http://www.presidensby.info/index.php/fokus/2008/09/19/3495.html

*Seminar Nasional di Seskoad Bandung
Enam Respon Strategis untuk Mempertahankan Kedaulatan*



Bandung: Dalam Undang Undang Dasar 1945 pasal 30 disebutkan bahwa untuk
mempertahankan kedaulatan negara, TNI dan Polri adalah kekuatan utama,
sedangkan rakyat sebagai kekuatan pendukung. *Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono* dalam pidato kuncinya pada Seminar Nasional Pertahanan Negara RI
Menghadapi Abad ke-21 di Markas Besar Sekolah Staf dan Komando (Seskoad),
Jumat (19/9) sore mengedepankan sejumlah skenario untuk menjadi bahan
perenungan, jika skenario itu menjadi kenyataan di masa depan.

"Yang mungkin menjadi ancaman bagi kedaulatan negara kita adalah tiba-tiba
kekuatan asing terlibat dalam gerakan separatisme di negeri ini. Skenario
lain adalah ada sengketa teritorial yang berkaitan dengan permasalahan
sumber daya alam, misalnya energi," kata Presiden SBY. "Ada juga skenario
yang kita pikirkan ialah adanya tekanan asing yang disertai kekuatan militer
mereka untuk memaksakan kehendaknya yang berkaitan dengan sumber daya alam.
Tentu saja skenario ini bisa diperbanyak," lanjutnya.

Menghadapi skenario seperti itu, Presiden SBY menekankan enam respon
strategis kita sebagai negara untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia.
"Pertama, kita tentu harus memilih opsi ketika ancaman itu datang. Opsi
tersebut pada prinsipnya ada dua, yaitu memilih cara diplomasi atau memilih
instrumen meliter. Kedua, ada situasi politik yang mesti dipertimbangkan.
Tidak bisa serta merta seorang Panglima TNI menyatakan perang. Saya pun
sebagai Presiden ada mekanismenya. Presiden ketika menyatakan perang harus
mendapat persetujuan DPR," SBY menjelaskan.

"Ketiga, sekali memilih opsi perang kita harus mencermati anggaran dan
logistik perang untuk membiayai perang. Keempat, bagaimana dengan kekuatan
pertahanan kita. Sudah siapkah menghadapi kondisi perang. Jangan salah
hitung. Kadang salah tujuan, salah sarana dan sebagainya," kata Presiden
SBY. "Kelima, bagaimana dukungan rakyat. Emosi dan siapkan sebuah bangsa
untuk berperang. Amerika kalah di Vietnam karena di akhir perang, rakyat
tidak lagi mendukung. Keenam, bagaimana dunia melihat konflik. Harus dilihat
apakah kita memiliki kesepakatan resolusi konflik dengan negara yang kita
ajak perang," kata Presiden SBY.

Dari skenario yang bisa terjadi dan bagaimana kita merespon, Presiden SBY
memberikan delapan anjuran. "Pertama hendaklah mengikuti kecenderungan
perkembangan dunia dan kemungkinan terjadinya konflik di abad 21. Buat
perkiraan ancaman," terang SBY. Kedua, lakukan updating terhadap kebijakan
dan strategi pertahanan. "Jangan keliru menggunakan doktrin, manual dan
juklak, karena corak perang terus berubah dari masa ke masa," tambahnya.

"Ketiga, mari kita menyiagakan militer kita. Keempat, perang makin kompleks.
Perang tidak lagi selalu simetris atau konvensional, kita harus siap.
Teknologi juga ada batasnya. Kelima, kembali pada level politik pengambil
keputusan perang adalah Presiden dan disetujui DPR. Keenam, perang itu
mahal. Bila memang ingin perang ada harus ada alokasi anggaran," SBY
menerangkan. Ketujuh adalah kemandirian. Presiden SBY tidak ingin Indonesia
masih mengimpor amuniasi, bukan hanya memalukan tapi juga berbahaya.
Kedelapan, Presiden SBY menganjurkan untuk memiliki kemampuan strategic
analisis. (osa)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke