http://www.kompas.com/read/xml/2008/09/28/11491094/lepas.dari.ko-dependensi
Lepas dari Ko-Dependensi
Oleh : Kristi Poerwandari, Psikolog
APAKAH Anda terus memikirkan dan berusaha keras memperbaiki hidup seseorang
yang sering menyakiti Anda, merasa bertanggung jawab atas kesejahteraannya dan
terobsesi untuk membuatnya menjadi lebih baik? Apakah Anda mencari berbagai
alasan untuk membela dan terus mencintainya hingga menomorduakan kebahagiaan
dan kepentingan diri sendiri?
Bila demikian halnya, tampaknya Anda mengalami ko-dependensi. Istilah ini
jarang dibahas dalam teks ilmiah psikologi meski psikolog yang banyak menangani
kasus relasional akan sepakat betapa ko-dependensi banyak terjadi.
Karakteristik ko-dependensi
Istilah ko-dependensi muncul tahun 1979 (Beattie, 1990) di negara Barat ketika
praktisi kesehatan mental melihat adanya individu-individu yang hidupnya
menjadi tak terkendali dan tidak sehat karena mengembangkan pola
penyesuaian diri tertentu sebagai akibat kelekatan emosionalnya pada pencandu
obat-obatan atau alkohol. Sering mereka adalah pasangan atau anak dari
alkoholik. Dalam perkembangannya, istilah ini bermanfaat untuk menjelaskan
konteks yang jauh lebih luas daripada itu. Mungkin sederhananya menunjuk pada
individu-individu yang menampilkan penyesuaian diri yang tidak lagi sehat,
akibat ketergantungan emosionalnya pada seseorang lain yang bermasalah karena
tidak mampu atau menolak untuk bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Orang
lain itu bisa mengalami ketergantungan pada napza, alkohol, judi, seorang yang
charming tetapi menolak menafkahi keluarga, pelaku KDRT, atau pasangan yang
tidak pernah setia.
AM, 35 th, seorang istri yang sering dianiaya suami yang ternyata telah
memiliki anak remaja di luar nikah menulis surat sbb:
Bu, saya kesulitan melupakan dia. Saya ternyata benar-benar tergantung secara
psikis pada dia. Padahal saya sudah menyibukkan diri, tetapi kalau ada
kesempatan satu menit saja tidak melakukan apa-apa, saya pasti langsung ingat
dia. Rasanya perih.
Apa ini cinta? Mengapa saya terus memikirkannya dan ingin ia mampu bertanggung
jawab? Saya pikir ini bukan cinta. Karena setiap harinya saya selalu berusaha
menekan kemarahan dan kekecewaan saya pada dia. Bahkan saya sering mengumpat
agar ia mendapatkan azab dari Tuhan, tetapi saat itu pula saya berusaha menekan
kemarahan tersebut karena mendoakan orang lain agar mendapatkan kesengsaraan
adalah perbuatan dosa. Itulah yang sering menahan saya untuk tidak bersikap
agresif pada keadaan ini. Sebenarnya saya kasihan pada anaknya yang pasti juga
ditelantarkan olehnya. Nasibnya sama seperti saya dulu.
Bu, biasanya butuh waktu berapa lama untuk pulih dari kasus semacam ini? Saya
butuh pertolongan
.
Siapa yang dapat mengembangkan ko-dependensi?
Siapa pun dapat mengembangkan ko-dependensi, apalagi ketika kita jatuh cinta,
sangat terpukau dan kemudian mengidealisasi pasangan. Meski demikian, yang
lebih rentan mengembangkan ko-dependensi adalah ia yang mungkin dibesarkan
dalam keluarga atau lingkungan terdekat di mana orangtua tidak mampu memberikan
kasih sayang dan rasa aman. Malahan keadaan menuntut yang bersangkutan untuk
dewasa sebelum waktunya, mengubur rapat-rapat kebutuhannya akan perlindungan,
mengharuskannya mengambil alih tanggung jawab orangtua.
Seorang yang menampilkan ko-dependensi bisa saja seorang yang sangat
berprestasi dan berhasil dalam karier. Bayangkan seorang anak yang sejak balita
hingga remaja melihat kekacauan dalam keluarga: menyaksikan perilaku ayah yang
mabuk dan main perempuan, ibu yang kemudian sakit-sakitan dan menjadi pemarah,
dan ia mau tidak mau harus merawat adik-adiknya yang tak terurus. Individu
demikian mungkin berkembang menjadi orang yang tidak mengenal
kebutuhan-kebutuhannya sendiri, tidak pernah yakin bahwa ada yang
sungguh-sungguh mencintai. Untuk memperoleh penerimaan, ia malah lebih sibuk
mengurus orang lain, tetapi batinnya sendiri mungkin sangat kosong.
Pembelajaran kompleks di masa kanak terbawa hingga dewasa, membuatnya mudah
terjebak pada hubungan-hubungan yang tidak sehat. Ketika bertemu dengan
seseorang yang tak mampu bertanggung jawab atau senang menyakiti, ia akan
bernalar: pasanganku sebenarnya mencintaiku tetapi tidak mampu
menunjukkannya; ia
sebenarnya baik hanya sinis; atau kalau aku tinggalkan ia bisa bunuh diri.
Salah satu karakteristik ko-dependen adalah adanya dorongan untuk menjadi
penyelamat atau mengambil alih tanggung jawab. Dapat dimengerti bila umumnya
pasangan bukannya menjadi lebih baik, malah semakin taking for granted dan
seenaknya.
Keluar dari ko-dependensi
Untuk keluar dari ko-dependensi kita perlu meyakini beberapa butir berikut: (1)
untuk dapat mencintai orang lain secara sehat, kita wajib mencintai dan
mengurus diri sendiri dulu. Analogi paling baik adalah peringatan di atas
pesawat terbang: saat ada gangguan dan masker udara turun, kita tidak boleh
memakaikan masker itu kepada orang lain dulu, termasuk ke anak, melainkan harus
memakaikannya ke diri sendiri dulu. Bila tidak, semua pihak dapat telanjur
kehabisan oksigen dan tak tertolong. (2) Menetapkan prinsip-prinsip dasar yang
harus ada dan tidak boleh dilanggar dalam menjalin hubungan khusus. Misal,
prinsip saling menghormati; prinsip keterbukaan; prinsip tanggung jawab yang
setara. (3) Salah satu prinsip penting adalah: manusia dewasa akhirnya
bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Kita tidak perlu mengambil alih untuk
bertanggung jawab atas kebahagiaan dan kesejahteraan hidupnya. Kita juga tidak
perlu terobsesi mengubahnya karena perubahan
mendasar hanya dapat dilakukan atas kesadaran sendiri, bukan karena paksaan
dari luar.
Jadi, meskipun cinta setengah mati pada seseorang, akhirnya kita perlu
menetapkan waktu yang jelas dan sikap yang tegas agar tidak menghancurkan diri
sendiri dengan terjerat ko-dependensi. Akan ada masa-masa sulit di mana Anda
mungkin menangis setiap malam, tetapi itu menjadi proses penemuan diri dalam
dunia yang membentang luas. Meski banyak kekacauan di dunia ini, masih ada
orang-orang baik yang akan kita temui dan dengan mereka kita dapat menjalin
hubungan saling menghormati.
Sumber : Kompas Cetak
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/