Maraknya Geng 'Rusak' Pelajar: Serangan Budaya
Barat
Oleh : Redaksi 21 Jul 2008 - 4:30 am
Generasi muda saat ini benar-benar dalam ancaman. Ini dapat terlihat
dari maraknya kerusakan moral yang dilakukan oleh anak muda termasuk para
pelajar. Kerapkali para kapitalis menggiring pada hancurnya akidah dan perliku
generasi muda kita melalui berbagai ajang. Tidak ketinggalan anak muda itu
berkerumun dalam ganster-gangster yang merusak, mulai dari 'geng pelajar',
cheers, hingga geng Nero.
Seperti di Yogyakarta, menurut Kapoltabes
Yogyakarta Kombes Pol Drs Agus Sukamnso Msi, menyatakan bahwa dari hasil
penyelidikan memang ditemukan ada `gang pelajar` di Kota Yogyakarta yang
ditengarai sering melakukan kegiatan yang menganggu masyarakat seperti aksi
`vandalisme` dan corat-coret fasilitas umum.
"Kami akan perketat
pengawasan dan pembinaan terhadap `gang pelajar` di Kota Yogyakarta karena gang
seperti ini dapat mengarah kepada tindakan anarki," katanya.
Pihak
Poltabes Yogyakarta sendiri akan memperketat pengawasan terhadap `gang pelajar`
di Kota Yogyakarta dan melakukan pembinaan untuk mengantisipasi merebaknya
kasus
kenakalan pelajar.
"Kami akan terus melakukan pemantuan bersama dengan
Dinas Ketertiban termasuk razia di tempat permainan atau pada jam-jam sekolah
maupun usai pulang sekolah," lanjutnya lagi.
Bukan Hanya Masalah
Narkoba
Ya,
Kehancuran generasi muda bukan hanya pada persoalan penyalahgunaan narkoba atau
tawuran. Namun lebih dari itu maraknya gaya hidup 'rusak' yang mencengkram
generasi kita yang berbalut kapitalisme. Mulai dari konser-konser musik dan
ajang kompetisi yang disponsori oleh perusahan-perusahaan untuk meraup untung.
Kerapkali kebrutalan, minum-minuman keras, kehidupan campur baur, eksplitasi
wanita, menjajakan aurat bak hewan hingga perilaku seks bebas kerap kali muncul
dari sini.
Bahayanya lagi dari semua itu adalah berawal dari
penyelewengan akidah yang berujung pada perilaku generasi muda kita menyimpang
dari ajaran yang berasal dari Tuhan, Pencipta manusia itu. Termasuk di dalamnya
persoalan pergaulan bebas yang kini marak di kalangan anak muda atau juga
kehidupan campur baur dan ekspolitasi para pemudi Muslim.
Mengapa
masalah penyalahgunaan narkoba dipersoalkan sementara penyalahgunaan pemenuhan
naluri seksul generasi kita dianggap biasa?
Serangan Barat
Tak dapat dipungkiri lagi, generasi muda terutama
pemuda muslim saat ini tengah diserang secara brutal oleh para agen-agen Barat
dengan gaya, pemikiran dan tingkah laku ala mereka. Barat tahu persis, serangan
berupa budaya (ghozwul tsaqafi) ini harus terus digencarkan untuk menjauhkan
generasi muslim dari Islam itu sendiri.
Lihat saja hancurnya sebagian
generasi muda kita, tampak di jalan-jalan maupun di mal-mal mereka sudah tak
mengindahkan lagi Islam. Para gadis Muslimah dengan tanpa merasa berdosa
membuka
aurat dengan pakaian yang seadanya. Tak jauh beda, gaya mereka seperti orang
Barat yang jelas-jelas bukan Islam. Sementara laki-laki dan perempuan bukan
suami istri berdua-duaan tanpa mahram, tak merasa bahwa perbuatan itu merupakan
perbuatan hina dan nista.
Sementara, acara-acara televisi tiap hari
menggiring anak muda kita dengan gaya hedonis, permisiv, dan sekularis.
Hubungan
laki-laki dan perempuan di luar nikah terus menerus dikampanyekan melalui
acara-acara 'reality show' remaja, hingga sinetron.
Berbagai ajang
kompetisi 'rusak' pun digelar bagi kalangan anak muda demi kepentingan para
kapitalis dan sekularis. Mulai dari pencarian idola 'palsu', kompetisi
kecantikan, hingga ajang-ajang musik hanya mengarahkan generasi muda kita pada
jurang kehinaan.
Di sekolah, yang diharapkan mampu mendidik generasi muda
ternyata tak bisa apa-apa. Bahkan seringkali ajang-ajang kerusakan itu bermula
dari sekolah. Bagaimana tidak, jiwa sekularisme telah ditanamkan melalui jalur
pendidikan. Dengan pelajaran agama yang dua jam saja, mana mungkin membentuk
kepribadian generasi kita yang Islami. Ditambah lagi, mereka secara brutal
diserang dengan gaya-gaya Barat dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Demikian pula kegiatan-kegiatan berbalut kreativitas dan seni seperti
band, cheerleader, hingga dance legal di sekolahan. Apalagi ketika para
kapitalis mendorongnya dengan berbagai ajang kompetisi dari kegiatan tersebut.
Sebagian pihak sekolah merasa bangga, ketika sekolah mampu mengirimkan
perwakilan cheerleader atau dance dalam sebuah ajang kompetisi. Apa sebenarnya
yang dibanggakan dari aktivitas penuh maksiyat itu? Apakah kegiatan cheerleader
dan dance itu tidak menimbulkan kemaksiyatan ketika para gadis Muslimah menjadi
tontotan dengan mengumbar aurat? Lalu mengapa cheerleader dan dance menjadi
salah satu kegiatan ekstrakulikuler di sekolah?
Islam Bukan
Sekularisme
Siapakah yang bertanggung jawab atas kerusakan moral generasi
muda kita saat ini? Tentu saja semua pihak, mulai dari setiap individu,
keluarga, pihak sekolah, aparat hingga institusi negara. Bila sekularisme terus
dibiarkan dalam kehidupan kita dan semua komponen tadi ikut serta
menjamurkannya, maka demikianlah hancurnya generasi muda kita. Tinggal menunggu
massa saja suatu saat, Allah Swt. Rabb Yang Mahakuasa, Pencipta Alam Raya ini
menurunkan azab-Nya, naudzubillahi min dzalik.
Jika kita takut kepada
Dia, Pencipta Alam Semesta ini maka mau tidak mau kaum Muslim harus berdiri
untuk kembali kepada Islam, menyelamatkan generasi mereka dengan Islam bukan
dengan sekularisme yang rusak itu. Semua pihak, mulai dari pembinaan ketakwaan
individu hingga kontrol sosial masyarakat dengan halal dan haram menjadi tolok
ukur. Tak lupa juga, peranan institusi Negara sudah saatnya kembali kepada
tatanan syariah bukan pada sekularisme. Kapan? Tentu saja mulai saat ini juga.
[z/m/ant/syabab.com]
[Non-text portions of this message have been removed]