http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/cermin_sikon_bangsa20080\
926
<http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/cermin_sikon_bangsa2008\
0926>  Sidang Muchdi dan Sidang FPI Cerminkan Sikon Bangsa
Radio Nederland Wereldomroep 26-09-2008
  Sidang Muchdi dan Sidang FPI Cerminkan Sikon Bangsa 
<http://download.omroep.nl/rnw/smac/cms/id_w_sidan_muchdi_20080926_44_1k\
Hz.mp3>


Kericuhan sidang terdakwa tokoh-tokoh Front Pembela Islam, FPI, Habib
Rizieq dan Munarman, akhirnya meledak menjadi perang lempar batu, antara
massa FPI dan Banser, di jalanan. Sebaliknya, sidang kasus Munir dengan
terdakwa Mayjen purnawirawan Muchdi Purwopranjono, berlangsung tertib.
Perbedaan itu mencerminkan konfigurasi politik yang tengah berubah.
Islam politik lagi naik daun, sementara elit militer lebih sibuk
berpartai-politik, ketimbang peduli atas kolega jenderal yang terancam
hukuman seumur hidup.

Sidang kasus pembunuhan Munir pekan ini mencatat kemajuan. Tiga sahabat
Munir, Usman  [FPI-Banser-Clash180.jpg] Hamid, Hendardi, dan Poengky
Indarti selaku saksi menunjuk, pembunuhan Munir merupakan konspirasi
Badan Intelejen Negara BIN mau pun Garuda. Para pegiat HAM di masa Orde
Baru memang diawasi. Hendardi, semasa memimpin PBHI (Perhimpunan Bantuan
Hukum dan HAM Indonesia), lama didekati Pollycarpus Budihari Priyanto,
mantan pilot yang sekarang terpidana peracun Munir.

Munir sendiri, dalam istilah Usman Hamid, insyaf bahwa dirinya adalah
"target operasi". Ada operasi vertikal yang diketahui seluruh jajaran
BIN, dan ada operasi horisontal yang anggaran dan mekanismenya dipimpin
deputy dan dapat melibatkan agen agen dari luar, yang disebut "jejaring
non-organik", seperti Pollycarpus.

Pukulan
Apa pun modusnya, demikian Usman Hamid, operasi itu harus diketahui
Kepala BIN. Maret 2005, TPF, yakni Tim Pencari Fakta bentukan Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono, memperoleh informasi tertulis dari seorang
petinggi BIN yang namanya dirahasiakan, mengenai skenario pembunuhan
Munir, yang beberapa rapatnya dihadiri para petinggi BIN, termasuk
Hendroprijono dan Muchdi Pr, mau pun dua petinggi Garuda, Indra Setiawan
dan Rohaini Aini. Tim Jaksa Penuntut Umum mengutip BAP (Berita Acara
Pemeriksaan) Usman Hamid:

Namun sidang Muchdi juga mencatat pukulan. Saksi kunci Budi Santoso,
yang sangat menyudutkan Muchdi, dalam suratnya tertanggal 13 September
menarik seluruh isi BAPnya. Ada dugaan kuat, mereka yang bernyanyi
seperti Budi Santoso dan Indra Setiawan, tidak hanya khawatir akan
keamanan mereka, tapi juga karena terlibat perencanaan pembunuhan Munir.

Berbeda dengan sidang Muchdi, sidang kasus serangan Front Pembela Islam
FPI di Monas 1 Juni lalu, seret dan sering ricuh.

  [FPI-Banser-bentrok240.jpg] Majelis Hakim berulangkali harus
memperingatkan massa FPI yang memadati ruangan. Di luar ruang, semangat
militansi hari demi hari menciptakan kegaduhan dan insiden. Habib
Rizieq, bos FPI, selalu disambut dengan seruan "Allahu Akbar" yang
disusul dengan pekik "Bubarkan Ahmadyah".

Pekan lalu, aktivis Aliansi Keberagaman AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk
Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) Nong Darol Mahmada diserang
beberapa terdakwa FPI. Dan pekan ini giliran Guntur Romli, juga dari
AKKBB, dipukuli. Kamis ini kerusuhan meledak di jalanan, sejumlah pemuda
FPI berperang batu dengan kelompok Banser, anak buah Gus Dur, yang
dikerahkan AKKBB. Polisi yang sudah cenderung cemas dan lamban, pun
masih direndahkan.

Simbol dan icon
Para pentolan FPI didakwa menghasut dan mengganggu ketertiban dengan
melakukan serangan 1 Juni di Monas. Namun mereka menyangkal dan menuduh
pihak AKKBB melakukan provokasi, melecehkan dan mengadudomba muslimin.

Kalau Habib Rizieq adalah semacam primus inter pares muslim radikal,
maka Munarman, mantan Direktur YLBHI (Yayasan Lembaga Hukum Indonesia),
adalah bintang yang tengah disiapkan menjadi iconnya FPI. Dengan
demikian, lengkaplah simbolisme politik kasus Monas dan kasus Munir.

Munir sudah menjadi simbol dan icon dari gerakan masyarakat sipil,
sekarang muncul Munarman. Keduanya adalah generasi yang lahir sekitar
tahun prahara nasional 1965, dibesarkan oleh, dan kemudian melawan Orde
Baru. Munir adalah seorang muslim radikal yang banting stir menjadi
pejuang HAM, sedangkan Munarman persis kebalikannya, dulu aktivis HAM,
sekarang muslim radikal.

Sidang Muchdi mencerminkan kemerosotan gengsi militer. Korps elitnya,
yakni Kopassus yang  [FPI-Banser-Clash-180.jpg] pernah dikomandoi
Muchdi, sejak Aceh damai tak banyak dibicarakan orang lagi. Munir secara
simbolis mewakili perjuangan masyarakat sipil yang kini menyadari
kemarginalan politik dan kelemahannya di akar sosial, sehingga banyak
aktivis LSM kini hijrah, masuk partai politik. Sama halnya dengan para
jenpur (jendral purnawirawan) bentukan Orde Baru seperti Muchdi memimpin
Partai Gerindra bersama Prabowo.

Menuju pemilu dan pilpres 2009, para jenpur itu pun tak tergugah untuk
peduli Muchdi dan memilih mengamankan posisi dan kepentingan mereka yang
dirongrong oleh gelombang reformasi dan demokrasi. Walhasil, hanya
kekuatan Islam politik yang merasa paling aman, bahkan tengah naik daun.
Ada yang beraspirasi membersihkan Islam di Indonesia dari abanganisme,
ada yang mau membahanakan sistim moralnya dengan memaksakan Undang
Undang Pornografi sebagai hadiah Lebaran.

Dan ada pula yang memilih bertumpu pada doktrinnya semata, dan tak
peduli martabat peradilan. Itu sebabnya, sidang pengadilan kasus Monas
ricuh, sedangkan sidang seorang jenderal yang didakwa merancang
pembunuhan, justru tertib.

Sekian laporan Aboeprijadi Santoso dari Jakarta.



Kata Kunci: FPI <http://www.ranesi.nl/articlesbytag?tag=FPI> , Habib
Rizieq <http://www.ranesi.nl/articlesbytag?tag=Habib+Rizieq> , Muchdi
Purwopranjono
<http://www.ranesi.nl/articlesbytag?tag=Muchdi+Purwopranjono> , Munarman
<http://www.ranesi.nl/articlesbytag?tag=Munarman> , Munir
<http://www.ranesi.nl/articlesbytag?tag=Munir>





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke