ga amerika, ga enteknya, licik & culasnya mirip :)
Mitos Pers Bebas
di Mata Olga Ivanova
Oleh Amran Nasution *)
Bentrok Rusia dengan Georgia membuka mata bahwa
sesungguhnya pers Amerika memihak. Mereka menyerang Rusia, sekaligus
menyembunyikan dosa Georgia. Dulu mereka dukung penyerbuan Iraq dengan dalih
palsu. Olga Ivanova terlalu naïf. Di matanya, pers Amerika adalah ideal.
Wartawati Rusia yang kritis terhadap pemerintahnya sendiri itu berpendapat
prinsip pers bebas Amerika menjamin akses kepada sumber-sumber
independen.
Wartawannya tak memihak, hanya menghidangkan fakta. Adalah
pembaca yang membuat konklusi. Di mata Olga dan banyak teman-temannya wartawan
di Rusia, pers Amerika menjadi ikon jurnalisme berkualitas, bebas, dan
profesional.
Sampai 7 Agustus lalu, ketika pasukan Georgia meyerang
negeri kecil South Ossetia, menyebabkan kerusakan dan korban tak sedikit. Lalu
tentara Rusia melibatkan diri dalam konflik. Baru mata Olga Ivanova terbelalak.
Saya terlambat memahami bahwa jurnalisme Watergate sudah berlalu.
Olga sudah setahun di Amerika. Sebentar lagi ia pulang ke negerinya. Kandidat
master dari Duquesne University di Pennsylvania itu bekerja nyambi di koran The
Washington Post. Dari sana ia menyaksikan bagaimana pers Amerika betul-betul
menjadi Humas pemerintah Georgia dalam konflik.
Pers Amerika mengambil
posisi itu karena pemerintah Georgia adalah teman Amerika, berhadapan dengan
Rusia, "musuh" Amerika. Ada semangat patriotisme di sini, bukan profesionalisme
sebagaimana mestinya.
Melalui foto, tulisan, suara, dan gambar, Rusia
dicitrakan sangat jahat, agresor, sementara Georgia adalah negeri demokratis
yang lemah dan kini menjadi korban kekejaman Rusia. Beberapa media malah
menyebutkan tentara Rusia yang menyerang dan merusak Tskhinvali, ibu kota South
Ossetia.
Malah koran sebesar Wall Street Journal menulis berbagai cerita
memojokkan Rusia, termasuk memuat mentah-mentah tulisan provokasi Presiden
Georgia Mikheil Saakashvili, menghasut masyarakat Amerika atau Eropa agar
membenci Rusia dan turun tangan menyelamatkan Georgia dari gilasan tank Rusia.
Nilai-nilai demokrasi sedang terancam, tulisnya.
Hanya sedikit pers yang memuat kronologi peristiwa yang sungguhnya bahwa semua
bermula dari serbuan tentara Georgia atas Tskhinvali, ibukota South
Ossetia. Bahwa tentara dan roket Georgia yang mencari gara-gara dengan
merusak kota dan membunuh banyak penduduk sipil, mayoritas warga negara Rusia.
Dengan alasan warganya terbunuh tentara Rusia melibatkan diri dalam
konflik.
Hanya segelintir pers menulis bahwa sebenarnya Presiden Mikheil Saakashvili
bukanlah kampiun demokrasi. Dia berkali-kali terbukti
menekan oposisi dan pers kritis di negerinya. Malah November 2007, keadaan
darurat ia berlakukan guna memadamkan demonstrasi yang menuduhnya terlibat
korupsi dan mendalangi pembunuhan.
Demonstran meminta Saakashvili
mengundurkan diri. Tapi polisi menumpas demonstrasi itu dengan keras. Ia tutup
stasiun televisi oposisi. Karenanya lembaga-lembaga HAM internasional menuduh
Saakashvili otoriter dan pelanggar HAM. Tapi ia adalah teman Presiden
Bush.
Tak aneh pers Rusia menuduh Saakashvili cuma antek. Dia dan
pemerintahnya adalah proyek Amerika untuk memperlemah Rusia. Sampai sekarang di
sana terdapat sekitar 1000 tentara Amerika melatih pasukan Georgia.
Persenjataannya pun disuplai Amerika.
Sebelumnya Amerika ngotot
memperjuangkan Georgia dan Ukraina, negeri pecahan Uni Soviet yang lain,
menjadi
anggota NATO, aliansi pertahanan Atlantik Utara. Upaya itu gagal karena ditolak
beberapa anggota, antara lain Perancis. Tampaknya penolakan itu untuk
mengakomodasikan keberatan Rusia.
Georgia bersama Rusia dulu adalah
bagian dari Uni Soviet. Ketika super-power itu ambruk di tahun 1991, menyusul
rubuhnya tembok Berlin, Rusia dan Georgia menjadi negara sendiri. Sebelum itu
South Ossetia, salah satu provinsi berbatasan dengan Rusia, memisahkan diri
dari
Georgia. Terjadi bentrok yang mengambil korban. Tapi South Ossetia tetap
berdiri
sendiri meski tak diakui dunia internasional, terutama berkat pengaruh negara
Barat.
Banyak warga South Ossetia kemudian pindah menjadi warga negara
Rusia. Abkhazia, provinsi Georgia yang lain, juga berbatasan dengan Rusia,
mengikuti jejak South Ossetia, memerdekakan diri. Hubungan Georgia dengan dua
bekas provinsinya itu menjadi tegang.
Mikheil Saakashvili menjadi
Presiden pada 2004, dengan program menggabungkan kembali dua provinsinya yang
membelot. Itu memperuncing keadaan. Dengan dukungan Barat, Saakashvili menuduh
Rusia berada di balik pembelotan kedua provinsinya. Begitulah sampai terjadi
penyerangan South Ossetia oleh tentara Georgia, awal Agustus, yang menyebabkan
Rusia menyerbu Georgia.
Tak Lagi Percaya Pers Amerika
Mikhail
Gorbachev, 77 tahun, pemenang Nobel Perdamaian 1990, juga kecewa pada pers
Amerika. Presiden dan Sekjen Partai Komunis Uni Soviet terakhir itu berpendapat
Rusia sesungguhnya tak menginginkan perang.
Rusia terpaksa mengerahkan
kekuatan karena serangan yang diperintahkan Presiden Mikheil Saakashvili itu.
Dalam tulisan di The New York Times, 20 Agustus 2008, Gorbachev menyebutkan tak
mungkin Saakashvili berani berperang tanpa dukungan luar. Adalah jelas bahwa
Barat melatih dan mempersenjatai pasukan Georgia, menyebabkan kawasan itu
tertekan untuk menyelesaikan masalah dengan perang daripada damai.
Sudah
begitu, menurut Gorbachev, melalui pers Amerika, Rusia dipropagandakan sebagai
pihak yang memperburuk keadaan. "Liputan berita jauh dari fair dan berimbang,
terutama di hari-hari pertama krisis. Kota Tskhinvali terbakar, ribuan penduduk
mengungsi, sampai tentara Rusia datang menolong. Tapi Rusia malah dituduh
melakukan agresi dan liputan pers dipenuhi pernyataan tipuan dari pemimpin
Georgia," tulis Gorbachev.
Sayang, baru sekarang Gorbachev merasakan
bahwa pers bebas itu cuma mitos. Perestroika (reformasi) dan glasnost
(kebebasan) yang diperkenalkannya di pengujung 1980-an dan jelas diambilnya
dari Barat -- terbukti mendorong Uni Soviet pecah berkeping-keping. Memang
untuk
itu dia dipuja-puji oleh Barat, mendapat Nobel, menjadi Man of the Year, dan
semacamnya.
Dibanding Gorbachev maka Olga Ivanova lebih beruntung. Ia
cepat menyadari kekeliruannya memandang pers Amerika. Seperti ditulisnya tadi,
sikap memihak pers Amerika Serikat dalam konflik Georgia, menyadarkan generasi
muda Rusia yang selama ini menganggap Amerika adalah negeri kebenaran, bersih
dari korupsi, dan memiliki kebebasan informasi.
Banyak anak muda Rusia
seperti Olga pergi sekolah ke Amerika dan pulang ke Rusia dengan semangat
ingin membangun demokrasi. "Sekarang saya ragu apakah mereka masih percaya
laporan pers Amerika," tulis Olga.
Sebenarnya kalau saja Olga dan
kawannya segenerasi tak silau memandang Amerika Serikat, mereka akan tahu
betapa
culas pers Amerika dalam perang Iraq, perang melawan terror, kasus penjara
illegal Guantanamo, dan beberapa yang lain.
Menjelang penyerbuan Iraq
tahun 2003, pers Amerika menggebu-gebu menjadi terompet Presiden Bush untuk
meyakinkan rakyat Amerika dan masyarakat internasional bahwa Iraq berbahaya
karena menyimpan senjata pemusnah massal dan memiliki hubungan dengan teroris
Al-Qaeda. Seperti sama diketahui kemudian semuanya bohong dan rekayasa
intelijen.
Semua keculasan pers Amerika dalam perang Iraq telah ditelanjangi wartawan Greg
Mitchell di dalam buku So Wrong for So Long (Begitu Salah
untuk Begitu Lama) yang terbit beberapa bulan lalu. Bagaimana pers termasuk
yang terkemuka semacam CNN, The New York Times, The Washington Post ikut
menyebar-luaskan berita bohong demi kepentingan pemerintah
Bush.
Bagaimana wartawati terkenal Judith Miller menggebu-gebu
menulis berita headline tentang senjata pemusnah massal Iraq di The New York
Times, ternyata itu hanya isapan jempol demi kepentingan para politisi
neo-konservatif di sekeliling Presiden Bush. Bagaimana pers mengecilkan korban
tentara Amerika dan menutupi kekejaman mereka di Iraq.
Hal yang sama
terjadi di Indonesia ketika massa Front Pembela Islam (FPI) bentrok dengan
massa
AKKBB (Aliansi Kebebasan dan Kemerdekaan Beragama dan Berkeyakinan) di Monas
beberapa waktu lalu. Pers beramai-ramai menggebuk FPI dan menuduhnya pelaku
kekerasan nomor satu di Republik ini. Dalam kasus itu jelas pers
berpihak.
Kekerasan di Republik ini terjadi di mana-mana dan penyebabnya
bermacam-macam, mulai pertandingan sepakbola, pemilihan kepala daerah, sampai
penyusunan calon legislatif. Massa pendukung Gus Dur, misalnya, dulu menebangi
pohon ketika Gus Dur terancam dijatuhkan sebagai Presiden.
Kini mereka
merusak kantor-kantor PKB pimpinan Muhaimin Iskandar yang mengalahkan kelompok
Gus Dur di pengadilan. Tapi pers tak bersemangat menuduh mereka sebagai biang
kekerasan sebagaimana FPI. Begitulah pers Indonesia mengidolakan pers Amerika
Serikat. Maka di sini diperlukan Olga Ivanova. Maka seperti sudah terbukti
berkali-kali pers bebas itu memang cuma mitos. (suara-islam.com)
Amran
Nasution
* Direktur Institute for Policy Studies, Jakarta
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/