PEMILU 2009 DAN (ILUSI) KAUM PERGERAKAN
Oleh: Budi Wardoyo (1)
Diambil dari www.fnpbi-prm.blogspot.com


Menjelang pemilu 2009 nanti, peta politik kaum pergerakan, nampaknya akan 
mengalami polarisasi besar, terutama polarisasi antara pilihan politik untuk 
mengikuti pemilu sebagai peserta (dengan bergabung ke partai politik yang telah 
ada) versus pilihan poltik yang menolak menjadi peserta pemilu.

Pilihan politik untuk mengikuti pemilu 2009, yang antara lain di ambil oleh 
Partai Rakyat Demokratik dan Organ-Organ
 Sewakawannya(2) , paling tidak beranjak dari argumentasi :

Bahwa menjadi peserta pemilu, akan memberikan ruang yang besar bagi kaum 
pergerakan untuk meluaskan kampanye mengenai program-program kerakyatan.Dengan 
meluaskan kampanye program-program kerakyatan, diharapkan akan memperluas 
dukungan rakyat (dalam bentuk perluasan struktur gerakan)Dengan demikian 
kapasitas/kesanggupan rakyat untuk berjuang akan semakin menguat.Jika berhasil 
dalam pemilu, dan akhirnya berhasil mendapatkan kursi, maka ruang kampanye akan 
semakin lebih luas lagi.
Selain argumentasi di atas, ada juga argmentasi tambahan lainnya, yakni:

Bahwa pemilu 2004 yang lalu, para partai-partai politik yang mengikuti pemilu 
adalah gerombolan partai politik yang mengabdi pada jalan lama, yakni jalan 
neoliberalisme, sehingga rakyat tidak mendapatkan alternatif lain. Oleh karena 
itu, agar rakyat mempunyai alternatif lain, maka
 kaum pergerakan harus menjadi bagian dari peserta pemilu 2009.Selama periode 
2004 sampai sekarang, telah terjadi perubahan arah politik dari berbagai 
kekuatan politik yang dahulu dinyatakan sebagai kekuatan poilitik reformis 
gadungan, sehingga kekuatan reformis gadungan ini (yang sekarang telah menjadi 
kekuatan ‘progresif’) bisa dijadikan sekutu dalam proses mengikuti pemilu 2009, 
bahkan sebagian kekuatan militerpun, saat ini dinyatakan mempunyai potensi 
untuk dijadikan sekutu, demikian juga dengan pengusaha, asalkan mempunyai 
platform kemandirian bangsa.

Argumentasi yang lebih pragmatis, untuk memilih posisi menjadi peserta pemilu 
2009 adalah :

 Politik yang real/kongkrit adalah politik parlemen, bukan politik parlemen 
jalanan  Sudah cukup berjuang dijalan, miskin, menderita dan sekarang saatnya 
menuai
 hasil

Sedangkan yang mengambil posisi untuk tidak mengikuti pemilu, seperti yang 
dilakukan oleh Serikat Mashasiswa Indonesia dan KASBI (yang dalam press release 
menyatakan GOLPUT), berangkat dari argumentasi(3) :

 Pemilu 2009 adalah sarana kaum borjuasi Indonesia untuk mengkonsolidasikan 
dirinya, sebagai kekuatan politik yang setia menjalankan program-program 
neoliberalisme, sehingga pemilu 2009 bukanlah pemilu rakyat (pemilu yang 
diabdikan) untuk kepentingan mayoritas rakyatBahwa selama ini, program 
neoliberalisme telah gagal mensejahterakan rakyat, demikian pula dengan 
kekuatan-kekuatan politik pendukung neoliberalismepun telah gagal menjadi alat 
politik rakyat. Semakin meningkatnya
 ketidakpercayaan rakyat pada partai-partai politik borjuis,elit-elit politik 
borjuis, bahkan ketidakpercayaan pada mekanisme pemilihan borjuis (paling tidak 
angka golput yang tinggi diberbagai pilkada bisa menunjukan sikap politik 
rakyat yang makin muakDengan posisi yang berbeda ini, tentu layak untuk 
dijadikan perdebatan (secara terbuka) agar semakin jelas bagi rakyat, jalan 
mana yang bisa di ikuti untuk mengeluarkan mereka dari kemiskinan yang semakin 
akut.


Sebelum masuk pada polemik antara pilihan menjadi peserta pemilu dan tidak 
menjadi peserta pemilu, menurut saya sebaiknya di buka dulu dari pendiskusian 
mengenai apa yang menjadi problem pokok rakyat indonesia saat ini, yang 
menyebabkan rakyat Indonesia menjadi semakin miskin dan melarat. Pendiskusian 
ini menjadi relevan karena penilaian terhadap problem pokok rakyat indonesia 
ini, ikut mempengaruhi pilihan taktik dalam menghadapi pemilu
 2009 ini.

Sebelum kenaikan harga BBM beberapa bulan lalu, secara sepintas tidak terlalu 
kelihatan adanya perbedaan yang besar (bahkan bisa dianggap tidak ada 
perbedaan, kecuali dengan AGRA-FMN) di antara kelompok gerakan (kiri) mengenai 
apa yang menjadi problem pokok rakyat indonesia. Pendiskusian yang ringan di 
forum informal hingga pertemuan formal dengan perdebatan-perdebatan panjang, 
tidak pernah keluar dari satu kesaamaan pandang, bahwa problem pokok rakyat 
indonesia saat ini adalah neoliberalisme sebagai satu sistem ekonomi-politik 
yang dijalankan oleh kekuatan politik yang berkuasa di Indonesia dari jaman 
Orde Baru hingga sekarang. Namun momentum kenaikan harga BBM kemarin (sebelum 
sudah kelihatan bibit-bibit perbedaan, namun tidak manifest dalam bentuk 
polarisasi yang cukup tegas) membuka perbedaan  tajam, yang mau tidak mau harus 
dibuka.

Perbedaan utama bukanlah pada penilaian Neoliberalisme sebagai problem pokok, 
melainkan pada
 penilaian terhadap kekuatan politik elit (borjuis) dalam negeri, di mana 
sebagain gerakan kiri (yang di pimpin oleh PRD/PAPERNAS) memberikan definisi 
baru terhadap kekuatan politik dalam negri ini. Dengan melihat neoliberlisme 
sebagai bentuk penjajahan modal asing, yang di gerakan oleh kekuatan politik 
asing, maka posisi kekuatan politik elit (borjuis) dalam negeri, bukanlah 
problem pokok, melainkan harus dilihat sebagai potensi sekutu untuk melawan 
penjajahan modal asing ini, sebab kekuatan elit (borjuis) dalam negri juga 
berkepantingan dalam melawan penjajahan modal asing ini.

Paling tidak argumentasi ini di cerminkan dari tulisan I Gede Sandra(4)  , yang 
berjudul Galang Persatuan Nasional!Tanggalkan Perbedaan dan Gali Persamaan(5)  
di mana dalam tulisan ini Gede Sandra memasukan Rizal Ramli, Amin Rais, Drajat 
Wibowo dari Politisi Sipil dan Hendropriyono, Wiranto, Prabowo dari kalangan 
Militer sebagai tokoh-tokoh yang pro kemandirian bangsa,
 sehingga menurut Gede Sandra kekuatan ini adalah sekutu utama yang harus di 
rangkul dalam melawan penjajahan asing.

Argumentasi serupa juga di sampaikan oleh Haris Sitorus, yang saat ini menjabat 
sebagai Sekretaris Jendral PAPERNAS. Dalam Jurnal Bersatu, Haris Sitorus 
mengatakan bahwa musuh pokok rakyat indonesia saat ini adalah modal asing, 
sehingga seluruh kekuatan yang berpotensi untuk melakukan perlawanan terhadap 
modal asing, harus di satukan, bahkan pertarungan dalam negeri bisa di abaikan 
dulu.

Sementara yang lain, paling tidak kekuatan yang menjadi pengerak di Front 
Pembebasan Nasional (di mana KASBI maupun SMI terlibat juga didalammnya) 
menilai, bahwa penjajahan modal, bukan saja semata-mata karena modal asing, 
melainkan juga modal pribumi. Efektifitas penjajahan modal bisa tercapai selama 
ini ( dalam bentuk penjarahan kekayaan alam maupun aset-aset vital, dalam 
bentuk fleksibilitas tenaga kerja, dalam bentuk liberalisasi
 perdangan maupun pasar) karena seluruh kekuatan politik elit dalam negeri, 
tidak melakukan perlawanan apapun, bahkan justru berlomba-lomba menjadi 
sekutu(6) . Sehingga mengabaikan kekuatan politik  elit dalam negeri sebagai 
musuh rakyat, jelas merupakan suatu kekeliruan yang besar.

Fenomena beberapa tokoh politik elit yang saat ini melakukan kritikan (sebatas 
kritikan, bukan membangun gerakan) terhadap penjajahan modal (tertutama modal 
asing), di sebabkan oleh beberapa hal :


Makin meluasnya gerakan rakyat (dalam bentuk mobilisasi-mobilisasi) melawan 
penjajahan kaum modalSituasi menjelang pemilu 2009, mengharuskan para tokoh ini 
untuk mencari muka, dihadapan rakyat yang semakin tidak mempercayai 
kepemimpinan para elit ini.Dan bukan di sebabkan karena Elit-Elit Politik ini 
mempunyai karakter yang kuat untuk melawan modal asing, sebagai satu
 contoh: Rizal Ramli (di antara para tokoh yang saat ini mengkritik penjahahan 
modal asing, Rizal bahkan jauh lebih maju dengan terlibat dalam demonstrasi 
menolak kenaikan harga BBM) dalam wawancara di majalah Forum yang di kutip oleh 
Rakyat Merdeka Online(7) , menyampaikan di hadapan Managing Director IMF untuk 
Asia Pasifik Hubert Neiss, bahwa dia dapat memahami kenaikan harga BBM, hanya 
timingnya saja yang tidak tepat. Pernyataan ini dikeluarkan dalam pertemuan di 
akhir bulan april 2008. Artinya demonstrasi menolak kenaikan harga BBM yang di 
lakukan Rizal Ramli, bukan berlandaskan pada penjajahan modal, melainkan hanya 
karena waktu kenaikan BBM yang tidak tepat, jika kenaikan BBM di lakukan 
beberapa bulan lagi, atau satu tahun lagi, mungkin Rizal akan mendukung.

Inilah yang kemudian menjadi landasan untuk mengambil taktik yang berbeda 
(mengikuti pemilu atau tidak) dalam merespon pemilu 2009, seperti yang sudah 
saya gambarkan di atas.

