Salut buat Obama di Amerika...
Siapa Obama di Indonesia maupun Papua...
Obama adalah penganut Islam di Amerika, Berhadapan dengan Mckain yang garis
keras Kristen Protestan. Amerika pemerintahannya berjalan dengan gaya
kekristenan dimana Negara dan Agama berdiri snediri dan itulah filosofi
kekristenan. Beda dengan Islam, bahwa Negara adalah alat untuk mencapai tujuan
keagamaan.
Kalangan dunia memandang Obama memakai jubah Marthen Luther King, sehingga
gagasannya tak beda dengan ide-ide persamaan hak.
Kampanye Obama bila di simak, semua panflet bertuliskan Perubahan ( CHANGE ).
Apa yang mau dirubah Obama...
Obama justeru jadi Tumbal bagi kejayaan Amerika Serikat semata dari kecaman
dunia akhir-akhir ini. Mudah-mudahan ide PERUBAHAN yang diusung OBAMA
membawanya sukses jadi Presiden dan Amerika dirubah, negara-negara berkembang
seperti Indonesia pun tak luput.
************************
Email:
--------
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
Website:
--------
www.kabarpapua.com
***
--- Pada Ming, 31/8/08, Suara Papua <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
Dari: Suara Papua <[EMAIL PROTECTED]>
Topik: KOMUNITAS PAPUA Pidato-pidato Pembangkit Harapan
Kepada: [EMAIL PROTECTED]
Tanggal: Minggu, 31 Agustus, 2008, 3:37 AM
Sumber: Kompas, 29 Agustus 2008
Konvensi Partai Demokrat
Pidato-pidato Pembangkit Harapan
Oleh Budiarto Shambazy
Tiap wartawan akan bingung memilih topik yang layak jadi berita utama Konvensi
Demokrat di Denver, Rabu (27/8) malam. Sebab, pidato mantan Presiden Bill
Clinton, John Kerry, calon wakil presiden Joe Biden, dan calon presiden Barack
Obama berkelas breaking news yang eksklusif. Bahwa pidato itu disiarkan
langsung CNN tanpa dipotong, itu menunjukkan konvensi ini lebih penting
ketimbang final ”American Idol” atau anugerah Oscar.
Sedikitnya dua peserta konvensi berurai air mata saat diwawancarai seusai
konvensi karena memiliki secercah harapan tentang masa depan bangsa Amerika
Serikat yang dihancurkan Presiden George W Bush. Itu belum termasuk minimal
lima wajah yang sesenggukan karena bangga punya para pemimpin yang menempatkan
rakyat di atas segala-galanya.
Bill Clinton bolak-balik memohon audiens stop tepuk tangan dan duduk. Hampir 5
menit mereka memberikan standing ovation untuk Clinton yang mencetak rekor
ekspansi ekonomi terbesar yang memakmurkan rakyat dalam sejarah kepresidenan.
Clinton bukan hanya menegaskan dukungan untuk Obama, tetapi juga memberikan
jaminan, istrinya, Hillary, punya 18 juta suara yang siap dialihkan untuk duet
”Obiden”. Dengan nada setengah mengancam, Clinton meminta warga Demokrat kompak
menghadapi John McCain.
Kerry, pahlawan perang yang dikalahkan Bush di Pilpres 2004, menguak sikap
McCain—sahabatnya selama 22 tahun—yang mendua. Itu sebabnya, Kerry batal
memilih McCain sebagai cawapresnya tahun 2004, dan menjatuhkan pilihan pada
John Edwards.
Biden jadi bintang karena menyampaikan acceptance speech sebagai cawapres. Ia
berpolitik sejak usia 29 tahun dan berpengalaman politik internasional. Lebih
dari itu, Biden yang doyan bicara berfungsi jadi attack dog jika Obama,
politisi yang terlalu bertata krama, diserang kubu Republik.
Pidato politik, apalagi yang disampaikan saat konvensi, bukan wacana. Clinton,
Kerry, Biden, dan Obama memang memanfaatkan TelePrompTer untuk membaca teks.
Tetapi, mereka bukan ”pidatowan” yang cuma bermodal tampang, dandanan, atau
kursus John Robert Power.
Tiap anak di AS sejak TK dibiasakan berdebat. Politisi terlatih mengabdi sejak
dini. Biden menyebut bagaimana Obama mengorbankan masa muda jadi community
organizer demi politik, bukan cari uang di Wall Street agar cepat kaya.
Tim kampanye Obama mengungkapkan ia tak pernah berlatih pidato secara khusus.
Ketika memulai karier sebagai senator di Illinois, ia tak bicara banyak. Ia
dinilai agak kaku kalau berbicara saat jumpa pers atau ikut debat publik. Ia
merasa lebih nyaman berkomunikasi secara personal dengan setiap orang satu per
satu.
Itu sebabnya, ia mencintai pekerjaan community organizer di Chicago Selatan. Ia
rajin menyambangi anak miskin, mengurusi selokan mampat, mendemo wali kota ,
mengurus buruh yang pabriknya ditutup, atau mendidik remaja agar suka politik.
Obama tahu momen yang menentukan akan tiba: jadi keynote speaker pada konvensi
partai tahun 2004. Bayangkan, empat tahun sebelumnya pada acara yang sama ia
bahkan dilarang masuk gara-gara kartu identitas!
Di konvensi 27 Juli 2004 itulah Obama membacakan pidato ”The Audacity of Hope”.
Tanpa latihan, Obama memukau audiens cuma karena satu hal: pengalaman politik.
Pidato Clinton, Kerry, dan Obama membuat kubu Republik panik. Mereka mencuri
perhatian dengan ”membocorkan” berita McCain telah menentukan cawapres meski
belum tahu siapa. Semoga kepanikan Republik jadi pertanda bagi kemenangan
mutlak Obiden, yang akan kembali memanusiawikan wajah AS.
Kamis malam atau Jumat WIB, Obama menyampaikan acceptance speech di stadion
berkapasitas 75.000 penonton. Terakhir kali konvensi pindah karena minat
penonton kelewat besar terjadi saat John F Kennedy menyampaikan pidato konvensi
pada awal 1960-an.
Kebetulan 28 Agustus 1963 Martin Luther King menyampaikan pidato ”I Have a
Dream” yang jadi tonggak perjuangan persamaan hak. Pasti breaking news lagi dan
makin banyak yang menangis terharu karena Obama telah membangkitkan harapan.
(CNN/AP)
Share your beautiful moments with Photo Gallery. Windows Live Photo Gallery
___________________________________________________________________________
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
[Non-text portions of this message have been removed]