*Lima Simfoni Karya Beethoven*

Sembilan simfoni karya Beethoven menjadi karya paling gemilang dan terkenal
dari sang komponis. Selain itu, karya-karya ini juga mempengaruhi banyak
komponis di jaman setelah Beethoven, sampai ke masa modern.


Simfoni No. 2 dalam D-Mayor, op. 36

Ludwig van Beethoven (1770-1827) membuat komposisi ini tahun 1801/02. Ia
juga memimpin sendiri pagelaran karya ini untuk pertama kali, yaitu tanggal
5 April 1803 di gedung pertunjukan yang bernama "Theater an der Wien" di
kota Wina, Austria. Walaupun secara resmi karya ini selesai tahun 1802,
kemungkinan besar segera sebelum penerbitannya, Beethoven mengadakan
perubahan lagi.

Simfoni No. 2 dan proses pembuatannya dianggap sebagai saksi penting kemelut
yang dihadapi Beethoven. Ia mulai membuat karya itu, saat sudah jelas bahwa
pendengarannya semakin berkurang. Selain itu diperkirakan, simfoni ini juga
memiliki kaitan dengan apa yang disebut "Heiligenstädter Testament", yang
ditulis Beethoven musim gugur 1802. "Heiligenstädter Testament" adalah surat
yang ditulis Beethoven saat berada di tempat permandian dan sumber air di
Heiligenstadt, untuk mendapatkan perawatan bagi Otosklerosis yang
dideritanya. Dalam surat itu Beethoven menuangkan keputusasaan akan
pendengarannya yang semakin terganggu. Tetapi saat surat itu ditulis,
Simfoni No. 2 sudah hampir selesai.

Meskipun ada kaitan dengan kesulitan yang dihadapinya, Simfoni No. 2 penuh
dengan pernyataan positif yang dituangkan dalam rangkaian nada. Sehingga
Beethoven kemungkinan besar tetap berharap akan sembuh. Hal itu juga
dikatakan sang komponis dalam surat kepada teman sekolahnya Franz Gerhard
Wegeler, yang ditulis saat mengerjakan komposisi itu: "Saya akan menggenggam
takdir di batang lehernya. Nasib pasti tidak akan pernah berhasil
menaklukkan saya."



Simfoni No. 3 dalam Es-Mayor, op. 55

Karya ini juga dikenal dengan nama "Eroica". Dimainkan untuk pertama kalinya
bagi masyarakat umum tanggal 15 Januari 1805. Tetapi setahun sebelumnya,
karya ini sudah dimainkan di istana bangsawan Lobkowitz yang kerap membiayai
Beethoven. Bagi kritikus di masanya, karya itu dari segi teknik dan formal
sangat rumit. Komposisi itu dianggap memiliki ide besar dan berani, tetapi
untuk masa itu Simfoni No. 3 terutama dianggap terlalu panjang. Hubungan
dengan Napoleon pertama-tama diberikan oleh Beethoven sendiri. Namun ia
kemudian melupakan ide itu dan judul sampingan karya ini hanya: "Simfonia
Eroica, ingatan untuk seorang tokoh besar".

Saat berusia muda, Ludwig van Beethoven adalah pendukung Revolusi Perancis
(1789-1799). Ia juga pengagum Napoleon Bonaparte, yang menyebarkan ide-ide
kebebasan melalui penetapan undang-undang dan perang di seluruh Eropa. Di
jaman itu Napoleon kerap dibanding-bandingkan dengan tokoh Prometheus dalam
mitologi Yunani, yang separuh dewa.

Menurut mitologi Yunani, Prometheus mencuri api yang dimiliki dewa-dewi, dan
memberikannya kepada manusia. Dalam cerita ini api menjadi simbol akal budi.
Dengan hadiahnya itu, manusia menjadi sempurna dan bebas. Sehingga di jaman
"Aufklärung" (Inggris: Enlightment) atau Pencerahan di Eropa Barat, yaitu
abad 17 dan 18, Prometheus dipandang sebagai pahlawan.



Simfoni No. 5 dalam C-Minor, op.67

Ludwig van Beethoven sudah mulai menulis komposisi ini tahun 1800. Tetapi
penyelesaian sepenuhnya baru dilakukan dari bulan April 1807 sampai awal
tahun 1808.

Komposisi ini adalah salah satu simfoni paling terkenal karya Beethoven, dan
salah satu karya musik klasik yang paling populer. Simfoni No. 5 juga
dikenal dengan nama "Simfoni Takdir". Tetapi nama ini tidak diberikan sang
komponis, melainkan Anton Schindler yang pertama kali menulis biografi
Beethoven, sehingga sekarang kebanyakan tidak digunakan lagi.

Dalam interpretasi karya Beethoven yang berlangsung sampai abad ke 20,
Simfoni No. 5 dianggap sebagai cerita tentang kekalahan dan kemenangan,
tentang pertarungan nasib manusia yang berlangsung seumur hidup, juga
tentang penderitaan dan pembebasan dari kesengsaraan, yang dituangkan dalam
musik. Seperti halnya Simfoni No. 9 yang berakhir dengan "Ode an die
Freude", Simfoni No. 5 juga memiliki ide dasar "per aspera ad astra", atau
melalui kegelapan malam menuju cahaya, yang maknanya: melalui kesulitan
untuk mencapai kebahagiaan. Itu dituangkan dalam penggunaan tangga nada
c-minor dan c-mayor, yang menjadi dasar pemikiran kebudayaan Eropa.

