Sinyalemen KSAD Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo, dalam sambutannya 
pada acara tahlil dan doa mengenang gugurnya 7 Pahlawan Revolusi, tgl. 30 
September 2008 yll,
http://www.kompas.com/read/xml/2008/09/30/17324625/ksad.awas.komunis.bangkit.lagi

ternyata secara explisit telah diperkuat dan dipertegas oleh Bpk A. Umar 
Said, dalam tulisannya "Kesaktian Pancasila ataukah kesakitan Pancasila ?"
http://kontak.club.fr/index.htm

Dalam catatannya A. Umar Said mengatakan:
(Kutipan):
Bahwa banyak di antara simpatisan atau mantan anggota PKI mempunyai
sikap yang anti Orde Baru, anti-golongan militer pendukung Suharto,
anti-neo-liberalisme dan pro Bung Karno dan pro perubahan
fundamental dan besar-besaran adalah wajar, karena ini sudah menjadi
ciri PKI atau golongan kiri pada umumnya sejak lama. Jelaslah
kiranya bahwa pendirian para simpatisan PKI yang demikian ini adalah
sesuai atau sejiwa dengan pendapat dan aspirasi sebagian terbesar
rakyat kita.


(Kutipan):
Dengan perkataan lain, TNI kalau terus-menerus berada di bawah
pimpinan orang-orang yang sejiwa seperti Jenderal Agustadi maka akan
tetap merupakan musuh dari perubahan yang bisa mengantar negara dan
rakyat kita menuju masyarakat adil dan makmur, sesuai dengan gagasan-
gagasan besar Bung Karno. Kalau TNI tetap terus dibawa kearah yang
reaksioner dan selalu menentang segala yang menjadi aspirasi rakyat
banyak, maka akhirnya tidak bisa lain, yaitu : menjadi musuh rakyat !!!


Oleh karena itulah, pesan untuk mewaspadai "Bahaya Laten PKI", bukanlah 
suatu legenda atau propaganda Orde Baru, tetapi merupakan ancaman riel dari 
jaman ke jaman, khususnya dimasa sekarang ini dikala negara sedang menjalani 
masa transisi politik dan mengalami krisis ekonomi.

Ibarat, mantan pasien malaria ketika kondisi tubuhnya sedang melemah, maka 
virus malaria akan bangkit dan menyerangnya lagi.

Wassalam, yhg.
----------------



http://www.kompas.com/read/xml/2008/09/30/17324625/ksad.awas.komunis.bangkit.lagi

KSAD: Awas Komunis Bangkit Lagi!
Selasa, 30 September 2008 | 17:32 WIB

JAKARTA, SELASA -  Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Agustadi 
Sasongko Purnomo mengemukakan, upaya membangkitkan ideologi komunis yang 
diusung Partai Komunis Indonesia (PKI) 43 tahun silam, kini semakin nyata.

"Kita makin merasakan berbagai upaya sistematis untuk menghidupkan paham 
komunis di Indonesia," katanya, dalam sambutannya pada tahlil dan doa 
bersama mengenang wafatnya tujuh pahlawan revolusi di Monumen Pancasila 
Sakti Lubang Buaya, Jakarta, Selasa.

Kasad Agustadi mengatakan, berbagai upaya nyata dan sistematis untuk 
menghidupkan kembali paham komunis antara lain pemasangan gambar dan slogan 
komunis pada media tembok, kaos dan media lainnya.

Selain itu, tambah Agustadi, ada upaya sekelompok pihak dan golongan yang 
ingin menghambat dan menyimpangkan tujuan bangsa dan negara berdasarkan 
paham persatuan dan kesatuan berdasarkan Pancasila dalam kerangka Negara 
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Tidak itu saja, lanjut dia. Upaya-upaya memecah soliditas TNI Angkatan Darat 
khususnya, dan TNI sebagai 'musuh' kelompok PKI juga makin nyata, sistematis 
dan transparan.

"Upaya-upaya itu sangat sistematis dan transparan. Sehingga kita harus tetap 
mewaspadai segala upaya tersebut yang dilakukan simpatisan dan pengikut 
paham komunis," kata Kasad.

Karena itu, tanpa ingin mengungkap luka lama dan menyebarkan dendam , maka 
mua pihak harus dapat mewaspadai segala upaya yang sistematis tersebut 
dengan tetap memegang teguh dasar negara Pancasila,  asas persatuan dan 
kesatuan secara hati-hati, arif dan bijaksana, demikian Agustadi.

Acara tahlil dan doa bersama bagi tujuh pahlawan revolusi tersebut dipimpin 
KH Mahdum yang sehari-harinya adalah pimpinan Yayasan Uswatun Hasanah.

Selain dihadiri sejumlah pejabat TNI dari Angkatan Darat, Angkatan Laut dan 
Angkatan Udara , acara yang berlangsung sekitar satu jam itu dihadiri pula 
keluarga empat pahlawan revolusi yakni Jenderal (anumerta) Ahmad Yani, 
Letjen (anumerta) R Soeprapto, Mayjen (anumerta) DI Pandjaitan dan Lettu 
(anumerta) KS Tubun.

ABD
Sumber : Antara 


Kirim email ke