Saya
 sendiri jelas menolak berposisi untuk menjadi peserta pemilu 2009, bukan 
karena tidak bersepakat pada empat argumentasi awal di atas, melainkan lebih 
pada tidak tersedianya syarat bagi empat argumentasi tersebut bisa praktikal:
 Pemilu sebagai sebuah momentum politik nasional, jelas tidak bisa di tolak 
adalah panggung politik yang besar, yang menjadi perhatian (baik terpaksa 
maupun “sukarela”) sebagian besar rakyat Indonesia, namun panggung yang besar 
ini tidak secara otomatis akan menjadi panggung yang efektif bagi kaum 
pergerakan, dengan menjadi peserta pemilu. Ketidak efektifan ini disebabkan 
alat politik yang digunakan oleh kaum pergerakan bukanlah alat politik yang 
dibangun sendiri oleh kaum pergerakan; dengan programnya sendiri, dengan metode 
perjuangannya sendiri, dengan model organisasinya sendiri maupun dengan 
tokoh-tokonya sendiri. Dengan tidak adanya alat politik kaum pergerakan ini 
(sekalipun
 telah diupayakan dengan segala kelebihan maupun keterbatasannya), maka kaum 
pergerakan harus masuk atau menjadi bagian dari alat politik yang lain, dan 
tepat pada point ini, alat politik yang ada (yakni partai-partai politik yang 
menjadi peserta pemilu 2009) tidak ada satupun yang mendekati apa yang selama 
ini di perjuangkan oleh kaum pergerakan Indonesia, sehingga menjadi bagian dari 
kekuatan penindas ini,tentu saja akan semakin memperkuat posisi politik kaum 
penindas ini untuk mendapatkan legitimasi dari rakyat yang sudah semakin 
mengecil. Sekalipun saat ini (dan juga pada pemilu yang lalu ataupun pada 
pemilu-pemilu selanjutnya), sebagian partai (bahkan mungkin semua) menyatakan 
partainya sebagai partai yang pro rakyat, partai yang membawa misi perubahan, 
partai yang anti neoliberalisme, partai yang mendukung kemandirian bangsa, 
partai yang pro klas pekerja, partai yang pro petani dan partai yang baik di 
berbagai hal lainnya,sebenarnya sudah bisa
 ditebak tujuan sebenarnya dari kemunafikan partai-partai ini, tidak lain dan 
tidak bukan hanyalah untuk mendapatkan suara terbanyak dalam pemilu 2009 nanti, 
sehingga partai ini bisa mendapatkan kekuasaan, dan begitu kekuasaan sudah 
dalam gengaman, seketika itu pula watak asli mereka akan kelihatan. Itulah 
sebabnya kemarin-kemarin(dan kedepannya) kita tidak pernah melihat upaya yang 
sungguh-sungguh dari partai ini dalam membela kepentingan rakyat, kecuali 
sungguh-sungguh dalam menipu dan menindas rakyat. Partai-partai yang akan 
menjadi peserta pemilu 2009, bukanlah partai yang dari awal pendiriannya 
ditujukan untuk membela kepentingan rakyat, sekalipun dalam 1-2 kalimat, 
menyatakan diri untuk hal ini, namun proses pembentukannya, tokoh-tokohnya, 
metode perjuangannya, konsisntensi perjuangannya tidak secuilpun memberikan 
gambaran sebagai partai politik yang sejalan dengan kepentingan rakyat. 
Sehingga ketika Dita Sari menyampaikan bahwa PBR (mungkin juga
 ada aktifis lain yang mengatakan hal serupa untuk membela partainya) adalah 
partai yang terbaik diantara yang terburuk, ini hanyalah retorika yang persis 
sama dengan retorika yang sering dikeluarkan dari mulut busuk para politisi 
borjuis. Dengan demikian, tujuan untuk memperluas kampanye program-program 
kerakyatan jelas tidak akan tercapai (toh semua partai juga akan bicara 
program-program kerakyatan agar bisa mendapatkan dukungan suara yang paling 
banyak), kecuali jika diperlihatkan pada rakyat perbedaan-perbedaan antara 
program kerakyatan yang di suarakan oleh kaum pergerakan dan program kerakyatan 
yang di lontarkan oleh partai-partai borjuis itu, sekaligus menunjukan pada 
rakyat kegagalan partai-partai itu selama ini dan potensi kegagalan 
partai-partai tersebut di masa depan. Namun jika ini dilakukan oleh kaum 
pergerakan (yang sekarang sudah menjadi bagian dari partai tersebut), maka 
sangat mungkin mereka akan di depak, di coret caleg ataupun sebagai
 pengurus partai, dan sayangnya hingga kini tidak ada yang mengeluarkan 
statement untuk siap di pecat dari partai karena alasan di atas.Dengan biasnya 
program kerakyatan, ditambah dengan alat politik yang digunakan adalah alat 
politik milik borjuasi, maka sudah bisa dipastikan struktur organisasi yang 
akan meluas adalah struktur organisasi dari borjuis ini. Dita Sari sebagai 
caleg PBR dari Dapil Jateng V, tentu saja akan membangun strukur PBR di sana 
(bukan struktur PRD, PAPERNAS maupun FNPBI atau organ gerakan lainnya), sebab 
yang maju ke pemilu adalah PBR, bahwa kemudian struktur PBR ini nantinya akan 
dijadikan struktur PRD/PAPERNAS atau lainnya, tentu saja akan membutuhkan waktu 
yang lama (dengan catatan bahwa Dita Sari cs harus cukup lama menjadi struktur 
PBR, yang artinya tidak boleh berkonfrontasi dengan PBR, misal dalam hal posisi 
PBR yang juga ikut mendukung pembubaran Ahmadyah, Dita sebagai antifis gerakan 
tidak bisa secara
 terang-terangan melawan posisi PBR ini). Menjadi lebih lama lagi prosesnya, 
karena struktur politik yang terbentuk adalah mesin politik pemilu (mesin 
politik pengumpul suara), bukan mesin politik pergerakan, sebab dalam mekanisme 
pemilu ada banyak hambatan bagi struktur politik yang ada menjadi struktur 
pergerakan, misalnya hambatan untuk melakukan aksi-aksi menolak berbagai 
kebijakan anti rakyat di Dapil V Jateng atas nama PBR ( jikapun harus 
dilakukan, maka akan dilakukan dengan nama organisasi lain-entah PRD/PAPERNAS 
atau lainnya- yang dalam taktik kampanye, tidak efektif untuk memenagkan PBR 
sebagai Partai maupun Dita sebagai Caleg, karena rakyat melihat bukan PBR yang 
berpihak pada rakyat, sementara yang maju ke pemilu adalah PBR). Sekarangpun 
ini sudah terjadi, Serikat Rakyat Miskin Indonesia (yang juga bagian dari 
PAPERNAS, dan juga mendukung PBR) baru-baru ini melakukan aksi massa dengan 
jumlah massa yang cukup besar di Jakarta, namun PBR
 sebagai partai yang di usung oleh SRMI (apalagi PBR telah melakukan kontrak 
politik dengan SRMI) tidak muncul sama sekali dalam aksi ini (dalam ukuran 
liputan media massa, sekalipun mungkin saja Marlo Sitompul dan 
Pimpinan-Pimpinan SRMI lainnya dalam orasinya berbicara mengenai PBR), tidak 
munculnya PBR tentu saja di sebabkan karena aksinya masih menggunakan SRMI 
bukan PBR. Dalam konteks PBR (berbeda dengan PDIP, GOLKAR, PKS atau Partai 
Besar lainnya), maka pembangunan struktur PBR hanya sebagai mesin pengumpul 
suarapun sangat sulit dikerjakan, ditengah situasi PBR bukan partai yang 
populer, dan juga bukan partai yang memperjuangkan kepentingan rakyat. Dalam 
situasi ini, maka pembangunan struktur PBR hanya mungkin dilakukan dengan dua 
cara (seharusnya tiga cara, kalau aksi-aksi pembelaan rakyat yang dilakukan 
oleh PRD/PAPERNAS/SRMI/LMND/STN dan Organ PAPERNAS lainnya mengunakan nama PBR, 
namun dilihat sampai sekarang, nampaknya ini tidak akan dijadikan
 taktik utama, atau sangat mungkin taktik ini tidak akan digunakan). Cara 
pertama adalah dengan kampanye konvensional dengan tekanan kampanye PBR adalah 
partai yang layak di pilih oleh rakyat dalam pemilu 2009 nanti, dan ketika ada 
rakyat yang tahu bahwa PBR juga ikut dalam berbagai kebijakan yang merugikan 
rakyat, maka mau tidak mau kebusukan PBR ini harus di tutupi, sekali lagi 
dengan retorika ala politisi busuk. Mungkin akan di katakan.” Yaaa..wakil kami 
di DPR/D kemarin masih sedikit, sehingga kami tidak berbuat banyak” atau 
mungkin mereka akan mengatakan “ Itu kan perbuatan oknum, bukan kebijakan 
partai” atau mungkin juga mereka akan mengatakan “ tahun kemarin kebijakan 
seperti belum bisa, tapi kalo tahun depan pasti akan kami lakukan. Cara kedua 
untuk membangun mesin pengumpul suara, tentu saja sama seperti partai-partai 
lainnya adalah dengan memberikan sogokan-sogokan dalam berbagai bentuk, dari 
yang paling sedikit ongkosnya, sampai
 ongkos yang sangat sangat banyak (sebagai contoh, Nurul Arifin dalam Dialog di 
salah satu TV Swasta, mengatakan bahwa modal minimal untuk bisa lolos kurang 
lebih 1 Milyard, angka yang sangat besar sekalipun Nurul Arifin termasuk caleg 
yang populer dari partai yang besar, yakni Golkar) Lalu berapa biayanya untuk 
celeg yang tidak sepopuler Nurul dari Partai yang juga tidak populer/kecil? 
Jikapun ada biayanya (mungkin saja ada bandar politik yang sanggup membiayai), 
maka cara membangun struktur dengan menyogok massa, jelas bukan cara untuk 
membangun gerakan, yang artinya keinginan untuk memperluas struktur gerakan 
melalui pemilu hanyalah omong kosong.Artinya peluang untuk masuk menjadi 
anggota DPR/D pun sangat kecil, dan jikapun berhasil (dengan cara-cara di atas) 
maka kemungkinan untuk menjadi anggota DPR yang radikal, yang sanggup 
memperjuangkan kepentingan rakyat menjadi sangat kecil, karena dalam proses 
menuju anggota DPR/D sudah menanggalkan
 prinsip-prinsip perjuangan, dan saya tidak percaya, dengan proses yang seperti 
itu, maka secara ajaib akan muncul anggota DPR/D yang diharapkan oleh 
rakyatArtinya taktik kaum pergerakan untuk bergabung dengan partai-partai 
peserta pemilu 2009 ini, lebih di sebabkan oleh alasan pramatis yang telah saya 
sebutkan di atas.

