waduuh, hebat bgt aktingnye mgr, pura2 jd korban haha
mirip pencopet di bis, pencopetnye malah teriak 'copet!', alhasil grombolan 
pencopet langsung menghantam tuh korban aslinye, waduh kasian amit tuch korban 
dah dicopet eh malah diteriakin + bogem mentah 
aneh2 aje klakuan grombolan JIL ini, carii perhatiaaan ajee


Yang Disembunyikan Oleh Kaum 'Sepilis'


assalaamu'alaikum wr. wb.

Mereka menyebut dirinya sekularis
(karena agama tidak diperbolehkannya ikut campur dalam setiap aspek
kehidupannya), liberalis (karena mengaku menganut paham 'kebebasan'),
dan pluralis (karena mempromosikan paham 'persamaan' dan 'toleransi'
kepada khalayak ramai). Bagaimana pun, rasanya wajib bagi saya untuk
menyampaikan sedikit kebenaran mengenai klaim-klaim yang mereka buat
atas diri mereka sendiri. After all, we are who we are, not just who we say we 
are.

Mengenali
seseorang dari kata-katanya sendiri adalah cara perkenalan yang sangat
tidak objektif. Seorang pencuri hanya mencuri ketika ia merasa bahwa
hal yang dilakukannya itu benar. Ada sejuta pembenaran dalam benaknya
sebelum akhirnya ia berkeputusan bahwa mencuri itu halal baginya.
Barangkali dalam benaknya berkecamuk pemikiran-pemikiran sebagai
berikut :

        * "Saya sudah tidak makan dua hari, apa salahnya mencuri sedikit?"
        * "Orang itu uangnya banyak sekali.  Apa salahnya jika saya ambil 
sepuluh ribu dari dompetnya?"
        * "Anak
saya sudah merengek-rengek minta dibelikan baju karena baju terakhirnya
yang saya belikan tahun lalu sudah teramat kekecilan. Mengapa tidak
saya ambil saja baju di jemuran itu?"
        * "Sebagai anggota DPR saya
sudah berjuang siang-malam untuk rakyat. Apa salahnya kalau
'kecipratan' sedikit dana pembangunan? Saya 'kan faktor penting dalam
pembangunan!"
        * "Tidak ada yang memahami saya!  Saya ambil saja semuanya, biar tahu 
rasa!!!"Tidak
ada manusia yang dengan sengaja melakukan sesuatu yang dianggapnya
salah. Seorang pemuda menyuntikkan narkoba ke pembuluh darahnya karena
ia telah menemukan pembenaran atas tindakannya tersebut. Sepasang
muda-mudi memutuskan untuk melakukan perbuatan nista karena mengira ia
akan mampu menebusnya dengan segenap perbuatan baik sebelum ajal
menjemput. Selalu ada saja pembenaran dalam akal sebagian besar
manusia. Sulit sekali mengharapkan adanya manusia yang mampu me-muhasabah 
dirinya sendiri secara objektif.

Kaum
'sepilis' (sekularis-pluralis-liberalis) selalu merasa dirinya lebih
intelek dan mengumbar gambaran yang demikian pula kepada semua orang.
Mereka benar-benar percaya bahwa dirinyalah yang paling pintar,
sementara semua yang tidak sepakat dengannya adalah bodoh dan jumud.  Istilah 
'beku' dan 'jumud'
juga digunakan ketika Ulil Abshar Abdalla pertama kali menggebrak
dengan artikelnya di surat kabar Kompas, beberapa tahun yang lalu.
Kedua istilah ini dipergunakannya untuk menggambarkan pola pikir
orang-orang yang dianggapnya sebagai 'musuh' (silakan cek di situs JIL,
mereka mengklaim bahwa kelahiran paham liberal adalah untuk memberikan
perlawanan terhadap kaum 'fundamentalis'). Tapi bagaimana kalau ada
yang menyebut pemikiran Ulil cs. sebagai 'beku' dan 'jumud'?
Atau bahkan 'kolot' dan 'ahistoris'? Padahal kenyataannya tidak ada
yang baru yang disampaikan oleh JIL. Semuanya hanyalah pengulangan dari
pemikiran para orientalis.

Tentu saja, anggota JIL tidak pernah menyebut dirinya sendiri sebagai 'jumud'.

Yang
berbahaya adalah bagaimana mereka membuat dirinya sendiri nampak
intelek dan pintar sendiri di hadapan semua penentangnya. Dan untuk
melakukan hal ini, segala cara mereka lakukan, termasuk menutup-nutupi
fakta, bahkan fitnah!

Belum lepas dari ingatan saya bagaimana
Guntur Romli, salah seorang kader JIL, menulis salah satu artikelnya di
majalah Tempo. Di sana ia bercerita dengan 'gaya Israel' (yaitu
memperlihatkan diri sebagai korban, padahal sejatinya adalah pelaku
kejahatan itu sendiri) tentang Gus Dur yang 'difitnah' oleh
orang-orang. Saya telah menyajikan bukti-bukti kuat mengenai kebohongan
tersebut, dan insya Allah tidak ada keraguan lagi perihal siapa yang telah 
memfitnah siapa. Dalam
artikel tersebut, Guntur Romli secara implisit menyebut para
'pemfitnah' Gus Dur sebagai orang-orang fasik.  Sekarang, setelah semua bukti 
telah disajikan,
maka tuduhan itu pun berbalik pada dirinya. Sejarah telah
mengkonfirmasi bahwa Guntur Romli adalah termasuk dalam barisan
orang-orang fasik, kecuali jika ia bertaubat.

Ini
adalah sebuah metode yang nampak jelas, bahkan sangat jelas. Namun yang
berbahaya justru adalah metode-metode yang tersembunyi. Seekor Puma
buas di padang sabana akan terlihat oleh calon mangsanya. Sebaliknya,
jika ia mengendap-endap di kegelapan hutan hujan tropis, maka sulit
sekali mendeteksi keberadaannya.

Kaum 'sepilis' juga menggunakan
metode-metode yang amat halus untuk membuat semua orang mengira dirinya
pintar. Situs JIL, walaupun mengusung nilai-nilai 'liberalisme', pada
kenyataannya penuh dengan sensor dan ketertutupan. Semua komentar yang
diberikan akan dicek terlebih dahulu oleh pengelola situs tersebut dan
hanya akan dimuat jika telah melalui proses 'sensor'. Metode ini tidak
mengapa digunakan jika memang untuk menyaring komentar-komentar kasar
dan jorok, misalnya. Namun kenyataannya, kritik-kritik yang saya
sampaikan (dan seingat saya tidak pernah bermuatan kata-kata kasar dan
jorok) tidak pernah muncul di sana. Selalu kandas di 'tempat sampah'
sang pengelola situs. Seorang teman saya juga rajin mengirimkan
tulisan-tulisan saya sebagai tanggapan atas artikel-artikel di sana,
tapi tidak pernah ada yang tembus.

Masih ingat kasus Gus Dur?
Ini juga merupakan bukti pengaburan fakta. Segera setelah komentar
"Al-Qur'an adalah Kitab Suci paling porno" diperdebatkan secara luas,
maka ucapan itu pun menghilang dari transkrip wawancaranya. Lebih
parahnya lagi, kemudian muncul isu bahwa Gus Dur difitnah, dan
muncullah tokoh-tokoh provokator yang memobilisasi umat yang tidak
pernah membuka situs JIL untuk mengangkat senjata membela Gus Dur.
Pengecut, hipokrit, dan provokator. Kurang apa lagi?

Ketika
Ahmad Syafii Maarif (mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah yang saya anggap
sebagai oknum paling bertanggung jawab karena telah membiarkan
tumbuhnya pemikiran 'sepilis' di tubuh Muhammadiyah) habis-habisan
dikritik orang akibat kata-katanya yang mendompleng ucapan Hamka, ia
pun membalas dengan sebuah artikel pembelaan.  Beginilah cara ia bercerita 
tentang para pengkritiknya :

Sebagai
intermezo, baik juga saya rekamkan di sini tanggapan seorang dari
sebuah pesantren dalam kalimat berikut: "Pak Syafii pindah ke nasrani
saja, kan enak ibadahnya cuma 1x seminggu. Semua agama kan benar semua
masuk surga. Resonansi bapak tidak (ada) gunanya, tapi melemahkan
saudara-saudara kita yang gigih melawan kristenisasi. Untuk apa Tuhan
menurunkan Islam kalau dengan agama lama sudah masuk surga. Bagaimana
mungkin syirik/trinitas masuk surga? Agama tersebut benar tapi pada
zamannya... jangan sampai kita kufur dalam berpikir." (sms jam 20.49
tanggal 9 Desember 2006, ejaan disesuaikan).

Halus, namun
jelas tujuannya. Syafii Maarif memberikan sebuah contoh kritik yang
amat buruk terhadap dirinya, namun menyembunyikan sekian banyak kritik
cerdas yang dialamatkan oleh orang-orang terpelajar lainnya. Ia tidak
menanggapi kritik-kritik akademis untuknya, melainkan hanya mau
mengomentari ocehan-ocehan bodoh yang bisa berasal dari mana saja. Dari
sekian banyak kritik yang diterimanya, mengapa hanya yang bodoh-bodoh
saja yang mau dikutipnya?

Jika Anda meneliti situs JIL, fenomena
yang sama akan terlihat juga. Tanggapan negatif yang ditampilkannya
hanyalah tanggapan-tanggapan yang singkat, biasanya tidak komprehensif,
dan yang tidak cerdas juga biasanya akan muncul di situs tersebut. Ini
untuk menampilkan stigma bahwa semua penentang JIL itu bodoh dan 'jumud', 
sedangkan mereka sendiri luar biasa inteleknya.

Dengan
caranya sendiri, surat kabar Kompas juga melakukan hal yang kurang
lebih sama. Ketika saya membaca sebuah artikel tentang minimnya buku
pemikiran Islam, maka foto yang ditampilkannya hanya memuat gambar
buku-buku pemikiran kaum liberal saja. Walaupun Adian Husaini sangat
produktif menulis, namun buku-bukunya tidak dianggap sebagai bagian
dari hasil 'pemikiran Islam'. Begitulah kesan yang ditampilkan oleh
surat kabar Kompas yang sudah sangat jelas keberpihakannya.

Maka, telitilah!

wassalaamu'alaikum wr. wb.



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke