Dear all; Alhamdulillah! Akhirnya 22 September 2008 Laskar Pelangi the movie ditayangkan di layar lebar Studio One Planet Holiwud untuk undangan terbatas, yakni para jurnalis dalam dan luar negeri ditambah para pendukung produksi film ini. Tampaknya semua puas! Alhamdulillah!
Setelah pemutaran film tersebut, diadakan pertemuan dengan pers di kafe, masih di lingkungan Planet Holiwud. Yang tampil sebagai pembicara pertama adalah Din Syamsuddin, ketua umum Muhammadiyah, yang datang bersama isteri menonton siang hari itu. Ya, aku sendiri yang baru hari itu, dan aku puas. Din menyatakan pujian yang begitu tinggi untuk film ini yang "menggambarkan kehidupan SD Muhammadiyah, film yang membawa pesan penting bagi bangsa kita" karenanya perlu ditonton oleh seluruh lapisan masyarakat kita, termasuk oleh para pemimpinnya. Dan secara khusus kepada semua warga Muhammadiyah Din menyerukan agar menyempatkan diri menonton film ini. Juga ditambahkan, bahwa mutu artistik film ini ini pantas untuk dijagokan di berbagai festival film di mancanegara untuk mengharumkan nama bangsa kita yang "masih banyak menanggung beban persoalan berat" sekarang ini. Jadi, dalam bahasa penelaah seni, film ini dipujikan sebagai karya seni "engage" yang berhasil mencapai mutu artistik tinggi. Dan aku sependapat dalam hal ini. Juga, apa yang aku harapkan tampil, yakni momen-momen dramatik itu, tampkil dengan keseriusan yang memukau, bahkan berhasil menyentuh perasaanku (touching), selain juga keriangan hidup masa kanak-kanak berdampingan dengan kepahitan hidup akibat beban ekonomi justeru di sebuah pulu yang tergolong kaya raya sumber alamnya! Ada adegan yang aku cemaskan sebelum menyaksikan film ini, yaitu adegan percintaan antara Ikal dan A Ling. Aku khawatir kalau adegan itu ditampilkan secara klise atau bahkan vulger, tapi Alhamdulillah bagian ini ditampilkan dengan puitis sekali, sehingga membangkitkan nostalgia indah masa remaja kita saat pertama tersentuh rasa cinta yang erlotis itu. Puisi indah ini pun diwarnai dengan keriangan dan kelucuan masa remaja yang sungguh bernuansa naivitas tapi sekali gus murni itu... amboi! Adegan cerdas tangkas pun digarap menuju klimaxnya yang menyentuh perasaan kita! Ya, aku sudah membaca skenarionya, juga bukunya, maka aku menyangka adegan ini tidak adan membuat aku terlibat, bukan? Tapi nyatanya Sutradara, kameraman dan editornya luar biasa: mereka mampu menjebakku untuk ikut dan larut ke dalam peristiwa yang digiring ke arah klimax kemenangan Lintang atas Juri! Memang, seni pada dasarnya bukanlah hanya masalah "what" dan "who" tapi yang terpenting adalah "how"-nya: bagaimana sutradara, editor, kameraman menyajikan peristiwa itu! Kesuksesan segmen percintaan Ikal dan A ling juga sama halnya, yakni kesuksesan "how" ini.Itulah sebabnya aku menyatakan puas setelah menyaksikan film ini untuk pertama kalinya. Termasuk adegan-adegan yang aku ambil bagian di dalamnya -- Alhamdulillah! Petang nanti, 23 September akan ada Gala Primer untuk undangan yang lebih luas, dan pada 24 September akan mengundang kenalan dan kluarga para pendukung film ini. Baru pada 25 September film ini dibuka untuk publik luas di 75 layar lebar yang bertebaran di berbagai kota di negeri kita, yaitu jaringan bioskop "21," jadi bukan hanya di Jakarta saja. Kami sudah berusaha, dan masih terus berikhtiar untuk mensukseskan film ini, maka kami pun berdoa kehadirat-Nya agar mendapatkan Hidayah-Nya. Amien! Ikra.- ======