Bersambung…..(8)

catatan kaki :

Koordinator Departemen Kampanye dan Penyatuan Gerakan Dewan Harian Nasional 
Persatuan Politik Rakyat Miskin; Koordinator Sementara Front Nasional 
Perjuangan Buruh Indonesia-Politik Rakyat Miskin; Mantan Koordinator Departemen 
Perjuangan Rakyat Dewan Pimpinan Pusat PAPERNAS; Mantan Staff Komite Pimpinan 
Pusat Partai Rakyat Demokratik.Untuk Pemillu 2009, PRD dan Organ-Organ 
Sewakawannya, memilih bergabung dengan Partai Bintang Reformasi (PBR), yang 
dulunya merupakan pecahan PPP. Saat ini PBR,
 sebagai salah satu partai yang berazaskan Islam, memiliki 14 kursi di DPR, 62 
kursi di DPRD Provinsi dan 265 kursi di DPRD Kabupaten/KotaLebih lengkapnya 
bisa di baca dalam statament KASBI (www.kasbiindonesia.multiply.com)maupun SMI 
(www.kppsmi.wordpress.com )Pemimpin Redaksi Berdikari Oline dan Buletin 
Berdikari, Media Resmi DPP PAPERNAS 
http://papernas.org/berdikari/content/view/102/44/Bisa di lihat dalam 
peryaataan sikap Front Pembebasan Nasional menjelang kenaikan harga BBM. Bisa 
juga dilihat dalam siaran pers SMI atau KASBI. Demikian juga KPRM-PRD dalam 
terbitannya (majalah Pembebasan) atau LMND-PRM situsnya juga menyampaikan 
analisa yang sama. Buka: www.kppsmi..wordpress.com www.arahgerak.blogspot.com , 
www.kprm-prd.blogspot.com , www..lmnd-prm.blogspot.com 
http://www.myrmnews.com/indexframe.php?url=situsberita/index.php?pilih=lihat_edisi_website&id=58614Tulisan
 berikutnya adalah mengenai
 kemana arah pengorganisiran golput




--

Posting oleh  ARAH GERAK  ke  ARAH GERAK  pada  8/26/2008 05:45:00 PM




      


      


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke