Essay - AGUS CONDRO, YOEDHA, DAN PERJUANGAN DARI DALAM PARTAI
 
Oleh Satrio Arismunandar
 
Kasus Agus Condro Prayitno, anggota DPR-RI dari Fraksi PDI Perjuangan, yang 
mengaku menerima uang suap Rp 500 juta, masih bergulir lamban. Rp 500 juta itu 
diduga adalah uang suap, terkait dengan pemilihan Miranda S. Goeltom menjadi 
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia. Miranda sendiri sejauh ini tetap 
membantah keterlibatannya dengan kasus itu.
 
Pengungkapan Agus Condro yang blak-blakan ternyata tidak serta merta memicu 
reaksi tanggap, baik dari KPK, apalagi dari internal partai. Di dalam PDI-P 
sendiri, sudah ada yang jadi “korban” akibat kasus Agus Condro. Ajaibnya, yang 
jadi korban bukan nama-nama anggota PDI-P, yang oleh Agus Condro disebut telah 
ikut menerima uang. Tetapi, justru salah satu caleg PDI-P, Dhia Prekasha 
Yoedha, yang mengusulkan langkah pembenahan internal partai, dalam upaya 
merespon pengungkapan Agus Condro tersebut.
 
Saya tahu hal ini, karena saya dan Yoedha adalah teman lama. Yoedha adalah 
mantan wartawan Harian Kompas, yang dulu bersama-sama aktif di AJI (Aliansi 
Jurnalis Independen), SBSI (Serikat Buruh Sejahtera Indonesia), dan Forum 
Wacana UI (Forum Mahasiswa Pasca Sarjana UI, yang di dalamnya juga bergabung M. 
Fadjroel Rachman, Effendi Gazali, Arief Mudatsir Mandan, Laode Ida, dan 
lain-lain). Sebagai teman, Yoedha belum lama ini curhat ke saya, tentang 
hal-hal yang menimpanya.
 
Semuanya berawal, ketika Yoedha mengirim SMS ke beberapa rekan PDI-P, berbunyi: 
“Gerakkan segera demo ke Lenteng agung desak DPP bentuk Komite Disiplin periksa 
EmirMoeis. Max Moein. Daniel Budi Setiawan. Agus Condro Prayitno. Dudie Murod. 
dll dan kenakan sanksi PAW jika terbukti langgar Kode Etik Partai. ……dst.”
 
Gara-gara SMS itulah, posisi nomor urut Yoedha sebagai Caleg DPRD DKI Jakarta 
(dari Daerah Pemilihan Jakarta Timur) jadi melorot. Dari nomor urut 2, 
diturunkan ke 4, dan akhirnya dilempar ke nomor urut 8. Tak cukup dengan itu, 
Yoedha juga dimarahi habis oleh salah satu petinggi PDI-P. 
 
Saat saya menulis essay ini, saya kira Yoedha masih terus berjuang. Yakni, 
bagaimana mempertemukan idealisme, loyalitas, dan komitmennya pada ideologi 
partai, yang maunya lurus, dengan realita politik dan kekuasaan di internal 
partai, yang bisa jadi sangat bersifat pragmatis.  
 
Repotnya lagi, dalam “aura pragmatisme” semacam itu, Yoedha justru tidak punya 
cukup “sumberdaya sosial-ekonomi” untuk bermanuver di dalamnya. Meskipun cerdas 
dan kritis, Yoedha tak punya backing massa seperti kyai dengan pesantrennya. 
Juga, tak punya backing modal, seperti pengusaha besar atau konglomerat, yang 
dengan mudah bisa menggelontorkan milyaran rupiah buat partai. 
 
Menjadi caleg, bukan hal baru bagi Yoedha. Alumnus Jurusan Kriminologi FISIP UI 
dan mantan aktivis GMNI ini sudah tiga kali jadi caleg, namun tak pernah 
berhasil lolos jadi anggota DPR. Yaitu, tahun 1992, sebagai caleg DPR-RI dari 
wilayah Irian Jaya (sekarang Papua). Tahun 1999, sebagai caleg dari daerah 
Indragiri Hilir. Dan, tahun 2004, di DKI I, ia tersisih lagi. Ironinya, nomor 
urut Yoedha tergeser ke bawah oleh caleg lain, pindahan dari Golkar, yang 
menang dari segi “sumberdaya ekonomi.”
 
Padahal, bicara soal komitmen perjuangan, Yoedha termasuk yang berjuang melawan 
penindasan rezim Soeharto, sejak PDI Perjuangan belum berdiri, Megawati belum 
jadi ketua partai, dan Golkar saat itu masih menjadi tiang utama pendukung 
rezim Soeharto. 
 
Kisah yang dialami Yoedha ini mungkin bukan sesuatu yang baru, dan juga bukan 
khas PDI Perjuangan. Peristiwa semacam ini sangat mungkin juga terjadi di 
partai-partai lain, ketika idealisme seorang anggota, kader, atau caleg 
berbenturan dengan pragmatisme dan kepentingan segelintir elite partai.
 
Namun, saya pikir, kisah ini cukup layak sebagai “sarana pengingat,” bagi dua 
teman saya lainnya, yang saat ini juga terjun menjadi caleg dengan idealisme 
“melakukan perubahan dari dalam.” Dua rekan saya itu adalah Indra J. Piliang, 
pengamat politik yang jadi caleg Partai Golkar, dan Hamid Basyaib, aktivis yang 
jadi caleg PDI Perjuangan. Semoga keberadaan mereka betul-betul bisa memberi 
warna, ke arah perubahan dan perbaikan, seperti yang dicita-citakan. Selamat 
berjuang, Bung!
 
Jakarta, 24 Agustus 2008
 
 
 
 
 




Satrio Arismunandar 
Executive Producer
News Division, Trans TV, Lantai 3
Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 
Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4023,  Fax: 79184558, 79184627
 
http://satrioarismunandar6.blogspot.com
http://satrioarismunandar.multiply.com  
 
"Perjuangan seorang mukmin sejati tidak akan berhenti, kecuali kedua telapak 
kakinya telah menginjak pintu surga." (Imam Ahmad bin Hanbal)


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke