Jumlah petani hampir separuh dari jumlah penduduk
Indonesia. Jadi kalau mayoritas petani miskin, maka
sebagian besar penduduk Indonesia juga miskin.

Anehnya banyak yang mengeksploitasi para petani.
Sebagai contoh para petani dikondisikan untuk harus
beli pupuk kima yang mahal, sehingga pemerintah harus
subsidi. Kemudian juga pestisida. Lalu harus beli
bibit unggul yang dimonopoli perusahaan2 besar dengan
harga 3 kali lipat ketimbang para petani berkreasi
sendiri seperti kasus petani Tukirin yang dihukum
penjara hanya karena bisa menemukan bibit unggul yang
3 kali lebih murah ketimbang yang dijual perusahaan
dengan tuduhan pembajakan bibit.

Harusnya pemerintah bisa lebih aktif sehingga petani
bisa pakai pupuk alami yang lebih sehat dan murah
seperti pupuk hijau. Pestisida alami seperti pemakaian
predator alami macam burung hantu untuk membunuh
tikus. Serta penelitian untuk menghasilkan bibit
unggul yang murah yang bisa digunakan para petani.

KOMPAS Cetak : "Cultuurstelsel" Baru
Tukirin, petani gigih, menemukan bibit jagung unggul
berkat kerja keras dan ... Hukuman percobaan dia
terima setelah proses pengadilan yang mencekam dan ...
cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/21/01042763/cultuurstelsel.baru%20

--- Ahmadi Agung <[EMAIL PROTECTED]> menulis:

> Yah itulah jaman sekarang yg INGIN semuanya bisa
> serba
> INSTAN....Misalnya..
>  
> Soal tanaman padi....semuanya baik petani &
> pemerintah, semuanya ingin
> begitu tanam bisa TINGGAL HLEP...maksudnya langsung
> bisa di panen
> gitu....
>  
> Tetapi mungkin kepentingan-nya lain...antara
> kepentingan pemerintah &
> kepentingan petani walopun sama-sama semuanya ingin
> serba INSTAN tinggal
> HLEP tadi....
>  
> Soal pitik alias ayam potong....karena ingin cepat
> di jual & cepat bisa
> di makan maka di rekayasa genetika, ayam yg
> sebetulnya masih " kutuk"
> kiyik-kiyik di rekayasa genetika yg akhirnya pitik
> kutuk itu kelihatan
> seperti pitik dewasa yg siap & bisa di konsumsi....
>  
> Nah yg GAWAT adalah....karena ingin instan CEPAT
> KAYA maka, begitu ada
> kesempatan semuanya di rekayasa, tetapi yg ini TIDAK
> PAKEK GENETIKA
> tetapi sedikit pakek ilmu sulap...sim
> salabim..kwitansi Rp.1000,- di
> sulap menjadi Rp.10 Milyard..dst..dst....KORUPSI....
>  
> Semuanya karena serba ingin instan....
>  
>  
> 
> ________________________________
> 
> From: [EMAIL PROTECTED]
> [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
> Of Taufik
> Dwidjowinarto
> 
> 
> 
> 
> Simbah-simbah kita yang hidup pada zaman dahulu
> kala, tidak kenal
> istilah membeli bibit padi setiap kali mau memulai
> masa tanam. Karena
> bibitnya sudah mereka punyai, yang mereka dapatkan
> dari menyisihkan
> sebagian gabah hasil panen pada musim panen yang
> lalu. Kondisi ini tidak
> berlaku ketika ada kejadian yang karena satu dan
> lain hal gabah simpanan
> untuk bibit itu terlanjur habis dikonsumsi.
> 
> Pada zaman cicitnya simbah-simbah kita sekarang ini,
> setiap mau memulai
> masa tanam harus membeli bibit padi dulu ke
> tolo-toko pertanian
> terdekat. 
> 
> Mengapa harus membeli bibit ?. Karena sebagian hasil
> panenan gabahnya
> tidak bisa disisihkan untuk disimpan sebagai bibit
> untuk masa tanam
> berikutnya.
> 
> Kenapa tidak bisa ?. Karena jika dipaksakan
> menjadikan gabahnya itu
> untuk bibit maka hasilnya panenan berikutnya menjadi
> kurang bagus.
> Teknologi memproduksi bibit unggul memang begitu
> karakter teknis
> ilmiahnya.
> (yang kata para pakar pertanian merupakan hal yang
> tidak bisa dicarikan
> solusi secara teknis ilmiahnya, sudah given begitu
> itu, diterima saja
> sebagai bagian dari konsekuensi perkembangan
> teknologi, begitu kata
> teman saya)
> 
> Kalau pun ada yang coba akal-akalan, maka nasibnya
> ya seperti kasus
> seorang petani di Jawa Timur yang 'terpaksa' di
> Penjara karena
> 'melanggar hak paten' atas bibit unggul yang
> diakal-akalinya itu.
> Maksudnya diakali adalah memakai sebagian hasil
> panen untuk dipakai
> sebagai bibit.
> 
> Mekanisme seperti ini, saat ini, sudah berlaku untuk
> semua jenis tanaman
> pertanian dan perkebunan. Bahkan juga di sektor
> peternakan juga sama.
> Mau berternak ayam potong, berarti mau memelihara
> babonnya, terus
> beranak pinak, seperti para simbah kita berternak
> ayam dulu ?.
> Gak bisa, beli saja DOC (Day One Chicken) pada
> setiap memulai musim
> pemeliharaan.
> Emang kita gak bisa memeilhara DOC itu sampai besar
> sehingga nantinya
> bisa jadi Parent Stock bahkan Grand Parent Stocknya
> ?. Mimpi kali.....
> 
> Para insinyur pertanian yang sebagian keturunan
> petani / pekebun ya
> anteng-anteng saja dengan keadaan yang seperti ini,
> karena mereka
> mengganggap tak pernah ada yang 'salah' dengan
> mekanisme ini.
> Capek berdebat dengan mereka, capek meyakinkan para
> insinyur pertanian
> yang keturunan petani / pekebun bahwa mekanisme
> seperti itu berarti
> menghilangkan kemandirian petani / pekebun yang
> hasil akhirnya dari
> keadaan ini menempatkan petani pada posisi 'sulit',
> yang laksana
> dijadikan sebagai 'buruh tanam' saja. 
> 
> Tapi kita selalu kalah diskusi dengan mereka, karena
> kita lulus SMA aja
> kagak dan juga bukan ahli pertanian/peternakan ,
> sedangkan mereka adalah
> insinyur ahli pertanian / peternakan. Kita bukan
> keturunan petani,
> sedangkan mereka adalah keturunan petani.
> Begitu dijawab : Tahu apa kamu soal dunia petani hah
> ???. Lah, mampuslah
> kita jika sudah dijawab begitu.
> 
> Dan selalu saja kita kalah juga dengan jawaban
> mereka bahwa sebenarnya
> apa tho ruginya jika ikuti saja perkembangan
> kemajuan teknologi dengan
> belilah bibit di toko pertanian. Toh sama saja,
> kalau bibit sendiri
> berarti harus ada yang disisihkan dari hasil panen,
> kalau beli bibit
> berarti hasil panen bisa dijual semua. So what gitu
> loh.........
> 
> Begitulah ceritanya.
> Jadi ...kenapa tidak ada yang peduli dengan petani
> ?... ya gak tahu pak,
> para insinyur-insinyur pertaniannya saja gak peduli
> soal bibit yg
> seperti itu kok.
> ...Bukankah kita katanya sudah punya bibit padi
> unggul... betul ada,
> tapi ya beli terus setiap mau musim tanam.
> Dan masalahnya mbulet lagi ke soal yang tadi atas.
> 
> Jadi ?. Siapa yang masih peduli pentingnya
> kemandirian petani ?, sudah
> langka pak.
> Kalau kemandirian petani saja sudah tidak
> diperdulikan, maka wajar jika
> kemandirian pangan nasional kita pun kemudian
> menjadi runtuh.
> siapa peduli apa peduli mu ?... capek deh.......... 
> 
> Wallahu'alambishshawab.
> 
> ***
> 
> himawan suwardhi <[EMAIL PROTECTED]>
> 
> Sesungguhnya kenapa tidak ada yang peduli dengan
> petani.
> Bukankah kita katanya sudah punya bibit padi unggul
> ,adanya sistim SRI
> yang
> katanya memakai bibit lebih sedikit hasil lebih
> banyak ,apalagi katanya
> dengan
> memakai pupuk organik akan lebih banyak lagi hasil
> padinya.
> Apakah tidak ada sistim yang benar benar bisa
> membantu dan peduli kepada
> petani
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> ---------------------------------
> 
> Tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah
> klik
> http://www.SyaikhAchmadSyaechudin.org
> <http://www.SyaikhAchmadSyaechudin.org> 
> 
> ---------------------------------
> 
> 
> ---------------------------------
> Dapatkan nama yang Anda sukai! 
> Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan
> @rocketmail.com.
> 
> [Non-text portions of this message have been
> removed]
> 
> 
> 
>  
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been
> removed]
> 
> 


===
Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta
Informasi selengkapnya ada di:
http://www.media-islam.or.id

Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS

Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252

Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari Telkomsel 
Informasi selengkapnya ada di http://syiarislam.wordpress.com


      
___________________________________________________________________________
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Kirim email ke