virus ini mampu meracuni jiwa & akal sehat manusia, WARNING ADULT MATERIAL!!!


Hati-Hati
terhadap Virus Liberalisme
 
Menteri Agama
Muhammad Maftuh Basyuni mengakui kualitas keimanan umat Muslim di tanah air
sedang menghadapi penggembosan dari dalam sendiri, sehingga perlu dihadapi
dengan serius. Perlawanan harus dilakukan dengan serius, kata Maftuh di
Kendari, Selasa (05/08). Kita pun mengakui, serangan terhadap Islam saat ini
sedang terus dilakukan. Pelakunya, diantaranya masih umat Islam sendiri. 
 
Menurut Maftuh,
dewasa ini ada orang Muslim yang belajar di negara tertentu berupaya
menunjukkan jati dirinya sebagai orang cerdik padai. Cara yang dilakukan oleh
yang bersangkutan adalah memberikan argumentasi yang seolah-olah rasional
terhadap hal-hal yang sudah menjadi kesepakatan para ulama. 
 
Ia mencontohkan ada
pendapat yang di luar kesepakatan itu berupa pelaksaan ibadah haji yang dapat
dilakukan setiap bulan. Padahal soal ibadah haji itu hanya dapat dilakukan
setahun sekali dan waktunya pun sudah ditentukan, antara 1 Syawal sampai 9
Zulhijah.
 
Contoh lain yang
disuarakan kelompok orang yang disebutnya sudah "keblinger "itu
adalah soal membolehkan adanya perkawinan sejenis. Menurut Menteri Agama,
pendapat tersebut jelas tak bisa diterima oleh penganut agama Islam kendati
mereka juga menjunjung Hak Azasi Manusia.
 
Pendapat menyimpang
ini sangat disayangkan berasal dari umat Islam sendiri, yang ketika kecil
belajar di pondok pesantren di kampung namun ketika di luar negeri ingin tampil
beda dengan membuat pernyataan menyimpang.
 
Orang semacam itu
juga ada dan pernah menduduki jabatan tinggi di salah satu instansi pemerintah,
kata Maftuh.
 
 
Sebuah Ulasan: Program Sarjana Bayaran
 
Apa yang dikatakan
oleh Menteri Agama, memang benar adanya. Saat ini banyak muncul beberapa orang
yang dianggap intelek dari kalangan Muslim tetapi membawa ajaran liberal atas
nama Islam. Seperti dikatakan Menag, rata-rata mereka didengungkan oleh
orang-orang yang telah dididik di luar negeri. 
 
Mengapa mereka
ketika mereka sudah belajar di luar negeri malah membuat pernyataan yang
menyimpang dengan ajaran Islam? Adakah pencucian otak telah bekerja di luar
negeri? Namun yang jelas, Barat mengerti betul bahwa saat ini Islam telah
menjadi ancaman bagi Barat, baik dari segi hosility (permusuhan) maupun dari
segi capability (kemampuan).
 
Dari segi hostility
sangat jelas bahwa Islam bertentangan dengan ideologi kapitalisme yang diemban
Barat. Bagaimana Islam tidak dikatakan sebagai musuh, ketika Islam sebagai
ideologi sangat bertolak belakang dengan ideologi kapitalisme? Seperti
misalnya, perbedaan yang sangat tajam dalam persoalan ekonomi. Di dalam Islam
tidak bisa barang milik umum dikuasai oleh seseorang atau sekelompok orang.
Bandingkan dengan pandangan Kapitalisme yang tidak mengenal pembagian
kepemilikan sehingga siapa yang punya uang, maka gunung pun dapat dimiliki. 
 
Saat ini, kesadaran
terhadap Islam semakin tinggi. Berarti tingkat persinggungan antara ideologi
Islam dengan Kapitalisme akan semakin terasa. Tak aneh bila Barat menganggap
Islam sebagai musuh baru. Untuk menanggulangi ini, perlu kiranya umat Islam 
dilunakkan
sehingga persinggungan Islam dengan Kapitalisme tidak terlalu kentara. 
 
Untuk melakukan hal
ini, Barat tidak perlu repot-repot terjun ke negeri-negeri Muslim mengajarkan
ajaran non Islam. Cukup dengan menyimpan para agen-agen mereka untuk membawakan
ajaran Islam yang telah disesuaikan dengan kepentingan mereka. Dari sini kita
dapat mengerti, mengapa banyak dari kalangan kaum Muslim sendiri malah
berfikiran liberal walaupun dipoles dengan nama Islam. Tentu saja bagi Barat
keberadaan para 'pemikir Islam ala Barat' ini sangat membantu untuk meredam
persinggungan Islam dengan Kapitalisme. Sebagian Muslim di Barat menyebut
mereka itu sebagai "para sarjana bayaran". [f/m/ant/syabab.com]


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke