Penolakan RUU Pornografi Dilatarbelakangi Islamophobia 
By Republika Contributor
Senin, 22 September 2008 pukul 11:02:00 
MEDAN
-- Gerakan sekularisasi dan Islamophobia atau ketakutan terhadap Islam
diduga melatarbelakangi aksi penolakan RUU Pornografi dan Pornoaksi
yang akan disahkan DPR.

Semua gerakan itu menghendaki agar
Indonesia menjadi negara sekuler dan jauh dari norma agama, kata
Direktur Pusat Kajian Konstitusi, Hukum dan HAM (Puskohham), Drs.
Ansari Yamamah, MA kepada ANTARA di Medan, Senin.

Menurut Ansari
Yamamah , penolakan terhadap RUU Pornografi lebih didominasi pengaruh
kelompok yang mengalami Islamophobia atau ketakutan terhadap
pemberlakuan ajaran Islam.

Kelompok tersebut tidak ingin
Indonesia yang menganut azas Ketuhanan Yang Maha Esa terus dikenal
sebagai negara beragama. Kelompok itu "mengkambinghitamkan" kebebasan
berekspresi sebagai "alat" untuk menolak RUU yang membatasi praktik
yang melanggar susila tersebut.

Indonesia ingin dijadikan
sebagai negara sekuler yang memisahkan norma agama dan ketentuan dalam
berbangsa dan bermasyarakat, kata Ansari .

Padahal sebagai
bangsa timur Indonesia dikenal dan dihormati dunia Internasional karena
memiliki kriteria sebagai negara beragama, kata Dosen IAIN Sumut itu.

Ia
menambahkan, pemberlakuan UU Pornografi jika disahkan DPR nantinya
diyakini tidak akan mengurangi ketertarikan turis terhadap wisata di
Indonesia, sebagaimana yang dikhawatirkan sebagian warga Bali.

Jika
UU Pornografi diberlakukan, Pemda Bali dapat menyikapinya dengan
membuat peraturan daerah (perda) dengan membatasi atau melokalisasi
area berbikini.

Kebijakan tersebut terbukti efektif sebagaimana
diberlakukan Malaysia dan beberapa negara di Timur Tengah seperti Sudan
dan Syria. Bahkan, kata Ansari, Belanda yang merupakan negara "sekuler
sejati" juga membatasi praktik pornografi dengan melarang rakyatnya
untuk telanjang di depan umum.

Warga hanya boleh telanjang atau
memakai pakaian bikini di tempat tertentu seperti di Pantai
Scheveningen di Kota Den Haag, kata alumni Leiden University Belanda
itu. (ant/ah)


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke