Harap mewaspadai buku/pamflet dari Harun Yahya. Dari argumentasi dan 
metodologi fikir Harun Yahya serta logika formal yang digunaknnya lebih 
cenderung kepada ritualisme teologi Yudeo-Kristiani daripada metodologi 
fikir Wahyu Qurani.

Wassalam,
A.M
----- Original Message ----- 
From: "si pitung" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Thursday, October 09, 2008 10:41 AM
Subject: [ppiindia] Darwinis Eropa Dilanda Panik


namanya jg professor, tetep aje manusia biasa, pasti bisa salah & ngawur. 
Cuma knp koq profesor keterlaluan ngawurnya, semacam profesor lokal di sini 
yg berkampanye legalisasi perkawinan sejenis hihi
emang bener apa kata pak kpala skolah di film laskar pelangi, siswa didik 
tdk harus dinilai berdasarkan angka2, melainkan dari hati. Angka2 bs dibeli, 
bahkan ijazah palsu aja mudah skali dicetak. Kualitas seorang anak didik 
tergantung pikiran & hatinya. Yah mudah2an anak2 didik yg hati & pikirannya 
bersih tsb tdk dikotori oleh pikiran profesor ala 'angka2' yg ngawur hehe
mending anak2 deh drpd profesor model bgitu :)


Hidayatullah.com--Di
seantero Eropa dan Amerika Serikat serangan tiba-tiba ribuan buku Atlas
Penciptaan karya Harun Yahya, yang membongkar kebohongan teori evolusi
yang merupakan akidah ateisme dan materialisme, terjadi satu-dua tahun
lalu. Meskipun begitu, hingga kini dampak kejiwaan dan kepanikannya
masih terasa. Harun Yahya, tokoh pegiat Penciptaan asal Turki itu pun
menjadi buah bibir media massaterkemuka Eropa hingga saat ini

Sebut saja Der Spiegel, majalah kondang asal Jerman, baru-baru ini 
menerbitkan wawancara dengan Harun Yahya berjudul "Alle Terroristen sind 
Darwinisten"
(Semua teroris adalah darwinis). Di Spiegel Online 22 September 2008
itu (www.spiegel.de), Harun Yahya berbincang di antaranya tentang
kaitan Darwinisme dan ideologi teroris, kebohongan teori evolusi, serta
perancangan cerdas.


Lonceng kematian Darwinisme

Di wawancara itu, wartawan Der Spiegel bertanya
kepada Harun Yahya apakah tahun depan ia akan turut merayakan hari
kelahiran ke-200 Charles Darwin dan peringatan ulang tahun ke-150
penerbitan bukunya "The Origin of Spesies". Jawab Harun Yahya:
"Itu akan menjadi perayaan keruntuhan Darwinisme. Orang akan heran,
bagaimana orang di seluruh dunia bisa mempercayai Darwinisme, bagaimana
mereka bertahun-tahun telah termakan oleh kebohongan. Bagaimana
ratusan, ribuan universitas dan profesor telah disesatkan..."
"En Belgique, le combat contre le créationnisme s'organise" (Serangan
balik melawan paham Penciptaan sedang diorganisir di Belgia), demikian
judul harian terkemuka Prancis, Le Monde, 7 Februari 2008. Laporan ini
merupakan cermin kegalauan evolusionis menghadapi tersebarnya keimanan
pada penciptaan di negeri itu, dan ditinggalkannya ateisme berkedok
teori evolusi.
Dilaporkan
di artikel itu, para pakar dari sejumlah besar universitas
menandatangani pernyataan bersama di penghujung tahun 2007. Pernyataan
bersama ini menyuarakan ancaman tersebarnya pemikiran penciptaan
menyusul penyebarluasan berjumlah besar buku Atlas Penciptaan, yang menolak 
teori evolusi Darwin,
secara gratis ke sekolah-sekolah dan universitas-universitas khususnya.
Sebuah wawancara di VRT menyingkap bahwa siswa Muslim secara khusus
semakin lantang menentang guru-guru biologi berkenaan dengan teori
asal-usul spesies.
Berbagai
program dirancang evolusionis untuk mengembalikan keyakinan masyarakat
kepada teori evolusi, terutama di hari lahir ke-200 Charles Darwin
nanti. Upaya-upaya seperti ini adalah isyarat utama kekalahan teori
evolusi.
Prancis belum pulih
Sedemikian besarnya dampak Atlas Penciptaan, sampai-sampai majalah terkenal 
Perancis Science Et Vie (Ilmu Pengetahuan dan Kehidupan) Desember 2007 
mengkhususkan sembilan halaman guna mengulas Atlas Penciptaan-nya
Harun Yahya dan dampaknya terhadap dunia, terutama Perancis. Majalah
tersebut dengan jelas menyingkap kekalahan teori evolusi dan dampak
kejiwaannya yang mengguncang evolusionis.
Di
ulasan majalah itu, Adeline Lecot, profesor ilmu hayati dan ilmu bumi
di sebuah perguruan tinggi di Paris, memaparkan pandangannya tentang
dampak Atlas Penciptaan terhadap teori evolusi. Dia berkata:
"... Penolakan jauh lebih tajam dibanding sebelumnya. Saya mendapati 5
orang penentang evolusi di kelas saya. Sebagian adalah mahasiswa
unggul. Mereka menguatkan jawaban-jawaban mereka dengan jauh lebih
berani, merujuk pada pembuktian-pembuktian yang dikemukakan Harun
Yahya, yang mereka temukan di internet."
Hal
serupa dilontarkan Annie Mamecier, pejabat penilik umum Kementrian
Pendidikan dan pejabat tinggi di Departemen Ilmu Hayati dan Ilmu Bumi:
"Beberapa hal kadangkala terjadi di mana siswa tingkat atas menulis
jawaban atas pertanyaan ujian tentang teori evolusi sebagaimana yang
telah diajarkan di sekolah, tapi juga menulis bahwa mereka tidak
sependapat dengan teori evolusi,"
 "Di
kelas, para siswa membuat presentasi tentang bahasan evolusi menurut
hasil buah pikir, lingkungan budaya-masyarakat dan keyakinan agama
mereka sendiri, dan jarang menurut isi bahasan yang diajarkan kepada
mereka", ujar Corinne Fortin, profesor ilmu hayati dan pengarang tesis
tentang pengajaran teori evolusi.
Demikianlah,
ilmu pengetahuan itu sendiri telah menggagalkan jebakan mereka yang
menginginkan orang kembali kepada ideologi-ideologi gelap ateis
materialis warisan dua abad lampau melalui penipuan "Abad Pencerahan"
yang bernama teori evolusi. Setiap kemajuan ilmiah selama 150 tahun
terakhir telah membantah pernyataan-pernyataan yang dikemukakan dalam
lingkungan keterbelakangan ilmu pengetahuan masa Darwin.

Tembok pertahanan runtuh

Banyak
ilmuwan sekarang mengakui ketidakabsahan teori evolusi, sehingga mereka
pun lalu berpaling kepada mengimani Allah setelah menyaksikan
bukti-bukti penciptaan, khususnya melalui Atlas Penciptaan 
(http://harunyahya.com/indo/buku/atlas/atlas_01.html)..
Di sisi lain ini pertanda jebolnya tembok pertahanan yang melindungi dusta 
teori evolusi, sebagaimana diakui oleh majalah Science Et Vie itu:
"En France,
aucune chance qu'émergent pareilles ... [oeuvres] pensait-on. Rien à
craindre d'un tel révisionnisme. L'héritage des Lumières et une longue
tradition laïque n'étaient-ils pas le plus solide des barrages ? Las !"
(Kita
berpikir mustahil karya seperti itu muncul di Perancis. Tidak perlu ada
ketakutan terhadap perubahan pemikiran mendasar seperti itu; Bukankah
warisan abad Pencerahan dan tradisi sekuler lama adalah tembok
bendungan yang merupakan pertahanan terkuat kita? Sayangnya, tidak!).
[wwn/ScienceEtVie/DerSpiegel/www.hidayatullah.com]




[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links



Kirim email ke