http://www.antara.co.id/arc/2008/9/13/kepercayaan-dunia-pada-indonesia-membaik/


*Kepercayaan Dunia pada Indonesia Membaik*


Jakarta (ANTARA News) - Kepercayaan dunia pada Indonesia membaik ditandai
dengan banyaknya "buyers" Eropa dan Asia pada "Indonesia Tourism and Travel
Fair 2008" di Jakarta Convention Center (JCC) tanggal 11-14 September 2008,
demikian Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu di Mataram, Sabtu.

"Itu berarti kemajuan sektor pariwisata, perdagangan dan perindustrian di
Indonesia semakin baik, termasuk Bali dan Nusa Tenggara Barat," kata Mari.

Mendag mengungkapkan, "buyer" berbagai negara yang menghadiri ITTF itu akan
menjadi penyambung lidah Indonesia untuk menggambarkan situasi yang makin
kondusif di Indonesia dari bidang pariwisata, perdagangan sampai sektor
lainnya.

ITTF dihadiri 85 buyers dari negara Asia seperti Jepang, Taiwan, Korea,
Cina, Taiwan, India, Malaysia dan Singapura dan 21 negara Eropa seperti
Jerman, Polandia, Hungaria, Austria serta 3 buyers dari Australia.

Sementara peserta ITTF mencapai 131 peserta dari 26 provinsi, terdiri dari
30 peserta dari pemda dan dinas pariwisata, 19 dari perhotelan, 17 dari biro
perjalanan wisata, 12 perwakilan asosiasi, 30 swasta, delapan perguruan
tinggi dan 15 media.

Peserta dari pemda dan dinas parisata peserta ITTF berasal dari 10 destinasi
MICE unggulan tanah air yakni Jakarta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Batam,
Medan, Makassar, Manado, Bukittingi dan Semarang.

Mendag mengajak berbagai komponen masyarakat Indonesia untuk memelihara
kenyamanan dan kedamaian wilayah sehingga menunjang kemajuan sektor
pariwisata yang akhirnya berpengaruh pada sektor perdagangan dan sektor
lainnya.

Mendag juga menginformasikan, Amerika Serikat telah mencabut peringatan
bepergian ke Bali dan sejumlah daerah lain Indonesia.

"Itu berarti kepercayaan Amerika terhadap Indonesia kembali membaik dan akan
sangat berpengaruh pada kemajuan perekonomian kita," ujar Pangestu.

Tapi, Australia hingga kini belum mencabut peringatan tersebut yang tetap
meminta warganya untuk menunda kunjungan yang tidak penting ke Indonesia.
Anjuran itu berlaku sejak Bom Bali Oktober 2002.

Indikator "travel warning" didasarkan pada penilaian terhadap serangkaian
informasi dari kedutaan besar, komisi tinggi dan konsulat Australia tentang
kondisi keamanan di Indonesia.

Rekomendasi pelarangan ini juga diperoleh dari laporan intelijen, khususnya
informasi tentang perkiraan ancaman yang diberikan badan intelejen Australia
serta hasil konsultasi dengan pemerintah AS, Inggris, Kanada dan Selandia
Baru yang juga mengeluarkan peringatan serupa.

Khusus Australia, penghapusan "travel advisory" itu makin sulit menyusul
peristiwa Bom Bali II pada 1 Oktober 2004 yang menewaskan sedikitnya 22
orang. (*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke