++++ Nahhhh, mungkinkah??? atau bangsa bangsa Muslim akan kian 
terjerumus dalam keterpinggiran dalam segala bidang?


[ Rabu, 03 September 2008 ] 
Menyeimbangkan Zikir dan Pikir 



Oleh Priyo Suprobo 

Peradaban manusia, menurut Alfin Toffler, futuristik sains terkemuka, 
terbagi atas tiga gelombang. Pertama abad pertanian, kedua, abad 
industri, dan ketiga abad infomasi. 

Teori-teori yang berkembang sekarang ini melangkah ke arah era 
peradaban baru, yaitu gelombang keempat yang ditandai dengan 
kompetisi yang ketat dalam era globalisasi. Gelombang keempat itu 
disebut dengan Knowledge Based Economic (KBE). 

Di sisi lain peradaban manusia, menurut Huntington, seorang pakar 
sains politik terkemuka, akan ada benturan peradaban antara tujuh 
(hingga delapan) peradaban besar dunia, di antaranya Barat, Islam, 
dan China.

Apa pun konsep peradaban manusia tersebut, "keseimbangan kekuatan" 
adalah kata kunci agar salah satu dari kelompok peradaban tersebut 
tidak saling berbenturan. Keseimbangan kekuatan tersebut kalau dahulu 
adalah lebih ke arah kekuatan militer (hard power), sekarang pada 
kekuatan daya saing yang menunjang ekonomi negara (soft power). 

Soft power adalah kemampuan membuat pihak lain menjalankan apa yang 
kita inginkan tanpa kita harus menggunakan kekerasan atau membayar, 
melainkan melalui daya tarik (Nye, 2008). 

Dalam konteks penguasaan sains dan teknologi, soft power adalah 
kemampuan mendominasi suatu negara (dengan peradaban maju) terhadap 
negara lain melalui kemampuan memenuhi kebutuhannya terhadap sains 
dan teknologi.

Dunia Barat begitu mendominasi dalam kekuatan sains dan teknologi 
sejak keruntuhan kekhalifahan Abbasiyah. Dunia Timur yang diwakili 
Jepang dan China juga mulai unjuk gigi dalam sains dan teknologi. 
Bagaimana dunia Islam, yang diwakili negara-negara Timur Tengah dan 
beberapa kawasan Asia seperti Indonesia?

Diakui atau tidak, dunia Islam sekarang ini adalah yang tertinggal 
dibanding yang lain, khususnya dunia Barat yang dulu banyak belajar 
dari Islam. Di zaman kejayaan Abbasiyah, banyak sekali pakar sains 
muslim yang menjadi pioner pengembangan keilmuan. Misalnya, dalam 
ilmu geografi kita kenal Ibnu Batutah, di bidang astronomi dan 
matematika sekaligus adalah Al-Majriti dan Al-Zarqali.

Lantas di bidang ilmu tumbuhan adalah Ibnu Sab'in, di kedokteran dan 
farmasi adalah Ibnu Zuhr dan Al Zahrawij. 

Setelah kejatuhan Baghdad pada 1258 M oleh Hulagu Khan, kemunduran 
terjadi akibat banyak ilmuwan Islam bergeser ke fokus spiritual 
akibat rasa frustrasi karena peradaban mereka dihancurkan.

Dari sisi sains dan teknologi, kemunduran umat Islam bisa jadi karena 
berkurangnya porsi konsep "fikr" (pikir), sementara di sisi lain ilmu 
filsafat dengan unsur-unsur sufisme yang lebih besar semakin 
meningkat sebagaimana disebarkan Ibnu Arabi. 

Kemunduran ini bisa dikatakan bahwa telah terjadi ketidakseimbangan 
antara zikir dan pikir. Ketidakseimbangan ini bila dihubungkan dengan 
ayat-ayat penciptaan manusia adalah melanggar fitrah kemuliaan 
manusia itu sendiri. Jin dan malaikat pun diperintahkan oleh Allah 
SWT untuk bersujud kepada Adam a.s semata-mata karena kemampuan 
akalnya. 

Kisah ini menunjukkan bahwa sekadar berzikir adalah suatu syarat 
cukup (order qualifier dalam istilah manajemen) di hadapan Allah SWT, 
karena semua makhluk "bisa" melakukannya sebagaimana pernyataan 
malaikat kepada Allah SWT: "Untuk apa Engkau hendak ciptakan manusia 
yang akan membuat kerusakan di muka bumi, padahal kami (malaikat) 
senantiasa bertasbih kepadamu?". 

Bila semua makhluk bisa berzikir kepada-Nya, hanya manusia berimanlah 
yang mampu menyimbangkan berzikir dan berpikir dengan akalnya. Inilah 
syarat menang (order qualifier) yang seharusnya ditanamkan dalam pola 
pikir setiap muslim dalam membangun peradabannya. Keseimbangan inilah 
yang dimaksud Einstein, pakar fisika modern, dalam quotenya yang 
terkenal, "ilmu tanpa agama adalah buta, agama tanpa ilmu adalah 
lumpuh".

Jadi, Islamisasi sains dan teknologi dalam pandangan saya adalah 
membangun kembali pola pikir yang mengedepankan keseimbangan antara 
zikir dengan pikir yang bermanfaat bagi kesejahteraan umat. Bila 
sains didefinisikan sebagai "how things are" dan teknologi 
sebagai "how do things", sangatlah perlu sains diimplementasikan 
secara riil dalam wujud teknologi yang bermanfaat bagi manusia.

Untuk keseimbangan peradaban, umat Islam perlu mengambil alih tingkat 
kepemimpinan sains dan teknologi yang sekarang ini berada pada 
peradaban Barat sekuler, seperti yang pernah terjadi di abad-abad 
pertengahan. Dengan keseimbangan peradaban tersebut, Islam akan 
mempunyai soft power yang seimbang di antara peradaban-peradaban 
besar seperti Barat, China (Konfusius), Jepang, dll, sehingga 
benturan peradaban dalam bentuk konflik akan diminimalkan. 

Mungkin ini salah satu jalan mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil 
aalamiin (rahmat seluruh alam), yaitu dengan menjadikan dunia Islam 
memiliki kekuatan soft power yang berbasis knowledge (sains dan 
teknologi).

---

Prof Priyo Suprobo PhD , rektor Institute Teknologi 10 Nopember 
Surabaya (ITS). 





Kirim email ke