Ini sebuah pengalaman pribadi saya, tanpa rekayasa
sedikitpun.

Saya lahir di Jakarta Pusat tahun 1973. Pada usia 4 tahun
(tahun 1977), saya beserta keluarga (bersama seorang adik dan ibu) pindah ke 
sebuah
daerah terpencil di wilayah Jawa Barat, tepatnya di daerah Pelabuhan Ratu,
Kabupaten Sukabumi. Rumah yang kami tempati terletak di tepi pantai Cipawenang,
hanya sekitar 30 meter dari laut, tepat di daerah wisata Karang Hawu.

Sejak tinggal di Pelabuhan Ratu, saya belajar mengaji pada
seorang guru mengaji yang seluruh murid memanggilnya AA Mbad sedangkan
orang-orang dewasa memanggilnya Pak Kyai. Ia adalah salah satu pemuka agama di
kampung kami.  Pada saat itu saya sama
sekali tidak mengenal berapa umurnya, pokoknya ia sudah berkeluarga dan tinggal
bersama istrinya dari pernikahannya yang keenam atau ketujuh kali dan dua orang
anak. Saya bersama anak-anak kampung tempat saya tinggal dan beberapa kampung
tetangga (umumnya dari Kampung Tonggoh –disebut tonggoh karena letaknya di atas
bukit) mengaji sejak Maghrib sampai Isya dan kemudian disambung lagi mengaji 
Subuh.
Kami mengikuti pengajian itu hampir setiap hari kecuali pada hari Jum’at karena
ada pengajian bagi Bapak-Bapak yang disebut Mingonan dan pada hari Minggu, yang
diliburkan karena hari Minggu adalah hari berniaga bagi penduduk sekitar yang
menggantungkan mata pencaharian salah satunya kepada sektor pariwisata di   
Pelabuhan Ratu. 

Ada salah satu ajaran guru mengaji AA Mbad -yang tetap lekat
di diri saya sampai sekarang. Di dalam pengajian anak-anak, Mingonan dan
khotbah-khotbah Jum’at, ia berulang kali menegaskan bahwa tidak ada manusia
yang bisa ke Bulan, apalagi mendarat di bulan. Menurutnya, untuk bisa mencapai
bulan dibutuhkan waktu 500 tahun dan tak ada usia manusia yang bisa mencapai
sebanyak itu. Apalagi, katanya, bulan terletak dekat dengan Matahari sehingga 
sebelum
sampai ke Bulan benda apapun akan hangus terbakar. Ia pun memperkuat
pendapatnya itu dengan sejumlah dalil Al-Qur’an dan Hadist. Saya sendiri lupa
apa dalil dan hadist yang ia kemukakan apalagi usia saya saat itu masih kecil.
Menurutnya, orang yang mempercayai dan meyakini adanya pencapaian manusia di
bulan dan pendaratan manusia di bulan adalah orang-orang Kufur, Fasik, Kafir
dan Sesat.Dan orang-orang seperti itu adalah orang-orang yang telah melampaui
kekuasan Allah SWT yang tempatnya otomatis di Neraka. 

Menurutnya, berita tentang pendaratan manusia di bulan
adalah cerita yang sengaja dikarang-karang oleh orang-orang Komunis (waktu itu
Uni Soviet) dan Amerika Serikat untuk menyesatkan umat Islam di dunia. Foto-foto
dan rekaman video tersebut adalah rekayasa mereka yang sebenarnya bukan dibuat
di bulan dan di ruang angkasa.

Saya pernah mempertanyakan hal itu kepada ibu saya, namun
tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Baru kepada ayah saya, saya
mendapatkan jawaban yang memuaskan dan membelikan buku-buku pendukung.
Pasalnya, apa yang dikemukakan oleh AA Mbad bertentangan dengan apa yang saya
pelajari di sekolah waktu itu dan juga buku-buku yang dibelikan oleh ayah saya.
Oh iya, dan salah satu ajaran AA Mbad yang tidak saya lupa di dalam setiap
khotbah Jumat ia tidak pernah menggunakan bahasa Indonesia, selalu
uraian-uraian dalam bahasa Arab yang saya pribadi dan jemaah-jemaah lain tidak
mengerti. Katanya sih biar lebih afdol dalam melaksanakan Sholat 
Jumat.Akibatnya,
para jemaah hanya termanggut-manggut sambil mengantuk karena untuk menyimak pun
kami tidak mengerti.

Bahkan, ia juga pernah mengharamkan orang-orang Islam untuk
belajar bahasa Inggris dan mengharuskan mereka mengutamakan belajar Bahasa Arab
terlebih dahulu. Ia pun  mengharamkan pemakaian radio, televisi dan
sejumlah produk-produk teknologi lainnya.

Ketika saya kelas 2 SMP, AA Mbad pindah dari kampung kami
karena kampung kami kedatangan seorang pemuka agama lain yang juga menjadi
Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) di wilayah Cisolok. Kepala KUA tersebut datang
ketika saya duduk di kelas 1 SMP dan kedua pemuka agama selama setahun kerap
saling bergantian mengisi pengajian anak-anak, orang dewasa dan Khotbah Jumat. 

Kepala KUA memberikan pola pengajaran yang berbeda dengan AA
Mbad. Misalnya di dalam setiap khotbah Jumat Kepala KUA –yang saya lupa
namanya- selalu memberikan uraian dalam bahasa Indonesia dengan mengambil topik
tak melulu persoalan agama, melainkan soal kehidupan dan isu-isu terkini. Dan
kepala KUA adalah orang yang mempercayai adanya pendaratan manusia di bulan.
Pada awalnya, orang-orang kampung kami dan kampung tetangga sempat memusuhi 
Kepala
KUA yang mereka anggap pembaharu dan berasal dari Kelompok Muhammadiyah. Tapi
lama-kelamaan hal itu mencair sampai akhirnya AA Mbad pindah ke kampung 
halamannya
yang jaraknya sekitar 40 kilometer dari kampung kami. 



Eka Zulkarnain


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke