Ketimbang pamer kegoblogan kayak kamu, Tung. Udah minum obat, belum? Tambah parah tambah membahayakan orang lho..he..hee
--- In [email protected], si pitung <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > curhat koq dimilist...hehe > > > > ----- Original Message ---- > From: masdimas62 <[EMAIL PROTECTED]> > To: [email protected] > Sent: Monday, August 25, 2008 5:08:08 PM > Subject: [ppiindia] Re: Surga Bukan Monopoli Muslim (Asghar Ali Engineer) > > > Salam, > > Pertama-tama tentang kejelasan identitas, catatan itu pertama-tama > buat sampeyan dan email sampeyan sendiri. Karena nama email dan nama > identitas sampeyan gak jelas buat saya. > Kalau sampeyan datang ke kantor saya, dan ketemu satpam, lalu > menyebut nama saya, sesuai email saya, maka satpam mana pun -- > bahkan tukang gorengan pun -- akan menunjuk meja kerja saya. > Panggilan Mas Dimas adalah satu-satunya panggilan untuk saya di > kantor dan di gedung 5 lantai, tempat saya kerja. > Identitas saya jelas las... > > Kalau milis ini sudah dianggap melenceng dari misi awal, karena jadi > gak beradab, dan bakal dikaji ulang, silakan. > Silakan bikin aturan baru atau menghidupkan aturan lama. > Mau ketat silakan, mau longgar silakan. Mau ruwet silakan, > mau sederhana juga silakan. Mau educated dan intelectual silakan, > mau merakyat dan membiarkan gaya jalanan seperti sekarang silakan. > > Saya sendiri akan tetap mencurahkan isi dan curahan hati saya > di PPIIndia ini, sebagaimana saya menulis selama ini. > Kalau moderator menganggap tidak sesuai dengan missinya, > 'delete' aja. Gitu aja kok repot. > > Kalau di milis pakai atur-aturan ribet, ya, saya nyerah. > Jadi pengintip aja. Atau pindah milis lain. > Saya betul-betul ogah repot. > > Wassalam, > > Dimas. > > --- In [EMAIL PROTECTED] s.com, "v2xtopz" <v2xtopz@ > wrote: > > > > :) > > > > Salam damai `alaikum jam'ian. > > Semoga kalian meraih surga yang tepat menurut keimanan kalian > > masing-masing. > > > > Penasaran juga gue baca semua 50-an email debat kusir di milist ini > > seputar satu tema: Surga Bukan Monopoli Muslim (Asghar Ali > Engineer). > > Tapi uniknya, beberapa kawan yang "berantem" n ngotot ma visi-visi > > mereka di bejibun email itu, bagi gue sangat asing. Milist ini > memang > > milist terbuka, sayangnya gak bertradisi menerangkan identitas diri > > para pemosting. Jadinya, setelah lelah baca 50-an email tersebut, > gue > > kesel karena mendapati semua orang yang berantem gak ternyatakan > jati > > dirinya. Ironisnya, setelah mereka-reka, gue rasa para panelisnya > > punya ideologi, bahkan agama yang berbeda. > > Wacana yang digulirkan Tempo, lalu diposting MGR, lantas menjadi > > sebuah debat terbuka interfaith ini, berrakhir pada caci maki dan > > bodoh membodohi. Menurut gue ini sangat "gak akademis" ato "gak > > educated", bahkan "gak layak" untuk diposting di milist "PPI India" > > yang "akademis dan educated". > > Gue pipik. Alumni Aligarh Muslim University (AMU). Kawan-kawan lama > > PPI mungkin masih inget, yang baru maklum gak pernah denger nama itu > > karena gak beken:). Alhamdulillah gue diberi kesempatan ama Tuhan > gue > > tuk nimba ilmu di universitas "sekuler" AMU. Di fakultas Theology > > lage. Berbagai nuansa keagamaan, dari radikalitas, fundamentalitas, > > sampe liberalitas, sangat bersemai di sana. Sentuhan dengan banyak > > budaya, bahkan agama juga terjadi. Hasilnya, gue pun > menjadi "moderat" > > (bukan liberal, maupun fundamental, atopun istilah lain yang > > menggambarkan pengkubuan pemikiran ato ideologi). > > Saat kuliah dulu, alhamdulillah gue sempet ketemu n diskusi ringan > ma > > Asghar Ali Engineer ketika beliau kunjung ke AMU. Saat itu cuma gue > > orang asingnya, apalagi orang Indonesianya yang memang males-males > ma > > kajian teologis keilmiahan . Peserta lainnya adalah kawan- > kawan dari > > aneka budaya, agama n ideologi keagamaannya. Pemikiran Ashgar memang > > liberal dan pluralis, tapi sangat mampu diserap oleh semua kalangan > > sebagai sebuah pendapat "Ashgar", bukan pendapat aliran. Karena, > dalam > > tradisi ilmu kalam Islam, pemikiran-pemikiran Ashgar memang cuma > > pengulangan dari ide-ide kaum rasionalis masa lalu. Tapi memang > harus > > diakui, Ashgar menjadi tokoh rasionalis besar di tengah > konservatifme > > ide-ide keislaman di India. > > Diskusi kalian, yang dimulai dari ide Ashgar, menurut gue "gak > > beradab". Karena kalian berangkat dari latar belakang keyakinan, > > agama, pendidikan dan kehidupan berbeda. Ada yang sangat islamis, > yang > > lain sekuler, liberal, dan ada juga yang non-muslim. Yang menjadi > > masalah, kayaknya kalian seperti gak "educated" untuk mengemas > dialog > > dan diskusi kalian secara dialektis. Gak ada "manthiq" (cara > > penyampaian) yang baligh (tepat penyampaiannya) . Dominannya > > penyampaian ide menjadi gak dewasa, karena mempertahan idealitas > tanpa > > memperdulikan lawan bicara yang tidak sejajar. > > Dalam ilmu komunikasi, dialog seperti ini sangat berbahaya, karena > > tidak akan ada solusi, pencerahan, apalagi "ilmu". Untuk > berkomunikasi > > dengan baik dan menghasilkan solusi, pencerahan, apalagi ilmu, salah > > satu sayaratnya harus dilakukan dengan "kepala dingin", dan > dilakukan > > oleh "orang-orang selevel". Dalam arti spesifik: "seideologi, ato > seiman". > > Bicara soal ide-ide keislaman, biarkan kawan-kawan muslim yang > menjadi > > leadernya. Kawan non Muslim tolong jangan menggagas sesuatu yang > > "asing" bagi keimanan kawan-kawan muslim. Ketika bincang tema-tema > > liberalitas, silahkan kawan-kawan yang memang punya potensi akademis > > dan keilmiahan untuk mengkajinya. Dengan begitu semua bisa cair, dan > > menghasilkan pencerahan pemikiran. Bukan asal gebrak, gak > > bertanggungjawab, lalu caci maki, bahkan (na'udzubillah) pencacian > > guru, ulama, dan Tuhan. > > Harus diingat kembali, milist ini adalah milist komunitas educated. > > Moderator milist harus mampu memanage laju, bobot, dan tema diskusi > > anggotanya. Bolehlah milist ini begitu terbuka untuk siapa saja > > menjadi anggota. Tapi tolong difilter, dan diperjelas identitas > > masing-masing anggota. Agar gak ada sembarang orang yang cuma mau > cari > > "rame", ribut ato asak-usuk mengganggu "kekhusu'an" kawan-kawan lain > > yang tengah mencari ilmu dan pengembangan wawasan. > > Sebagai "orang asli PPI India", gue sangat gak rela melihat milist > ini > > cuma jadi bak sampah kawan-kawan yang main posting email ato info-2 > > sembarang n gak mutu. Tolong di-reset lage pola atur milist ini > yach. > > Karena milist ini adalah wajah kita: rekan-rekan PPI India, > masyarakat > > Indonesia di India, dan alumni-alumninya. > > Tolong didata ulang semua anggotanya. Perjelas jati diri, latar > > belakang pribadi dan motif mereka. Jangan jadikan milist ini sekedar > > banyak anggota, tapi "sarang orang-orang gelap". > > > > Terimakasih. Sekali lage: Semoga kalian meraih surga yang tepat > > menurut keimanan kalian masing-masing. > > > > "Orang bijak adalah yang mampu menempatkan pembicaraan pada > tempatnya." > > > > > > Pipix > > Jakarta > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] >