Walaupun pemahaman simfoni karya Beethoven ini sekarang sudah agak berubah,
Simfoni No. 5, seperti halnya No. 3 dan No. 9 berpengaruh besar bagi karya
klasik abad 19. Misalnya dalam karya-karya Johannes Brahms, Pyotr Ilyich
Tchaikovsky, Anton Bruckner dan Gustav Mahler. Selain itu, karya Beethoven
ini juga mampu menarik perhatian baik penggemar musik klasik maupun orang
yang kurang memperhatikan jenis musik ini. Dan itu bukan hanya karena motif
awalnya, yang memiliki kekuatan ritme besar melalui permainan semua alat
musik gesek, yang melantunkan melodi yang sama atau unisono.



Simfoni No. 6 dalam F-Mayor, op. 68

Simfoni No. 6 atau juga dikenal sebagai "Pastorale" selesai komposisinya
tahun 1807 dan 1808. Pada saat bersamaan Beethoven juga membuat Simfoni No.
5. Kabarnya Simfoni No. 6 dibuat di daerah bernama Nußdorf dan Grinzing yang
dulu menjadi daerah pinggiran kota Wina. Di antara kedua daerah itu mengalir
sungai Schreiberbach. Menurut penulis biografi Beethoven, Anton Schindler di
sinilah tempat sang komponis menulis bagian kedua Simfoni No. 6 yang
berjudul "Szene am Bach" atau adegan di tepi sungai. Tetapi menurut peneliti
Beethoven, Barry Cooper, bagian kedua itu dibuat di daerah Dornbach. Dan ini
dapat dibuktikan melalui sejumlah catatan Beethoven.

Simfoni No. 5 dan 6 dipertunjukkan pertama kali dalam konser selama empat
jam tanggal 22 Desember 1808, di bawah pimpinan Beethoven sendiri. Konser
itu diadakan di gedung pertunjukan "Theater an der Wien". Beehoven
mempersembahkan Simfoni No. 6 bagi bangsawan Franz Joseph von Lobkowitz dan
bangsawan dari Rusia Rasumovskij.

Dasar karyanya ini, yang kemudian mempengaruhi komponis lainnya, adalah
kesan-kesan yang didapat seorang penduduk kota yang pergi ke daerah pedesaan
dan melihat alam. Pada partiturnya Beethoven menambahkan keterangan: karya
ini lebih berupa tampilan perasaan dan bukan penggambaran keadaan. Namun
demikian, dengan sejumlah instrumen sang komponis meniru suara
burung-burung, langkah pengelana, suara air yang bergemericik, juga suara
guntur dan badai.

Bagian satu hingga lima dalam Simfoni No. 6 masing-masing mempunyai judul
yang menunjukkan suasana yang harus ditimbulkan jika musik dimainkan. Bagian
satu berjudul: bangkitnya perasaan riang saat tiba di daerah pedesaan.
Bagian kedua: adegan di tepi sungai. Yang ketiga: pertemuan penduduk desa
yang gembira. Judul bagian keempat: guntur dan badai, dan yang terakhir:
nyanyian penggembala, perasaan senang dan bersyukur setelah badai berlalu.



Simfoni No. 9 dalam D-Minor, op. 125

Karya Ludwig van Beethoven ini adalah simfoni terakhir yang selesai dibuat.
Diperdengarkan untuk pertama kalinya kepada masyarakat umum tanggal 7 Mei
1824 di gedung pertunjukan Kärntnertortheater. Karya ini mempengaruhi
seluruh musik di masa Romantik (abad ke-19) hingga jaman modern. Selain itu
komposisi Beethoven ini juga menjadi karya puncak dari seluruh simfoni. Ini
juga karya musik klasik yang paling terkenal di seluruh dunia.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah simfoni, karya ini memerlukan solis dan
paduan suara yang bernyanyi di bagian akhir komposisi. Sebagai kata-katanya
Beethoven memilih puisi karya Friedrich Schiller, "An die Freude", yang
dimulai dengan kalimat terkenal "Freude, schöner Götterfunken", yang
berarti: kesenangan, cahaya ilahi yang indah. Melodinya dikenal di Indonesia
melalui lagu berjudul "Song of Joy". Tahun 1972 tema utama bagian terakhir
Simfoni No. 9 menjadi Himne Eropa, dan tahun 1985 melodi ini resmi menjadi
Himne Uni Eropa. #b#

Puisi karya Friedrich Schiller "An die Freude" untuk pertama kali
diterbitkan tahun 1786. Segera setelah itu Beethoven mulai mempertimbangkan
untuk menuangkan puisi itu ke dalam melodi. Saat itu Beethoven sudah tinggal
di Wina. Catatan pertama untuk Simfoni No. 9 mulai ditulis tahun 1815.
Sementara penyelesaian akhirnya baru tahun 1824. Bagian keempat atau yang
terakhir, yang memuat puisi Schiller diselesaikan Beethoven saat bertempat
tinggal di apartemen di jalan Ungargasse no. 5, di Wina. Oleh sebab itu Wina
dianggap tempat kelahiran Himne Eropa.



Marjory Linardy


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke