SUARA PEMBARUAN DAILY ----------------------------------------------------------------------
Benny Mamoto Raih Doktor Penanganan Terorisme dengan Pendekatan Budaya [JAKARTA] Penanganan kasus-kasus teror di Indonesia selama ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan hukum. Sebaliknya, anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang terlibat tindak pidana terorisme mendasari tindakannya dengan keyakinan agama. "Kelompok tersebut juga mempersepsikan tindakannya sebagai sebuah perjuangan suci dan bukan tindakan kriminal atau terorisme," kata Sekretaris NCB Interpol Markas Besar Polri Benny Jozua Mamoto saat mempertahankan disertasinya dalam sidang promosi doktor bidang Kajian Ilmu Kepolisian, Sabtu (23/8) pagi, di Kampus Universitas Indonesia, Depok. Menurut perwira berpangkat komisaris besar itu, tindakan keras aparat keamanan, sanksi hukum yang berat sampai risiko kematian tidak menyurutkan niat para teroris. Dia mengungkapkan, tindakan keras aparat dan sanksi hukuman yang berat justru dapat dipersepsikan sebagai tindakan represif pemerintah, sehingga hal itu dapat dijadikan alasan pembenar untuk melakukan pembalasan yang pada gilirannya akan menimbulkan lingkaran terorisme. Dalam disertasinya bertajuk "Penanganan Polri Ter- hadap Organ Teror Dalam Al- Jamaah Al-Islamiyah", Benny memaparkan, kasus terorisme merupakan kejahatan luar biasa yang memerlukan penanganan secara luar biasa pula. Untuk mengurangi berkembangnya lingkaran terorisme, Satgas Bom Polri menggunakan pendekatan yang bersifat khusus, yaitu pendekatan budaya. Karena, motivasi tindakan para pelaku berlatar belakang budaya, dalam hal ini keyakinan keagamaan. Kemampuan pengendalian budaya Satgas Bom Polri, yang sudah dapat dipastikan menimbulkan resistensi sangat tinggi. Resistensi akan semakin tinggi apabila pihak yang kuat, dalam hal ini Satgas Bom Polri, memaksakan kehendaknya dengan menggunakan berbagai cara kekerasan. "Sebaliknya, resistensi akan dapat dikurangi apabila anggota Satgas Bom Polri mau mempelajari dan memahami budaya yang berlaku di organisasi Al-Jamaah Al-Islamiyyah," katanya. Interaksi dan komunikasi tersebut, lanjutnya, dapat dilakukan karena para pelaku tindak pidana terorisme adalah orang-orang yang sehat jiwanya. Benny mengutip pendapat guru besar kriminologi Tb Ronny Nitibaskara, bahwa mereka umumnya mampu berlaku santun, penuh perhitungan, dan ketat menjaga keyakinan agamanya. Kegiatan yang dilakukan oleh Satgas Bom Polri guna penyidikan menggunakan tindakan diskresi kepolisian karena hal tersebut tidak lazim dilakukan pada penanganan kasus pidana biasa. Program ini tidak dipublikasikan secara terbuka sehingga sering terjadi salah pengertian dari masyarakat. Beberapa bentuk kegiatan untuk membuka wawasan berpikir, membuka ketertutupan lingkungan, dan melihat realitas kehidupan. [G-5] --------------------------------------------------------------- Last modified: 23/8/08 http://www.suarapembaruan.com/News/2008/08/23/Utama/ut04.htm ---~----~------~----~------~--~---

