> Sebenarnya, saya tidak pernah peduli dengan FPI, ... > ... baru saya peduli! Saya menolak aksi kekerasan dan menang sendiri!
. . . dalam obrolan di warung kopi, saya dan temen2 kerja pernah satu dua kali membincangkan hal-hal semacam itu. Memang jarang, yang satu dua kali itu pun terjadi ketika satu dari kami terlibat langsung, jadi objek penderita tentunya. Mengapa malas omongin begituan? Saya masih ingat pertama kali ada yang ngebahas kebobrokan kondisi 'kemasyarakatan' di republik ini. Rata-rata dari kami mengernyitkan dahi. Apa pula si fulan ini, macam baru tinggal sehari ini saja di indones. Menjadikan sebagai topik pembicaraan satu hal buruk dari 'kemasyarakatan' di endonesia (dan mengenai pemerintahan) adalah seperti omong: matahari terbit dari timur lagi yaa pagi ini? Ngga lucu banget, deh. Tapi kerna sudah dimulai, dan memang bikin penasaran saya jabanin deh. Menurut saya pertama, ini jelas faktor pemberitaan media. Kedua ini soal Islam. Dua hal itu berjalin. Media melihat islam sebagai topik yang layak jual; atau mereka dibayar khusus untuk itu. Yang anarkis teramat banyak tapi pengapa pemberitaan mengenai fpi yangislam demikian bombastic? think about it...

