Empat Pilar Aora TV

Putra Jusuf Kalla ikut ambil bagian.

JAKARTA -- Sederet nama beken berada di balik Aora TV. Selain kakak-adik Rini 
Mariani Soemarno dan Ongky Soemarno, pengelola televisi berbayar baru itu 
digawangi Jeffry Geovanie dan Solihin Kalla, putra Wakil Presiden Jusuf Kalla. 

Aora TV, yang berada di bawah naungan PT Karyamegah Adijaya, akhir-akhir ini 
ramai jadi gunjingan gara-gara berhasil mengambil alih hak siar eksklusif 
tontonan sepak bola Liga Inggris 2008-2009 dari PT Direct Vision, yang selama 
ini menayangkannya di Astro TV. 

Hak siar internasional lain yang bisa dikantonginya adalah Olimpiade Beijing 
2008. Berkat modal ini, Aora TV mengklaim telah berhasil menggaet 2.000 
pelanggan, meski umurnya belum sebulan. 

Rini Soemarno, Menteri Perindustrian dan Perdagangan di kabinet Megawati, 
disebut-sebut motor utama Karyamegah. Bersama kakaknya, Ongky Soemarno, bekas 
Presiden Direktur Astra International itu mengendalikan penuh Karyamegah. 

Jejaknya di Karyamegah berawal dari langkah akuisisi oleh PT Arono 
Internasional. Perusahaan yang didirikan Rini dan Ongky ini membeli 95 persen 
saham Karyamegah pada September 2007. 

Adapun sisa saham 5 persen dimiliki Indonesia HGC Telecommunication. "Ada 
Jeffry Geovani, ada juga Solihin," kata Rini saat ditemui Tempo di kantornya 
pada Kamis lalu. 

Jeffry Geovani adalah Wakil Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Pengurus 
Pusat Muhammadiyah, yang sempat bergabung dengan tim sukses calon presiden 
Partai Golkar untuk Pemilihan Umum 2009. 

Sedangkan Solihin yang dimaksud adalah Solihin Kalla, anak bungsu Wakil 
Presiden Jusuf Kalla, yang disebut-sebut putra mahkota bisnis keluarga Kalla. 
Keduanya mengendalikan Indonesia HGC Telecommunication. Jeffry sebagai direktur 
utama, sedangkan Solihin komisaris utama. 

Rini menceritakan, sebelum Arono mengambil alih 95 persen saham Karyamegah, 
pembicaraan awal dengan pemilik lama dilakukan oleh Indonesia HGC. "Mereka yang 
melakukan komunikasi," katanya. 

Menurut sumber Tempo di Komisi Penyiaran Indonesia, Jeffrey dan Solihin memang 
aktor utama lahirnya Karyamegah sebagai televisi berbayar. Sebab, meski 
didirikan pada November 2006, Karyamegah awalnya tak bermaksud menjadi 
penyelenggara televisi berbayar. "Nama keduanya disebut-sebut ketika Karyamegah 
mengajukan rekomendasi kelayakan," ujarnya. Namun, Solihin tak pernah tercantum 
dalam akta perusahaan. 

Berdasarkan akta notaris pendirian perusahaan pada 29 November 2006, 
Karyamegah, yang bermodal dasar Rp 1 miliar, dimaksudkan menjadi perusahaan 
perdagangan, pengadaan, waralaba, pengembang pembangunan, garmen, pelayanan 
hukum dan pajak, serta jasa kebersihan. 

Nama Jeffry baru muncul dalam akta notaris Karyamegah tertanggal 21 Februari 
2007, soal keputusan pemegang saham sehari sebelumnya yang mengangkatnya 
sebagai direktur utama. Jeffry belakangan lengser berbarengan dengan berubahnya 
haluan perusahaan menjadi penyelenggara siaran televisi berlangganan melalui 
satelit per 13 Maret 2007. 

Jeffry mengakui Indonesia HGC kini menguasai 5 persen saham Karyamegah. Namun, 
dia membantah anggapan bahwa perusahaannya yang pertama kali berkomunikasi 
dengan Karyamegah. Ia pun menyangkal jika disebut pernah menjabat posisi puncak 
di Karyamegah. "Nama panjangnya saja saya tidak tahu," ujarnya. 

Menurut dia, investasi Indonesia HGC di Karyamegah dilakukan atas ajakan Rini. 
Bahkan awalnya Rini menawarkan 20 persen kepemilikan saham, tapi tak diambil 
dengan pertimbangan diversifikasi investasi. "Kami masuk satu bulan setelah 
Arono mengambil alih Karyamegah," ujarnya. AGOENG WIJAYA 

Rini Mariani Soemarno: 
Hak Siar Liga Inggris US$ 20 Juta 

Siasat bisnis Aora TV "merebut" hak siar Liga Inggris dari Astro TV berbuah 
manis. Sebagai pemain baru di bisnis televisi berbayar, namanya langsung 
mencorong di publik Indonesia. 

Semua ini tak lepas dari sentuhan mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan 
Rini Mariani Soemarno bersama kakaknya, Ongky Soemarno. Keduanya, lewat PT 
Arono Internasional, akhir tahun lalu membeli PT Karyamegah Adijaya, pengelola 
Aora TV. 

Kepada Agoeng Wijaya, Grace S. Gandhi, Sapto Pradityo, dan Iqbal Muhtarom dari 
Tempo, Rini--yang kini menjabat Komisaris Utama Karyamegah--saat ditemui di 
kantor PT Inti Kanzen Motor, juga miliknya, di kawasan bisnis Mega Kuningan, 
Jakarta Selatan, Kamis pekan lalu, memaparkan cerita di balik kemunculan Aora 
TV. Sesekali Chief Operational Officer Karyamegah Gaby Motuloh ikut menimpali. 
Berikut ini petikannya. 

Bagaimana ceritanya sampai berjodoh dengan Karyamegah? 


Berjodoh... (Rini tertawa). Terus terang kami waktu itu melihat proses izin, 
bicara dengan beberapa pihak, dan akhirnya bertemu dengan PT Karyamegah yang 
sudah mendapatkan izin prinsip dari Menteri Komunikasi dan Komisi Penyiaran 
Indonesia. Selain Karyamegah, kalau tidak salah pada September (2007), ada enam 
sampai tujuh perusahaan yang mendapat izin prinsip. Pembicaraan kami dengan 
Karyamegah, kami mau melakukan investasi. 
Berapa nilai transaksinya? 


Itu... (Rini tertawa lagi). Saya tidak bisa bilang. Tidak fair terhadap 
orangnya (pemegang saham lama). 
Komposisi pemegang saham saat ini? 


PT Arono Internasional memiliki 95 persen saham Karyamegah. Arono itu punya 
saya dan kakak saya, dengan komposisi 75 banding 25 persen. 
Sisa 5 persen milik siapa? 


Gaby: Indonesia HGC Telecommunication. 

Rini: Jeffry Geovani dan ada juga saham Solihin Kalla (putra bungsu Jusuf 
Kalla). Waktu itu pemilik lama juga sudah berdiskusi dengan HDC, dengan Jeffry. 
Terus kami ngobrol. 
Arono didirikan untuk investasi ini? 


Arono sebenarnya sudah ada sebelumnya karena saya dan kakak saya berpikir untuk 
mulai mengkonsolidasikan beberapa investasi kami. Arono itu rencananya menjadi 
investment holding company, bukan operational company. Ya, sudah tambah umur, 
sama-sama mulai menyadari perlu menyiapkan anak-anak kami agar tetap bisa 
bersama-sama. Itu dasarnya. 
Apakah pemilik lama masih memiliki saham di Karyamegah? 


Tidak.
Apakah perubahan kepemilikan saham tidak bermasalah? 


Tidak. Izin itu diberikan ke Karyamegah, jadi melekat di perseroan. Sama dengan 
sertifikat bangunan ini. Kalau Inti Kanzen dijual, sertifikat gedung ini juga 
ikut kebawa. 
Bukankah Undang-Undang Penyiaran melarang adanya pemindahtanganan? 


Izinnya yang tidak boleh dipindahtangankan. Perusahaannya kan tetap sama, PT 
Karyamegah.
Soal hak siar Liga Inggris, bagaimana ceritanya? 


Pada 1 Agustus lalu, kakak saya diberi tahu temannya untuk melihat website ESS 
(ESPN Star Sport), ada penawaran terbuka untuk Liga Inggris. Mahal memang. 
Tapi, kakak saya bilang, kalau orang mau tahu Aora, inilah saatnya. Untuk 
dikenal itu hanya ada dua cara, yaitu lewat very good news channel atau very 
good sport. 
Tanggapan ESS? 


Mereka memberi tahu kakak saya pada Jumat, 16 Agustus, dinihari bahwa potensi 
kami mendapatkan hak siar itu besar. Kami paling suka dengan Anda, kata mereka. 
Akhirnya, kami menandatangani kontrak pada 16 Agustus sore. Sebagai pemain 
baru, kami merasa ini golden opportunity. 
Berapa nilai hak siar ini dan dari mana dananya? 


Mendekati US$ 20 juta (sekitar Rp 185 miliar), meski awalnya ESS menawarkan US$ 
25 juta. Pendanaan dari kami sendiri.
Tidak takut dituduh monopoli seperti pernah dialami Astro TV? 


Saya rasa itu betul-betul tender terbuka, Siapa pun boleh masuk. Jadi 
monopolinya di mana. 
Perjanjian juga dibuat dengan All Asia Multimedia Network (Astro Malaysia)? 


Pada dasarnya ESS yang maju. tapi rupanya secara kontrak, All Asia punya hak 
Liga Inggris di beberapa negara. Mereka harus ikut tanda tangan karena, kalau 
tidak salah, mereka masih (punya hak) sampai tiga tahun. 
Benarkah Astro yang menggandeng Aora? 


Berita di luar, boleh-boleh saja. Kan jadi makin terkenal. Promosi gratis, 
ha-ha-ha.... 
Astro punya saham di Aora? 


Sama sekali tidak ada. Mungkin dihubung-hubungkan karena kami menggunakan 
satelit Measat-3 yang dimiliki oleh perusahaan Usaha Tegas Bersama milik Ananda 
Krishnan. Dia juga pemilik Astro. 
Apakah ada rencana kerja sama content dengan Astro Malaysia? 


Oh, belum. Sejak awal kami sendiri.  
http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2008/08/25/Ekonomi_dan_Bisnis/krn.20080825.140478.id.html




Satrio Arismunandar 
Executive ProducerNews Division, Trans TV, Lantai 3
Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 
Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4023,  Fax: 79184558, 
79184627 http://satrioarismunandar6.blogspot.com
http://satrioarismunandar.multiply.com   


      

Kirim email ke