 
menghindar dari pertemuan dan perjumpaan dengan agama-agama lain, baik dalam 
level teologi, ekonomi, sosial, dan politik. Perbedaan tradisi agama dan budaya 
tidak boleh menghalangi kita untuk menjalin hubungan dan saling bekerja sama, 
apalagi interdependensi merupakan ciri kehidupan sekarang dan mendatang. 
Belajar dari pengalaman masa lampau, kita kembangkan hubungan baru antara Islam 
dan Kristen yang didasarkan kesediaan untuk mengakui dan menghargai otentisitas 
masing-masing, serta diarahkan pada upaya menghilangkan kesalahpahaman yang 
selama ini ada, mengembangkan sikap saling menghargai serta meningkatkan kerja 
sama berdasarkan tanggung jawab bersama untuk membangun masyarakat aman, damai, 
dan sejahtera. 
Menghadapi dunia yang sekarang mengalami krisis fundamental, umat beragama 
memiliki tanggung jawab menciptakan tata kehidupan global yang lebih baik. 
Sekurang-kurangnya ada empat macam komitmen yang harus dipegang teguh dan 
dijadikan arah bagi kerja sama antaragama di masa mendatang, yaitu: (1) 
komitmen terhadap budaya non-violence dan penghargaan terhadap kehidupan; (2) 
komitmen terhadap budaya solidaritas dan keadilan ekonomi; (3) komitmen 
terhadap budaya toleran dan hidup saling mempercayai; dan (4) komitmen terhadap 
budaya persamaan hak dan kemitraan antara laki-laki dan perempuan. 
Sejalan dengan hal itu, saya ingin menegaskan bahwa kita harus menelusuri ulang 
sejarah hubungan Islam-Kristen masa lalu dan pengaruhnya terhadap hubungan 
sesama para pemeluk kedua agama tersebut di masa sekarang dalam rangka 
meningkatkan secara sungguh-sungguh dialog dan kerja sama antara kedua agama 
tersebut di masa-masa mendatang. 
Demikianlah khutbah jumat yang singkat ini, mudah-mudahan apa yang saya 
sampaikan ini dapat bermanfaat dan menjadi pelajaran bagi kita semua, Amien ya 
Rabbal ‘Alamin. 


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke